MU'ADZ

MU'ADZ
LIMA PULUH SATU



Selamat Membaca


 


 


 


 


Berhubung Shahla sendirian, Khusnul temannya ini mengajak berbarengan untuk masuk kedalam. Sudah banyak tamu undangan yang hadir namun tenda untuk akhwat dan ikhwan terpisah. Duduk di bagian terjauh dari panggung, disamping Khusnul yang sedang ngerumpi bersama teman-teman pondok lainnya. Sedangkan dirinya sendiri termenung memandang lurus kedepan. Dimana tempat singgasana sepasang raja dan ratu sehari yang tengah berbahagia.


"Meneng ae! pengen yo?" Khusnul menyenggol lengannya, membuat dirinya menoleh dengan sedikit tersenyum.


"Dirimu nyapo boyong?" tanyanya sambil memakan jajanan yang tersedia. Ia tidak menanggapi ucapan Khusnul barusan.


"Aku kuliah, karo Mas ku kon kuliah," jawab Khusnul yang sama, menyemil jajanan.


"Neng ndi, jurusan opo?" tanyanya beruntun.


"Ndek Malang, njupuk Pai aku. Dirimu?" Khusnul berbalik tanya.


"Podo ndek malang pisan aku."


"Bagoss! kapan-kapan isolah ketemu. Dirimu ngekos opo piye?"


Shahla menggeleng. "Aku ndek omahe Bundaku," ucapnya sambil menimbang sesuatu. "Melok aku opo piye? timbang dirimu ngekos bayar," lanjutnya. Dari yang ia tahu, Khusnul orangnya asik, siapa tahu bisa jadi pengobat kesepiannya ketika di rumah Malang.


Semenjak Bunda tahu mengenai dirinya akan berkuliah di Malang. Bunda menyarankan rumahnya untuk dirinya tinggali. Karena selama ini tidak ada yang menghuni disana. Hanya orang suruhan Bunda yang setiap hari datang merawat rumah Bunda, itupun ia tahu dari Mama.


Ayah dan Mama setuju saja, karena akses rumah ke kampus pun tidak terlalu jauh. Dan selama beberapa bulan disana, ia sendirian menempati rumah itu. Orang suruhan Bunda datang pagi-pagi itupun untuk bersih-bersih. Padahal ia pernah bilang ke Bunda kalau biarkan saja dirinya yang membersihkan rumah. Tapi kata Bunda, "Mboten nopo-nopo Nduk, bagi-bagi rezeki ndek uwong."


"Serius?" Khusnul antusias.


Ia mengangguk mantab. "Iyo timbang aku dewean."


"Oke oke engko tak kabari neh. Nomermu panggah kan seng ndek grub?"


"Panggah, tapi langsung telpon ae, aku jarang bukak chat."


"Oke oke, loh loh ape neng endi?" tanya Khusnul melihat beberapa temannya beranjak.


"Ape njupuk maem, ayo!" kata salah satu teman Khusnul yang tidak terlalu akrab dengannya.


"Ayo La!" ajak Khusnul padanya, membuatnya ikut beranjak. Sebenarnya ia tidak terlalu mood untuk makan.


Shahla yang sedang memilih lauk lengannya disenggol pelan oleh Khusnul. "Enggak marani Ning Ameera?" tanya Khusnul dengan dagu menunjukkan kearah sana. Shahla pun mengikuti arah itu.


Di sana, dipanggung pengantin ia melihat Ameera dan Mas Mu'adz berfoto dengan Ning Bahiyyah dan Gus Salman. Ia tersenyum masam. "Enggak. Sungkan," jawab sekenanya.


"Hmm, iyo seh. Aku iyo ape nyopo sungkan pisan. Masio toh mbiyen pernah sak kamar, tapi piye ngunu yo La, lek wes ngerti Ning." Shahla mengangguk mengiyakan ucapan Khusnul.


 


 


 


 


*****


Khusnul sejak tadi mengajaknya untuk berfoto dengan Ning Bahiyyah, namun selalu ia tolak. "Enggak Nul, ndang wes foto o karo arek-arek aku tak ndek kene," jawabnya.


"Ayolah lah La. Mumpung Guse ora enek. Ko deloken arek-arek podo poto-poto," pinta Khusnul sambil terus menarik-narik lengannya. "Dirimu udzur to, lemes men. Ayolah gawe kenang-kenangan," imbuh Khusnul.


Ia menghela napas kasar dengan sangat terpaksa ia mengangguk. Membiarkan Khusnul menggamit lengannya sampai di depan panggung. Semua teman-temannya satu per satu menyalami Ning Bahiyyah, dan ia pun kebagian terakhir.


"Barakallah nggeh Ning!" ucapnya sambil cipika-cipiki.


"Loh kok ora teng ndalem mawon Mba La, wong enten Ning Ameera kaleh Kang- eh Gus Mu'adz," ucap Ning Bahiyyah yang mengenakan kebaya syar'i berwarna putih gading.


Dengan sedikit senyum ia menggeleng. "Mboten Ning."


Setelah mereka berfoto, masing-masing dari mereka pulang. Sedangkan dirinya menerima ajakan Khusnul untuk sedikit lebih lama berada di pesantren. Kata Khusnul sekalian nostalgia, meskipun baru boyong beberapa bulan.


Ada keuntungan tersendiri bagi Shahla ketika menerima ajakan Khusnul. Ia seperti lupa akan masalah hatinya yang pelik. Khusnul yang rame membuat cerita apapun menyambung dengannya. Terbesit rasa kangen menyusup dalam hatinya. Dirinya kangen bercerita dengan Ameera. Kangen seperti dulu.


Sampai waktu dhuhur pun sudah terlewat. Ayah sudah menelponnya kalau sehabis dhuhur Ayahnya akan menjemput. Khusnul pun ikut menemaninya, menunggu Ayah.


"Dirimu baliko ae Nul, mendung ilo," suruhnya pada Khusnul. Pasalnya Khusnul berangkat sendirian dengan mengendarai motor.


"Enggaklah, dirimu dewean neng kene."


Ia berdecak malas. "Ora ora lek aku di culik, timbang dirimu kudanan. Omahmu lo adoh."


"Tenane La?" Ia mengangguk mantab. "Wes ndang balek kono," suruhnya yang setengah mengusir.


"Hiyo Khusnul. Ndang wes balek, hus hus." Ia gemas sendiri menyuruh Khusnul untuk pulang terlebih dulu.


"Iyo wes, aku tak disek yo La. Engko bengi tak hubungi, Assalamualaikum."


"Waalaikumussalam," jawabnya sambil melihat Khusnul yang mulai mengendarai motor.


Masih dengan keadaan berdiri di bawah pohon rambutan, Shahla melirik jam tangan yang dipakai menunjukkan pukul setengah dua. Rintik hujan mulai turun. Ia menggerutu, Ayahnya pasti kejebak macet.


Kalau sedang sendirian seperti ini, pikirannya selalu melayang kemana-mana. Tangannya terulur menadahi tetesan kecil air hujan. Sampai ada mobil hitam berhenti di depannya. Perlahan tangan basahnya turun lalu mengepal, menetralkan rasa gugupnya.


Melihat dua orang berbeda jenis turun dari mobil lalu menghampirinya. Ia hanya diam bahkan pandangannya kini turun ke sepatu flatnya yang mulai basah.


"Nduk, kok teng mriki? ngrentosi sinten?" Suara itu, bahkan  sampai saat ini masih menggetarkan jiwanya.


Shahla mendongak, menatap sekilas Mas Mu'adz dan Ameera lalu membuang tatapannya kearah lain. "Ayah," jawabnya singkat.


"Ayo bareng ae. Engken kersane Mase seng telfon Ayah."


"Mboten."


"Udan lo Nduk. Lek ngunu ayo ngenteni Ayah teng mobil ae."


Ia menggeleng. "Mboten Mas sekalian udan-udanan." Tidak mungkinkan ia satu mobil, itu sangat tidak baik pada kesehatan hatinya.


Ia teringat sesuatu yang dititipkan padanya tadi, tangannya membuka tas hitam miliknya mengambil sesuatu disana, lalu tangannya terulur ke arah Ameera.


"Titipan teko arek-arek," ucapnya kemudian membuka kepalan tangannya. Bros besi berbentuk setangkai bunga. Ia sangat tahu kalau bros ini salah satu bros kesayangan Ameera.


Melihat Ameera hanya bergeming sambil menatap Mas Mu'adz, membuatnya bertindak mengambil tangan kanan Ameera lalu meletakkan bros itu ke tangan Ameera.


"Loh! niki kan bros seng niko?"


Atensinya berpindah ke Mas Mu'adz. Shahla mengernyit ketika Mas Mu'adz tampak sangat kenal dengan bros tersebut.


"Sepuntene kenton Mase," cicit Ameera, membuatnya langsung menatap tidak percaya pada Ameera.


Jadi selama ini?


Shahla tersenyum nanar. Setahunya Ameera membeli bros itu ketika haul tahun lalu, sedangkan Mas Mu'adz dan Ameera menikah baru mendapat beberapa bulan. Itu artinya selama di pondok mereka berhubungan.


Allah Ya Karim kenapa selama ini dirinya tidak tahu?


"Tak kiro sampun ical lo Nduk brose niki. Soale Nduke mboten pernah ndamel bros teko Mase niki."


Hah? Ia lalu terkekeh kecil sambil menggelengkan kepalanya. Apa tadi? bros itu pemberian dari Mas Mu'adz. Sungguh, Shahla menjadi speechlees dibuatnya.


"Wah! Mangkane di jogo. Mas Mu'adz lek nesu serem," ucapnya lalu berjalan menjauh.


"La Shahla."


Ameera memegang lengannya. "Opo neh Mer?" tanyanya sambil membalikkan badan.


"Sepurane La."


"Sak iki aku baru paham, nyapo dirimu sampek tenan ora ngolehi aku nyileh bros iku. Tapi enggak opo-opo kok Mer, aku paham. Sepurane iyo Mer lek selama iki mripatku ketutup, aku mek cumak mikir awakku dewe. Sepurane tenan yo Mer," ucapnya lalu mendongak menyembunyikan matanya yang mulai berkaca-kaca. "Sepuntene Mase. Adek pamit. Assalamualaikum," lanjutnya lalu menuju ke arah mobil silver yang berada di belakang mobil Mas Mu'adz.


Dengan air matanya yang akan menetes, Shahla terburu membuka pintu mobil. Melihat Ayah yang menatapnya sendu, air matanya pun jatuh. Ia terisak penuh luka di dalam rengkuhan Ayah.


Ia kira, Ameera tidak pernah dekat dengan Mas Mu'adz sewaktu di pondok dulu, tapi ia lupa jika mereka satu ndalem.


Ia kira, Ameera tidak pernah tertarik dengan Mas Mu'adz, karena Ameera selalu menceritakan bagaimana Ning Bahiyyah sebegitu sukanya dengan Mas Mu'adz.


Mungkin kalau kejadian ini tidak terjadi, ia sangat berniat untuk mengikhlaskan perlahan dan melupakan, mengingat ucapan Bunda begitu mengena hatinya.


Tapi begitu mendengar fakta hari ini, apakah dirinya akan mudah melupakan sedangkan ia bertambah kecewa?


 


 


 


 


******


Assalamualaikum!