MU'ADZ

MU'ADZ
BAB EMPAT BELAS



Selamat Membaca


 


 


 


 


Matahari mulai menanjak, teriknya mulai terasa di kulit. Di dalam bangunan kecil beratap plafon, tampak berjajar macam gorengan yang masih hangat. Rata-rata yang berkunjung disini kebanyakan sudah paruh baya.


 


 


Namun ada satu pasang muda-mudi duduk sederet berjarak. Sama-sama mengarah ke pintu keluar. Belum ada perbincangan diantara keduanya. Yang perempuan tampak sibuk mengelap keringat, yang laki-laki, bingung ingin memulai percakapan dari mana.


 


 


Ia masih diam, menahan gerah. Sebenarnya ia haus, namun ia tahan. Ia bingung mau keluar, duduknya berada di posisi pojok dekat tembok, sedangkan di ujung sana ada 'dia'. Mau melewati kursi panjang ini, ia rasa tidak sopan. Mau berbicara dengan 'dia' pun tampak sibuk dengan gawainya. Ia bingung sendiri. Ia berharap orang-orang yang sedang di tunggu cepat datang.


 


 


Tiba-tiba ada tangan yang menyodorkan minuman dingin di mejanya. Ia pun menoleh, lalu tersenyum tipis. "Matur suwun Kang."


 


 


Tanpa aba-aba lagi, ia langsung membuka tutup botolnya. Satu dua kali ia coba namun tidak bisa. Berulangkali ia mengusap telapaknya yang berkeringat namun tetap tidak bisa. Ia mendengus kesal, padahal ia ingin segera minum.


 


 


Ia tersentak kala botolnya tiba-tiba di sambar. "Eh!!" Ia menoleh memperhatikan 'dia' yang membantunya membuka tutup botol. Perlakuan 'dia' sederhana namun berefek luar biasa pada hatinya.


 


 


"Matur suwun Kang." Dengan tersenyum ia langsung meminumnya. Terasa nyaman di tenggorokannya. "Alhamdulillah." ucapnya


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


Dengan langkah riang, Ning Bahiyyah masuk ke mall terbesar di kotanya. Semua tampak sibuk memilih barang yang cocok.


 


 


Di belakangnya sudah di ikuti dua laki-laki bersarung yang tampak gagah bak seperti pengawal.


 


 


Tak sedikit dari mereka yang mencuri pandang ke arah Gus Salman dan Kang Akmal. Apalagi kaum para pencari menantu. Dari sisi manapun Gus Salman dan Kang Akmal patut di jadikan sebagai roll model menantu.


 


 


Dua-duanya sama-sama tinggi, putih bersih dan tentunya memiliki wajah yang tampan.


 


 


Namun ia sendiri heran, aura Kang Akmal justru mendominasi. Bukan bermaksud untuk membeda-bedakan, tidak. Kentara sekali dari gerak-gerik Gus Salman tampak sangat menghormati Kang Akmal.


 


 


Di meja makan salah satu restoran cepat saji. Sudah tertata berbagai macam menu masakan. Memang waktunya mengisi perut, setelah berkeliling mall yang cukup luas.


 


 


Di depannya sudah ada Gus Salman dan sampingnya ada Mba Ameera. Kemana Kang Akmal? Tadi pamit untuk membeli titipan. Jadi suasana makan siang ini sedikit awkward.


 


 


"Ning, benjeng kulo wangsul. Sesuai sanjange Abah Zaki, engken dhalu keputusane njenengan."


 


 


"A-abah dereng ngomong teng kulo Gus."


 


 


Ia seketika resah. Bingung harus menjawab apa? Bagaimana ini? kedua tangannya sudah berubah dingin.


 


 


"Kulo berharap jawabane njenengan sae, mengke." Imbuh Gus Salman


 


 


Perutnya yang sudah kenyang mendadak lapar lagi. Pikirannya terkuras hanya untuk beberapa menit ucapan Gus Salman tadi.


 


 


Ia harus menenangkan diri, ia beranjak. Berpamitan untuk ke kamar mandi. Langkahnya yang gontai, entah membawanya kemana.


 


 


Sampai, ia melihat seseorang dengan sarung hitam dan kaos lengan panjang abu-abunya, keluar dari supermarket membawa beberapa kantong belanjaan.


 


 


Ia mempercepat jalannya. Menghadang seseorang yang dari setahun yang lalu merajai tahta hatinya.


 


 


"Astaghfirullah, pripun Ning?"


 


 


"Kang, kulo nyuwun njenengan nembung kulo teng Abah." tegasnya


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


"Eh, eh. Eroh gak tamune ndalem wingi?"


 


 


 


 


"Sopo laan?" tanya salah satunya


 


 


"Ngerti ora Gus Salman pondok At-thoriq, seng jarene ngguanteng iku?"


 


 


"Hem, Guse seng mondok ndek Turki kuwi tah? terus hubungane opo karo tam- "


 


 


"Nah, Gus Salman tamune Abah-"


 


 


"Eh, tenane? sumpah aku pengen eroh, jare adik ku Gus ngguanteng." Sahut diantara mereka.


 


 


"Sek talah aku urung mari iki lo. Ternyata Guse rene iki ape khitbah Ning Bahiyyah."


 


 


"Wih, Masyaallah."


 


 


Shahla yang sedari tadi melipat bajunya hanya bergeleng-geleng melihat antusias dari teman sekamarnya tentang Gus Salman. Ia sudah tahu memang sebelumnya, tapi malas saja untuk bergosip.


 


 


"Wes, mundur alon alon. Uduk ranah e." celetuk Shahla.


 


 


"Mesti ngunu yo, Gus athuke karo Ning."


 


 


Shahla menghentikan tangannya. Dalam hati, ia membenarkan ucapan temannya itu.


 


 


Apa ini tamparan untuk menyadarkan bahwa ia tidak cocok dengan Mas Muadz?


 


 


Ah, tapi banyak juga yang tidak seperti itu!


 


 


Harus optimis Shahla, ia tumbuh bersama dengan Mas Muadz, jadi harapan bersanding pun juga terbuka lebar.


 


 


"Heh! ngelamun ae. Iki titipan."


 


 


Ameera menyodorkan paper bag kecil ke hadapannya. Ia tidak bertanya dari siapa. Mengambil kotak kecil di dalamnya.


 


 


Kedua matanya melebar, ia tahu merek ini. Karena Mama selalu membeli dengan merek yang sama.


 


 


Kemudian ia mencari, mengobrak-abrik di dalamnya. Sepucuk surat jatuh di pangkuannya.


 


 


Barakallah fiiumrik Dek!!


Selalu terselip doa terbaik untukmu.


~M~


 


 


Senyumnya pun mengembang. Dengan segera ia membuka kotak kecil di pangkuannya.


 


 


Sebuah kalung berliontin huruf awal namanya. Terpampang di depannya.


 


 


Padahal dia kurang suka dengan perhiasan apapun. Mama selalu membelikan, tetapi jarang ia pakai.


 


 


Namun ketika melihat kalung ini, ia suka sekali. Menurutnya simpel dan tidak mencolok. Kalau orang tidak teliti pasti dikiranya itu kalung imitasi.


 


 


Ia memasangkan sendiri pada lehernya, lalu beranjak ke cermin.


Mengelus-elus liontinnya sambil tersenyum.


 


 


Ah, gimana tidak jatuh hati?


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


Assalamualaikum, ngapunten UP nya lama


Insyaallah mulai hari ini tidak akan lama


Terimakasih sudah bersedia menunggu


See yuu