MU'ADZ

MU'ADZ
TIGA PULUH TIGA



*Vote dulu nggeh!!


Selamat Membaca


Matahari mulai menampakkan sinarnya. Mas Mu'adz berjalan menuruni anak tangga masjid. Beberapa santri mendekat untuk mencium tangannya. Ia belum terbiasa dengan keadaan seperti ini, belum pantas.


Di pesantren Adz-Dzikro ini, ia sudah mengemban tugas yang dilimpahkan Alm. Mbah Yai Imam kepadanya. Mengelola pesantren yang sebesarnya sebelas dua belas dengan Darussholah membuatnya berulang kali menguatkan diri. Alhamdulillah Yai Basyir, mau turut membantunya disini. Karena memang letak pesantren Yai Basyir masih di sekitar Adz-Dzikro, Yai Basyir memindahkan semua santrinya untuk bergabung di pesantren ini.


Ia memang sempat berbincang-bincang dengan Yai Basyir, apa saja yang harus ia kerjakan di pesantren ini. Salah satunya yang baru saja selesai ia lakukan, menyemak setoran santri putra tahfizh. Beberapa puluh santri sudah di bagi dua kubu, yang sebagian ia pegang, dan sebagian lainnya ada Yai Basyir. Terbesit rasa ketidakpercayaan diri. Dirinya saja masih belum terlalu lanyah menghafal Al-Qur'an, malah sekarang dirinya diharus mendengar setoran hafalan dari beberapa santri.


Ia berjalan menuju ke ndalem, Yai Basyir tadi sudah lebih dahulu selesai, karena setiap setoran yang menghadap Beliau sekitar enam sampai tujuh, sedangkan dirinya hanya masih mampu tiga sampai lima santri saja. Mendengar dan membenarkan beberapa santri yang menyetor hafalannya secara serempak tapi dengan surat yang berbeda-beda, tentu tidak mudah baginya . Ia harus menambah ekstra konsentrasinya.


"Assalamualaikum."


Terdengar jawaban salamnya dari arah dalam. Ia berjalan menuju ke ruang tengah. Mencium tangan Yai Basyir yang sedang duduk dengan tangan Beliau memegang kitab.


"Alon-alon ae Le, InsyaAllah dalane di lancarne kabeh. Mbiyen Abah sek seger, seng ngadep nyetor mesti sepuloh santri." ucap Yai Basyir ketika ia duduk di hadapan Beliau.


"Masyaallah." gumamnya yang masih bisa di dengar orang lain.


"Sido neng pondok e Yai Zaki, Le?" tanya pria paruh baya yang kira-kira diatas umur Abi Fahri.


"Insyaallah Bah. Bade pamit sekalian mbeto barang-barang." jawabnya


"Kiya jak en Le, bene rodo seger. Lek gowo mobil kuncine iku." ucap Yai Basyir sambil menunjukkan gantungan di atas televisi.


Ia mengangguk. "Nitih sepedah motor mawon Bah. Barange namung kedik."


 


 


Ameera lebih akrab di panggil Ning Kiya di pesantrennya sedang mencuci piring setelah sarapan beberapa menit lalu.


"Boyok sek loro Nduk?"


"Radi Mi." jawabnya singkat.


Tadi selepas shubuh, ia beranjak ke dapur untuk membuatkan sarapan. Memang jalannya sedikit tertatih, karena punggungnya di buat gerak berlebihan langsung nyeri. Umi Zahroh dan Mbok Sinem yang melihat jalannya seperti itu, sontak saja langsung menggodanya, tentu saja ia sangat malu meskipun tidak terjadi apa-apa semalam. Ia pun menjelaskan kejadian terpelesetnya di kamar mandi.


Meskipun saudara, ia belum terbiasa untuk dekat dengan orang lain. Abah Basyir dan Umi Zahroh memang sudah dianggap keluarga dekat, meskipun ia belum terlalu akrab. Semenjak kecil, ia menjadi pribadi yang introvret. Apalagi semenjak kepergian Abi dan Umi. Membuatnya mengurung diri di rumah ini. Hanya Embah dan Mbok Sinem yang selalu menemaninya. Tidak sekalipun keluar bermain selayaknya anak di usianya. Lambat laun menginjak kelas enam madrasah, ia ingin di pesantren. Sampai di usianya yang sekarang menginjak dua puluh satu tahun, baru ia memutuskan untuk boyong saja. Keadaan Embah waktu itu membuatnya sangat khawatir. Rasanya tidak sanggup kehilangan untuk kedua kalinya. Dan itu terbukti ketika Embah benar-benar meninggalkan sendirian. Dirinya benar-benar tidak berdaya.


Tapi di balik semua itu, ia sangat bersyukur. Sekarang dirinya tidak merasa sendiri. Embah memberikan suami yang memang sangat ia idamkan. Tidak pernah terbesit untuk berada di posisi saat ini, menjadi istri dari Kang Akmal atau Gus Mu'adz. Sempat sekilas mendengar teman-teman sekamar membicarakan Gus Mu'adz, yang katanya sangat tampan. Dulu Ia menyebikkan bibirnya, mereka semua belum bertemu bahkan melihat saja sudah berkoar-koar kalau Gus Mu'adz sangat tampan. Entah dari mana teman-temannya mendapat informasi seperti itu.


Awalnya memang tidak percaya kalau Gus Mu'adz tampan, tetapi setelah melihatnya sendiri bahkan yang sekarang menjadi suami sahnya. Tidak mau tahu, semua yang ada di Gus Mu'adz, kelebihan maupun kekurangannya, Gus Mu'adz miliknya. Duh! tidak menyangka ia bisa seposessive ini.


Elusan di kepalanya membuatnya tersentak kaget. "Nduk, ndang siap-siap."


Sejujurnya ia belum terbiasa dengan perlakuan manis dari Gus Mu'adz atau Kang Akmal atau Mase, apapun itu yang terpenting Mu'adzam Akmal Khadizul Shiddiq suaminya. Jantungnya lemah jika dihadapkan di situasi manis yang di ciptakan suaminya ini. Ingatkan dirinya untuk bertanya kenapa suaminya itu bisa semanis ini. Bahkan sewaktu di pondok, suaminya ini terkesan cuek dengan sekitar.


Ia jadi teringat kala suaminya ini, pernah mengatakan jika akan bersilaturahmi ke rumahnya. Dulu memang sempat, ia sangat berharap hari itu akan terjadi, tapi melihat kedekatan antara suaminya dengan Shahla dan Ning Khafa membuat ia mengubur perlahan. Itu dulu sudah berlalu. Kalau sekarang suaminya itu benar-benar menepati ucapannya.


Tapi sebentar ada yang mengganjal, ini tentang Shahla. Seketika ia merasa takut sendiri. Bagaimana menjelaskannya pada Shahla. Hubungan kekerabatan suaminya dengan Shahla saja belum ia ketahui. Semoga saja Shahla mau mendengar penjelasannya nanti. Semoga Shahla masih mau bersahabat dengannya. Semoga, ia sangat berharap itu.


"Ning! malah ngelamun to." sentakan dari Mbok Sinem membuatnya tersadar. "Di rantosi Guse niku lo." kekeh Mbok Sinem.


"Eh, enggeh pripun Mas?"


"Ndang siap-siap, tumut neng pondok." jawab suaminya ini dengan senyum manisnya. Masyaallah, jantung ayo kamu kuat!


Berjalan di belakang suaminya menuju ke kamar. "Gadah tas ageng Nduk?" tanya Gus Mu'adz ketika baru sampai masuk ke dalam kamar.


Ia mengangguk. "Gadah, kedap." ia pun mengambil tas yang berada di almari barang, lalu menyerahkan ke arah suaminya ini.


"Teng Al-Bidayah?" tanyanya sambil mendudukkan dirinya di pinggir ranjang.


Ia menoleh menatap suaminya ini. "Emh, angsal tangklet?" melihat suaminya ini mengangguk. Ia menghirup udara dalam lalu perlahan menghembuskannya.


"Shahla niku sintene njenengan?" Ia tidak perduli jika suaminya ini, berpikir kalau dirinya cemburu pada Shahla. Sudah cukup dulu ia menyembunyikan perasaannya pada Shahla maupun Ning Bahiyyah. Sudah cukup menekan rasa cemburunya dulu, mendengar Ning Bahiyyah dan Shahla selalu menceritakan tentang suaminya ini. Itu sudah cukup, sekarang ia harus berani, karena Gus Mu'adz sudah menjadi suaminya.


Suaminya ini terkekeh sambil mengusap puncak kepalanya. "Sebelum Mase jawab, Nduk ileng kan, Mase pernah ngomong lek ape marani sampeyan neng omah?" ia mengangguk sebagai jawaban, tentu saja ia tidak pernah lupa. "Dadi Nduk wes saget nyimpulne kan, piye Mas ndek sampeyan?"


Kedua pipinya terasa panas, sisi sudut bibirnya tertarik keatas tanpa di perintah, kedua tangannya terangkat menangkup kedua pipinya. Masyaallah, bisa-bisanya ia bertingkah seperti ini. Hatinya kelimpungan sendiri. Meskipun suaminya ini tidak gamblang menyatakan 'aku sayang kamu, aku cinta kamu' tapi ucapannya barusan sudah membuktikan kalau hati suaminya ini miliknya. Ia semakin menyembunyikan rona wajahnya ketika suaminya ini mendekapnya dari samping. Wangi milik suaminya sepertinya akan menjadi candu baginya.


"Lek Nduke piye?"


Mendengar pertanyaan itu membuat pipinya semakin panas. Haduh! masak suaminya ini tidak peka. Ingin rasanya berteriak dengan berkata kalau, dirinya dari dulu sampai sekarang menjatuhkan hatinya pada dia. Oh, tentu saja itu tidak akan ia lakukan, tidak ingin membuat malu dirinya sendiri, apalagi di hadapan suaminya ini.


"Nggeh sami." gumamnya lirih, yang tentu dengan tidak ada jarak diantara kita, suaminya mendengar gumamnya. Merasakan dekapannya semakin erat, ia tidak bisa menyembunyikan senyumnya yang malu-malu. Perlahan tapi pasti kedua tangannya ikut mendekap suaminya. Ya Allah semoga nikmat yang Engkau berikan ini tidak membuat dirinya lupa.


"Dek Shahla iku cumak adikku. Jadi ngeten, iki radi rumit, tapi mugo ae Nduk paham." ucap Gus Mu'adz sambil melepas dekapannya, beralih menatapnya.


"Siyen, sebelum Abi kaleh Bunda simah, Abi simah riyen kaleh Ummah kandunge Mase. Nah, Ummah sedho pas melahirkan Mas. Mase di asuh Bunda. Tapi waktu niku Bunda tasek simah kaleh Ayah Iqbal, Ayah e Dek Khaliq. Sampek sini paham?"


Ia mencerna baik-baik penjelasan suaminya ini. "Dadose Gus Khaliq kaleh njenengan mboten kandung nggeh?"


"Enggeh leres. Terus enten masalah Bunda kaleh Ayah Iqbal, akhire pisah. Terus Bunda simah kaleh Abi. Nah, Bunda niki gadah saudara roudho'ah, lah niku Ayah Dzarrin, Ayah e Dek Shahla. Dadose Dek Shahla sami mawon koyok Nduk Khafa bagine Mase."


Ia mengangguk paham, tidak ada kebohongan dari cerita Shahla dulu. Memang suaminya ini dengan Shahla teman semasa kecil, bahkan suaminya menganggap Shahla seperti Ning Khafa yang artinya sudah dianggap sebagai adik kandungnya sendiri.


"Ehm, terus Gus Faaz kaleh Ning Luna kok saget kenal, kenal keng pundi?" tanyanya kepo.


"Ampun nimbali Abi kaleh Bunda ngoten, lek Bunda mireng, iso-iso sampeyan di —" suaminya ini mempraktekkan kelima jarinya mengerucut lalu terbuka berulang kali. Paham sekali ia, dengan maksud suaminya ini. Langsung saja ia menepuk pelan tangan suaminya. Dan membuat suaminya tergelak lepas.


"Kapan-kapan ae cerito tentang kisah e Abi kaleh Bunda. Sak iki Nduk e ndang siap-siap keburu dhuhur. Engken Dek Khaliq mriki maleh."


Cup


Seperti biasa, jika ia baru saja menerima kejadian tak terduga secepat kilat. Mengerjap-ngerjap kedua matanya seolah mengolah lalu mengartikan kejadian beberapa detik lalu. Bunyi pintu tertutup membuat tangan kanannya terangkat ke pipi kanan. Masih terasa, sangat terasa.


Masyaallah!! langsung ia menjatuhkan dirinya di ranjang. Berguling-guling kesana kemari. Malu bercampur senang. Duh! tidak tahu lagi harus mengekspresikan bagaimana lagi.


Apa memang seperti ini ya rasanya kasmaran?


Apa ini rasanya pacaran dengan suami sendiri?


Apa perasaan seperti ini yang kata Gombloh 'kalau cinta sudah melekat, tahi kucing rasa coklat'?


Astaghfirullah apa-apaan tahi kucing rasa coklat. Yang ada Mas Mu'adz manisnya seperti rasa coklat. Duh!! malah dumel menggombal. Eh, tunggu dulu, dirinya kan belum mencicipi Mas Mu'adz?!


Eh Astaghfirullah!! Kiya. Bisa-bisa berpikiran melenceng seperti itu. Rutuknya sendiri sambil mengusap kepala seolah menghilangkan pikiran-pikiran yang tidak sopannya masuk dalam otak kecilnya ini.


"Ajenge sampek kapan Nduke ngoten niku?"


Sontak saja ia menoleh, melihat suaminya bersandar pada dinding pintu. Sejak kapan suaminya berada disini? Sebentar, ia melihat letak hijabnya yang miring, menceng, tidak simetris atau apapun itu, dan lagi seprei dan selimut sudah tak terbentuk lagi.


Illahirabbi Kiya malu-maluin!! pekiknya dalam hati.


******


Kemungkinan kedepannya, bab-bab selanjutnya banyak terjadi keuwuan.


Jadi yang masih single fi sabilillah, sabar nggeh! kalau tidak tahan lagi, tadahkan kedua tangan meminta pada Allah.


Mulai terbuka sifat Ameera yang sebenarnya. Mungkin di part-part sebelumnya hanya sebagian kecil yang aku tuangkan gambaran karakter Ameera.


Aku berharap semua man teman masih sudi membaca cerita yang recehan ini.


Semoga ada yang diambil sebagai pelajaran nggeh!