MU'ADZ

MU'ADZ
LIMA PULUH TUJUH



 


 


 


Selamat Membaca


 


 


 


 


 


 


 


 


Setelah menenangkan diri sejenak di mushola rumah sakit, kini Mu'adz kembali menuju ke ruang, tempat jasad istrinya berada. Kehilangan dua orang yang sangat penting dalam hidupnya membuat ia kehilangan sebagian jiwanya, kini hanya tatapan datar dan sendu disana. Meski tidak ada air mata lagi, tapi jauh dari lubuk hatinya, ia tetap menangis.


Mengadu pada sang Rabb tadi membuat dirinya jauh lebih tenang. Membuka pintu UGD, tatapannya langsung pada jasad almarhumah istrinya. Hatinya bergemuruh lagi diiringi kedua matanya yang mulai memanas. Mu'adz menghembuskan napas pelan. Dirinya harus kuat.


"Setiap yang bernyawa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan. Dan kamu akan dikembalikan hanya kepada Kami."


"Mas ambulane sampun siap. Mase tumut Bunda nopo tumut ambulan?" Mu'adz yang tadi memandangi wajah damai istrinya, menoleh kearah Bunda yang berada di pintu.


"Tumut teng ambulan," balasnya, lalu tatapannya beralih lagi memandangi wajah istrinya. Tangannya terulur mengelus pelan wajah istrinya.


"Nggeh mpun, Bunda wangsul riyen. Bunda yakin Mase kuat. Al-fatihah e Mase, ampun supe." Ia hanya mengangguk, mengiyakan ucapan Bunda.


Perlahan wajahnya ia dekatkan pada istrinya. Mengecup lama kening istrinya lalu beralih mengecup perut buncit istrinya. Mereka benar-benar telah meninggalkan dirinya. Kedua matanya semakin memanas, ia mendongakkan wajahnya. Tidak ingin ia menangis lagi. Jika terus-terusan ia menangis, dirinya tidak bisa mendekat pada almarhumah istri dan anaknya untuk yang terakhir kali.


"Nduk e kaleh dedek, benjeng susulen Mase nggeh. Lek sampun waktune," bisiknya tepat di telinga istrinya.


Kemarin, dirinya masih menggendong tubuh istrinya dengan tangan kosong. Sekarang? tangan kosong itu tergantikan dengan bahunya, bersekat keranda besi. Ikut masuk kedalam ambulan, hatinya terus mengucap kalimat tauhid. Pandanganya terus menatap pada wajah istrinya.


Bunyi ambulan mengiringi perjalanan pulang kali ini. Dirinya jadi teringat ketika suatu malam, istrinya yang masih hamil muda mengajaknya keliling mengendarai motor tanpa tujuan. Padahal sudah hampir tengah malam, dengan keadaan jalanan yang sudah sepi.


"Tenan mboten pengen nopo ngunu?" tanyanya dengan menatap spion, melihat wajah istrinya diterpa angin malam.


Ameera menggeleng kepalanya. "Mboten Mase, pingin jalan-jalan mawon," balas istrinya dengan suara sedikit nyaring.


"Duh! dedek niki nyuwunane aneh-aneh to. Ngejak touring bengi-bengi," gerutunya membuat Ameera tergelak tawa.


"Touring teng poro Kyai kan sae to Mase. Nggeh dek? Baba niki pripun to." Kali ini dirinya yang tergelak tawa.


"Nggeh sampun, Buna kaleh dedek siap?" tanyanya dengan sedikit menoleh kebelakang.


"Siap Baba," antusias istrinya.


"Bissmillahirrahmanirrahim. Wiu... wiu.. wiu... thot... thot..." ujarnya lantang. "Minggir-minggir, Buna kaleh dedek bidal touring. Wiu... wiu... wiu..." lanjutnya. Istrinya yang berada di belakang tergelak tawa lepas.


"Wiu... wiu... wiu... minggir -minggir. Kersane cepet angsal barokah. Wiu... wiu... wiu.. thot... thot..." Dengan sengaja ia mengendarai dengan zig-zag.


Mengenang malam itu, tanpa sadar kedua sudutnya sedikit terangkat tipis meski tatapannya masih sendu. Kali ini, perjalanan kita benar-benar diiringi suara ambulan. Bukan touring lagi, tapi menyelesaikan tanggungjawabnya yang terakhir sebagai suami.


Mobil ambulan terhenti, melihat sekeliling sudah banyak para peziarah yang hadir. Pintu belakang terbuka, dengan sigap ia turun lalu memanggul keranda tempat istrinya berada. Santri pun banyak yang ikut berebut memanggul. Banyak usapan pada bahunya, ia hanya mengangguk dengan tersenyum getir.


Jenazah istrinya masuk ke dalam ndalem dan langsung ditangani langsung oleh Bunda. Sedangkan dirinya berjalan lesu menuju kamar yang di tempati dengan istrinya semalam. Sebelum masuk ke kamar, langkahnya terhenti karena panggilan seseorang. Ia pun berbalik, pandangannya jatuh pada orang yang berada dalam kursi roda.


Nduk Shahla. Saking kacaunya, ia lupa jika istrinya kemarin bersama Nduk Shahla sama-sama kecelakaan. Melihat Nduk Shahla yang sudah menangis, ia tersenyum getir.


"Mase, sepuntene. Shahla mboten saget nglindungi Ameera," ujarnya sesenggukan.


Kedua matanya juga mulai memanas lagi. "Mboten nopo-nopo Nduk. Sampun qadarullah. Nggeh mpun, Mase tak mlebu riyen nggeh," balasnya diiringi senyum getir.


Tangannya terulur membuka pintu kamar. Semerbak harum pewangi milik istrinya. Dengan perlahan tangannya menutup pintu. Lalu mendekat kearah ranjang tempat istrinya biasanya tidur.


Semakin hatinya berusaha kuat, semakin air matanya tak tertahankan untuk lolos. Duduk di pinggiran ranjang dengan menutup wajahnya dengan telapak tangan. Jejak istrinya masih terasa disini.


Sofa di dekat jendela tempat biasanya istrinya memuroja'ah hafalan, karpet  berbulu yang biasanya tempat sholat istrinya, meja rias tempat istrinya biasanya menyisir rambut. Semua masih jelas terasa. Hadirnya masih sangat terasa di ruangan ini.


Perlahan ia baringkan kepalanya pada bantal milik almarhum istrinya. Harum khas sampo milik istrinya masih melekat pada bantal. Bagitu sangat menenangkan sampai entah kapan dirinya mulai terlelap.


"ASTAGHFIRULLAH, ALLAHUROBBI MASE! TANGI MAS! DEDEK AJENGE MEDAL NIKO LO. MALAH ENAK-ENAKAN TILEM. MASE, SUBHANALLAH, ASTAGHFIRULLAH!"


 


 


 


 


🌵🌵🌵🌵🌵🌵🌵Selesai 🌵🌵🌵🌵🌵🌵🌵


 


 


Nah loh! gimana ini?


Jangan protes


Jangan jingkrak-jingkrak


Jangn ngelus dada juga nggeh?


Hahaha...


Maap nggeh jangan gemes lo kaleh kulo.


Sampai ketemu di part ending nggeh?