MU'ADZ

MU'ADZ
EMPAT PULUH SATU



Assalamualaikum semua!!!


Masih sehat kan?


Alhamdulillah akhirnya bisa Up juga.


Masih inget mboten part sebelumnya?


Kalau mboten, yuk baca lagi, hehe...


 


 


Selamat Membaca


 


 


Sudah dua jam lamanya, Ameera berada di ruangan konseling. Pelayanan ramah dari Dokter, membuatnya nyaman dan perlahan membuka satu per satu akan kelemahannya yang selama ini ia pendam sendiri. Karena ia tipe yang sulit membuka masalah perang batinnya kepada orang lain. Sampai, sampai ia tidak menyadari kalau dirinya mengidap illness.


Sambil mendengar wejangan dari Dokter. Ia jadi teringat kalau suaminya menunggu di luar ruangan. Seketika ia merasa tidak enak pada suaminya yang telah menunggunya lama. Pasti Mas Mu'adz bosen, di tambah lagi gawai milik Mas Mu'adz terbawa dalam tasnya.


"Insyaallah saya usahakan Bu dokter. Kalau begitu, saya pamit. Assalamulaikum," pamitnya sambil beranjak.


"Waalaikumsalam."


Membuka pintu ruangan, yang pertama terlihat, hanya kursi yang semula di duduki suaminya itu kosong. Mengedarkan pandangan ke kanan dan ke kiri, mencari-cari sosok suaminya. Berharap sosok itu tiba-tiba muncul. Namun, tidak ada.


"Apa Mas Mu'adz di kamar mandi ya?" gumamnya sendiri. Ingin menghubungi Mas Mu'adz pun tidak mungkin. Mungkin sebentar lagi Mas Mu'adz datang. Akhirnya, ia mendudukkan diri di kursi tunggu. Sambil mengedarkan pandangannya mencari-cari suaminya.


Entah berapa lama ia menunggu. Ia putuskan untuk ke ruangan Bunda. Mungkin saja, Mas Mu'adz berada di sana. Karena sudah hapal dimana letak ruangan Bunda, langsung saja ia berjalan menuju kesana, yang berada di satu lantai diatas lantai ini.


Sampai di lantai tempat ruangan Bunda, melihat banyak pasien di depan ruangan Bunda, sedang mengantri untuk berobat. Kalau seperti ini, ia jadi ragu untuk menemui Bunda, takut menganggu aktifitas Bunda. Sampai ada asisten Bunda, yang sudah ia kenal. Segera ia mendekat.


"Assalamualaikum Mbak!"


"Eh, Ning Mera. Waalaikumsalam. Mau nyari Ibu iya?"


Ia pun mengangguk, "Iya Mbak, tapi Bunda tasik sibuk, enggak apa-apa deh, nanti mawon."


"Ning Mera tunggu aja di sini sebentar, nanti tak bilangin ke Ibu."


Menuruti ucapan Suster tadi, ia menunggu sambil mengecek gawainya. Tidak ada notifikasi sama sekali. Kemana sebenarnya Mas Mu'adz? Kalau seperti ini ia jadi khawatir sendiri. Ingin sekali membuka gawai milik Mas Mu'adz, kali saja Mas Mu'adz menghubunginya lewat gawainya sendiri. Namun ia tidak berani, karena selama ini Mas Mu'adz belum memasrahkan padanya.


"Ning Mera, di panggil Ibu."


Mendengar itu, ia pun beranjak. Perlahan tangannya membuka pintu ruangan Bunda. Aroma karbol khas rumah sakit pun tercium kuat. Nuansa baby blue, cat tembok ruangan Bunda. Baru ia ketahui setelah menjadi istri Mas Mu'adz, kalau Bunda itu penyuka warna biru. Bisa di lihat dari cat tembok ndalem, gorden jendela, peralatan dapur dan sering sekali Bunda juga memakai gamis warna biru. Berbagai jenis warna biru kalem mendominasi.


"Assalamualaikum Bunda," sapanya sambil mencium tangan Bunda.


"Waalaikumussalam. Mantun konsul Nduk?"


"Pripun, enten masalah? Nduk e mboten nyaman kaleh Dokter Anne?" Bunda memberondongi pertanyaan.


Dengan cepat ia menggeleng, "Mboten Bunda, Kiya nyaman kaleh Dokter Anne. Kiya mriki nedi tangklet."


"Alhamdulillah, tangklet nopo Nduk?"


"Eum, Bunda semerep Mas Mu'adz?"


"Loh, Mas Mu'adz mboten pamitan to?" Ia menggeleng lemah. "Oalah, Mas Mu'adz neng ruangan Nduk Shahla, Bunda papasan mau."


"Shahla?"


"He em Nduk, Shahla di rawat teng mriki, ruangan mawar 1. Kok mboten di telepon mawon Mas Mu'adz Nduk?"


"Hapene kentun teng tase kulo Bunda. Enggeh pun, Kiya langsung teng mriko mawon. Ngapunten nggeh Bunda, sampun ganggu."


"Heleh, gek bejo nopo to Nduk. Iyowes ndang mriko o."


"Enggeh pun, Assalamualaikum," pamitnya lalu mencium tangan Bunda. "Waalaikumussalam."


Setelah mendengar jawaban salam Bunda, ia pun segera melangkah untuk keluar. Namun ucapan Bunda, membuatnya berhenti lagi.


"Nduk, ngikhlasne niku angel. Dadine Bunda nyuwun, Nduk Kiya saget sabar nggeh."


Berdiam sejenak, memikirkan penuturan Bunda yang belum bisa ia cerna. Dengan anggukan, ia pun membuka pintu ruangan. Sambil berjalan, ia memikirkan ucapan Bunda. Ikhlas? Sabar? Entah, apa yang di maksud Bunda.


Masih di lantai yang sama, ia mencari ruangan mawar 1. Tepat ia berbelok, ruangan mawar 1 berada di depannya. Tidak ada yang menunggu di luar ruangan. Melangkah ke arah pintu, menengok kearah kaca kecil pintu. Pandangannya terpaku pada suaminya disana, duduk di samping brankar sambil tertawa lepas bersama si pasien, yang tak lain adalah Shahla.


Seketika hatinya berdenyut nyeri. Ada rasa tidak rela. Ia pun tersenyum masam. Apa Mas Mu'adz lupa kalau hanya berdua saja di ruangan? Ruangan VIP, menjadikan Shahla menjadi satu-satunya penghuni ruangan ini. Dari kaca kecil ini, ia hanya bisa melihat ke arah brankar.


Masih melihat keakraban di sana, suaminya dengan Shahla. Jadi ini alasan Mas Mu'adz meninggalkan dirinya tanpa pamit?


Kedua matanya mulai berkaca-kaca. Terlalu sesak hatinya. Sekelibat ucapan Bunda tadi terngiang. Ikhlas? Sabar?


Apa maksud Bunda tadi ini, mengikhlaskan Mas Mu'adz?


Dari sudut manapun, Shahla lebih unggul darinya. Tumbuh bersama Mas Mu'adz. Mengetahui apapun kesukaan maupun ketidaksukaan Mas Mu'adz. Sedangkan dirinya? tahu nama dan orangnya saja semenjak Mas Mu'adz ikut di ndalem, itupun jarang bertegur sapa.


Apalah dirinya?


Apa jangan-jangan memang Mas Mu'adz tidak benar-benar mencintainya?


Atau Mas Mu'adz memang benar-benar terpaksa menikah dengannya atas permintaan Embah?


Haruskah ia mengikhlaskan mulai saat ini?


Air matanya jatuh ketika ia berbalik menjauh dari ruangan Shahla. Hatinya tidak sanggup untuk tetap disana. Untuk masuk pun, ia belum berani. Hubungannya dengan Shahla belum membaik, mengingat pertemuan terakhir kita.


**************