
Selamat Membaca
"Awakmu mbadok ae to Wil? ngunu ra tawan-tawan."
Kang Wildan tidak terganggu sama sekali dengan ocehan Markonah, dia tetap asik memakan cemilan yang di belikan Kang Akmal tadi, sambil sesekali menyesap kopi.
"Nang endi caljo ku?"
Kang Wildan langsung menoleh, "Caljo?"
"He em, Caljo-Calon bojo, jiahihihi.." Markonah tertawa geli sendiri
Kang Wildan malas meladeni lagi, hanya mendengus kasar. Baginya tidak ada faedahnya menanggapi Markonah. Tapi tunggu dulu, iya juga kemana perginya Kang Akmal?
Dengan membawa kopi serta cemilannya, Kang Wildan beranjak mencari Kang Akmal. Biasanya malam-malam seperti ini, sahabatnya itu sedang berada di atap.
"Mal.." Tidak ada sahutan dari Kang Akmal, namun ia bisa melihat sahabatnya itu sedang melamun yang entah memikirkan apa.
"Woy, Mal."
"Astaghfirullah." Kang Akmal terkejut mendengar sentakan dari Kang Wildan. "Mbok iyo seng apik lek nyelok." sambil mengelus dadanya.
Kang Wildan mendengus, "Awakmu ngelamun ae, di celuki ra nyaut-nyaut. Enek opo seh?"
Ia langsung teringat kejadian tadi di pintu keluar supermarket. Sebenarnya bukan kemauannya untuk berbicara secara gamblang kalau dirinya tidak bisa menuruti ucapan Ning Bahiyyah. Karena dirinya sangat menghormati dzuriyyah dari gurunya. Namun tadi dengan terpaksa, ia harus berbicara tegas.
Ia hanya menuruti kemauan hatinya, karena hatinya sudah terpaut dengan seseorang. Meskipun dirinya sendiri belum mendapat jawaban dari istikharahnya selama ini. Karena hatinya sudah terpaut pada seseorang, jadi ia takut jika nantinya jawaban yang diterima bukan dari Allah melainkan dari syaiton yang sengaja mengecohkannya.
Atau ia meminta bantuan saja untuk mengistikharahkannya? Iya benar, ia harus meminta seseorang untuk mengistikharahkannya saja. Ia akan meminta Abi Fikri atau Abi Fahri saja.
"Astaghfirullah Mal, ngopi sek ngopi sek. Ojo ngelamun ae to."
Ia lalu menyesap sedikit kopi milik sahabatnya itu. "Piye, piye?"
"Seng piye iki awakmu ilo, ngelamun ae, aku cerito ra mbok gatekne." ucap Kang Wildan kesal
Ia hanya terkekeh, "Emang cerito opo?"
"Kesel lambeku ape cerito neh."
Ia menggedikkan kedua bahunya, "Yowes."
Kang Wildan menghembuskan kasar, "Emang awakmu ora penasaran?"
"Gak." jawabnya acuh. Paling juga cerita gosip yang beredar hari ini. Karena ia tahu sahabatnya itu paling tahu dengan kabar terbaru dari pesantren, layaknya koran yang beritanya tiap hari ganti.
"Ck. padahal iki menyangkut awakmu lo Mal?"
"Hmm?"
"Bener awakmu mau di kongkon Ninge nembung?"
Ia tidak menunjukkan ekspresi apapun, hanya memasang wajah datar. "Nyapo laan?" ia berbalik tanya
"Pas aku neng ndalem mau, aku ora sengojo kerungu Ninge nangis ndek ngarepe Abah. Jare awakmu ora iso nembung Ninge perkoro awakmu wes ape nembung wong liyo."
"Hmm.."
"Terus aku kerungu pisan lek Abah nerimo ta'arufe Gus Salman."
Ia menghela nafasnya, "Alhamdulillah, barakallah."
"Emang bener a Mal? "
"Hmm.."
"Awakmu ape nyanyi to Mal? hamm hemm hamm hemm ae ket mau. Ah, mbuh lah kesel dewe aku. Kono lanjutne lek mu ngelamun." Kang Wildan berdiri pura-pura merajuk.
"Huss.. huss.." Sambil melambaikan tangannya seperti mengusir ayam, ia terkekeh pelan.
Suasana sepi, daun-daun di ranting berbunyi terkena hembusan angin. Beberapa orang masih terjaga, bertugas untuk patroli malam. Namun lain halnya dengan seorang perempuan yang baru saja keluar dari ndalem. Karena semalaman ia menemani Ning Bahiyyah tidur.
Semalam ia sudah siap untuk tidur, namun karena ada panggilan
dari ndalem, ia langsung bergegas menemui Ning Bahiyyah di dalam kamarnya.
Sungguh keadaan Ning nya sedang tidak baik-baik saja. Ini lebih parah dari yang lalu. Ning Bahiyyah sampai menangis tersedu-sedu hingga hampir tengah malam, sambil lalu bercerita apa yang terjadi.
"Hiks.. hiks.. opo aku ora pantes to Mbak karo Kang Akmal? Hiks.. Kang Akmal nolak nembung aku Mbak, terus Abah nerimo ta'arufe Gus Salman. Hiks.. aku emoh Mbak. Rasa sayang ora iso di pekso, hiks.." Ia hanya mengelus punggung Ningnya itu dengan lembut.
"Samian ngerti, Kang Akmal ape khitbah wong liyo Mbak, hiks.. beruntunge seng di khitbah."
Dalam wiridnya, ia teringat ucapan Ning Bahiyyah. Entah kenapa ada rasa sesak ketika mendengar seseorang yang sudah masuk ke dalam hatinya akan mengkhitbah orang lain.
Dalam hati, ia juga sempat bertanya, siapa perempuan beruntung itu? Jika saja perempuan itu adalah dirinya, betapa bahagianya hatinya.
Astaghfirullah, tidak benar, ini tidak benar, tidak boleh berandai-andai. Ia menggeleng-geleng kepalanya berusaha mengusir apa yang ada di pikirannya sambil berusaha untuk khusyuk berwirid lagi.
Tapi jika perempuan beruntung itu bukanlah dirinya, apa kabarnya hati. Tiba-tiba ada genangan di pelupuk matanya, sesak itu menyengat. Memikirkannya saja serasa ia tidak sanggup jika itu benar-benar terjadi.
Ning Bahiyyah saja sudah di tolak, lalu apa kabar dirinya? Sepertinya, wejangannya untuk Ning Bahiyyah sama saja untuk dirinya sendiri.
Meminta Kang Akmal lewat penciptanya.
Tapi tunggu dulu!! Apa jangan-jangan perempuan beruntung itu adalah Shahla?
Memikirkan Shahla, ia jadi teringat hadiah yang di berikan Kang Akmal untuk Shahla. Kalung emas putih yang berliontin huruf 'S', bukannya itu terlalu mewah untuk sekedar hadiah atau oleh-oleh?
Shahla spesial
Assalamualaikum, Mas Mu'adz hadir kembali
Alhamdulillah setelah sekian lama ndekem akhirnya keluar juga
Hanan Salman Firdausi
Mu'adzam Akmal Khadizul Shiddiq
Bahiyyah Khansa Ismail
Shahla Nadzarrin Ahmad
Ameera