MU'ADZ

MU'ADZ
DUA PULUH DUA



*Vote dulu nggeh!!


Selamat Membaca


Malam ini, semua orang seakan-akan berbondong untuk mengunjungi festival sholawat. Dengan di isi Habib Syekh, tidak heran suasana pesantren benar-benar sangat ramai. Sering kali para anggota kamtib, banser maupun polisi berseliweran.


Tidak hanya hiburan untuk santri, melainkan di buka untuk umum karena bertempat di lapangan pesantren yang berada di luar area pesantren. Tepat di depan panggung di kelilingi pagar besi, tempat khusus untuk untuk santri puteri dengan duduk lesehan. Lalu di belakangnya tempat khusus untuk santri putera, yang sama-sama di kelilingi pagar besi. Baru kemudian untuk pengunjung umum. Tentunya di setiap pembatas di kelilingi para anggota keamanan yang sibuk mondar-mandir.


Berjalan dengan Dek Khaliq, Nduk Khafa dan Zyela menuju ke ndalem. Sebenarnya ia baru mengetahui secara tatap muka puteri Ayah Iqbal, yang tak lain adik tiri dari Dek Khaliq, sebelum-sebelumnya cuma tahu kalau Dek Khaliq punya adik tiri perempuan.


Tiba-tiba Nduk Khafa di tengah-tengah antara dirinya dan Dek Khaliq. Dek Khaliq pun berjalan di depan, memandu Zyela. Nduk Khafa menggandengnya sambil bermanja. "Mas, engken Nduk angsal ndelok-ndelok nggeh?" tanyanya dengan kedua mata mengerjap-ngerjap, membuatnya ingin menguyel Nduk Khafa saat ini juga. Dan bisa di pastikan Nduk Khafa akan cemberut dan mengomel, namun menurutnya sangat menggemaskan.


"Tumben, biasane ae kaleh Aa'!!" sahut Dek Khaliq


"Mboten, Nduk lagi mode ngambek kaleh Aa'." Nduk Khafa semakin mengeratkan tangan di lengannya.


"Yakin, ngambek kaleh Aa' ? Padahal Aa' mbetokne seng di pingin Nduk loh!!" Ia hanya menggeleng dengan kelakuan Dek Khaliq yang pandai mengambil hati Bunda dan Nduk Khafa. Dek Khaliq selalu mengiming-iming sesuatu yang sangat di sukai, lama-kelamaan akhirnya luluh juga. Ck, dasar!!


"Nduk mboten tergoda, pokok e Nduk sek mode ngambek." ketus Nduk Khafa. "Mase angsal kan, engken ndelok-ndelok?" pandangan Nduk Khafa beralih padanya.


"Nduk e kaleh Aa' mawon nggeh? Mase ajenge manggihi Gus e Mase." jawabnya sambil mengembalikan gawai di sakunya. Baru saja Gus Nawwaf memberitahunya lewat chat kalau Beliau dan Kang Wildan sekarang ada di tempat ngopi.


"Aa' milu to Mas, mosok Aa' kon ngemong bocah-bocah, opo maleh di tambah Mbak Shahla." gerutu Dek Khaliq, ia hanya menyeringai melihat Dek Khaliq. Sebelum ia memisahkan diri, tak lupa mengelus puncak kepala Nduk Khafa, lebih tepatnya bukan mengelus tapi mengacak, alhasil kerudung Nduk Khafa jadi berantakan. Ia terkekeh dan segera kabur, sebelum Nduk Khafa mengomel.


**********


Tempat ngopi yang dimaksud Gus Nawwaf adalah tempat milik Abi. Masker yang tadi sempat ia pakai sudah ia masukkan ke kantong. Sampai di lokasi, ia menyapu pandangannya terlihat penuh dengan pengunjung sampai-sampai kursi yang disediakan sudah tidak ada lagi yang kosong. Sampai matanya menemukan lambaian tangan dari Kang Wildan, ia pun melangkah mendekat. Tidak hanya Gus Nawwaf dan Kang Wildan disana, ternyata ada dua orang lagi, yang ia ketahui itu temannya Gus Naawaf.


Tak lupa saling berjabat tangan satu per satu. "Sampun ningali Gus?" tanyanya sambil mendudukan diri di samping Kang Wildan.


"Urung Kang, mari iki bareng-bareng rono, ngentekne kopi disek." jawab Gus Nawwaf setelah menyeruput kopinya.


"Gak mesen?" tawar Kang Wildan


Ia menggeleng, perutnya sudah penuh, karena tadi menemani Abi yang menerima tamu di ndalem. Kurang lebih sudah dua gelas kopi yang ia minum. "Klempoken wetengku. Markonah ora mbok jak?"


"Wegah men ngejak. Tak kon nunggoni kamar ae, ben ra singklu kamare dewe."


"Iyo tambah singklu kamare sampeyan Kang, Kang." kekeh Gus Nawwaf


"Hehe, la timbang tumut kulo Gus. Kulo malah seng mumet."


"Oh enggeh Gus, Gus Salman pundi?" tanyanya pada Gus Nawwaf karena teringat kalau Gus Salman akan menghadiri Haul Mbah Yai Ibrahim.


"Gus Salman paling sek engko bengi tekane, sore mau ngechat sek lagek budal." Ia hanya mengangguk mendengar jawaban Gus Nawwaf.


"Ning Bahiyyah mawon sampun di tembung Gus, njenengan kapan Gus?" celetuk Kang Zen bercanda, salah satu teman Gus Nawwaf.


Kabar ta'aruf antara Ning Bahiyyah dengan Gus Salman memang menjadi pembicaraan hangat dikalangan santri. Jadi tidak heran Kang Zen mengetahuinya.


"Kalem ae lek aku Zen. Moro-moro langsung gowo Abah karo Umi ngunu." Jawab Gus Nawwaf sambil terkekeh


"Lah calone nopo wes oleh Gus? Ning pundi?" tanya Kang Ali


"Dungakne ae, ngaji lancar gek ngelamar." kekeh Gus Nawwaf


Ia masih mendengarkan percakapan mereka, sambil membalas chat dari Nduk Khafa, yang menanyakan Zyela itu siapa. Nduk Khafa kesal dengan Dek Khaliq juga karena itu, karena mengira kalau Zyela itu calon kakak iparnya.


"Kok mireng slentingan, lek niku Ameera, leres mboten Gus?"


Mendengar itu, sejenak ia menghentikan jarinya. Menunggu jawaban dari Gus Nawwaf. Namun ia hanya mendengar Gus Nawwaf tertawa. Ia kembali membalas chat dari Nduk Khafa yang menanyakan keberadaannya.


"Halah nggosip wae sampeyan iki Kang. Heran aku, sopo ngunu seng nyebarne?" Ucap Gus Nawwaf setalah itu menyesap kopinya.


"Aseekkk...!!"


"Informane Kang Wildan niku wes tahap bangsa lelembut Gus, njenengan niki pripun toh." ucap Kang Zen


"Mosok Markonah ngomongne aku Kang?" tanya Gus Nawwaf yang tampak penasaran.


"Mboten Gus, sanes Markonah. Pernah mireng arek-arek ngomong ngoten Gus. La leres nopo mboten to Gus?"


"Ndungakne wae Kang.. Kang. Jodoh ora enek seng ngerti." ucap Gus Nawwaf. "Malah ngintrogasi aku, wayahe iki seng diintrogasi Kang Akmal iki lo."


Ia mendongak heran, "Kok malah kulo to Gus?"


"Duh!! Gus. Lek Akmal niki sampun gadah cem-ceman, tinggal pepet langsung dados Gus." ujar Kang Wildan


"Suotoy dirimu!!" sahutnya tak terima


"La iyo lo, wes ketoro Shahla lek seneng, kok ora langsung di lamar ae." ujar Kang Wildan


Ia berdecak kesal mendengar ucapan Kang Wildan. "Sembarangan omonganmu!!" Tentu saja ucapan Kang Wildan membuatnya tidak nyaman. Pada dasarnya bayangan Kang Wildan tidak segampang realita yang ia alami.


"Loh, sek to Kang. Bukane karo Ning Khafa iyo? Aku mau isuk eroh neng lampu merah goncengan karo Ning Khafa. Pas nyusul Bahiyyah karo Ameera." papar Gus Nawwaf. Seketika ia melepas pecinya, menggaruk kepalanya yang tiba-tiba gatal. Jadi salah tompo begini.


"WIHH!!"


"Sitok-sitok to Mal, ra keuman aku."


"Serius Mal? wah, wah, sejak kapan dadi pakboy." Ia meraup wajahnya mendengar ucapan Kang Wildan. Melihat mereka seakan-akan menanti kepastian jawaban darinya.


"MASE!! AYO?"


Belum sempat berkata, belum sempat menjawab, belum sempat meluruskan. Dengan tiba-tiba Nduk Khafa sudah nongol dan memanggilnya. Semakin tambah pula salah paham mereka. Namun setelah di pikir-pikir, ia harus menjelaskan mulai dari mana?


Mulai dari membongkar identitasnya sendiri? percuma dong selama ini menutupnya rapat.


 


 


****************


Jeng.. jeng.. jeng...


Semakin gimana?


Ruwet?


Mbulet?


Mu'adzam Akmal Khadizul Shiddiq


Khafa Yamaniyyah Shiddiq


Ghassan Khaliqul Abraham


Syafiq Queenzyela


Muhammad Nawwaf Ismail


Kang Wildan