
Selamat Membaca
Sampai sekarang, keadaanya masih dikatakan murung. Namun pagi ini Ning Bahiyyah, memberanikan untuk keluar dari ndalem. Sepertinya ia sangat butuh angin segar. Dengan melepas sandal nya, ia berjalan di halaman ndalem. Terlihat beberapa santri sedang bersih-bersih. Kali ini ia sendiri, karena biasanya orang yang selalu menemani kebetulan tadi malam izin untuk pulang.
"Akmal wes balek Kang?" Pendengarnya lebih tajam kala mendengar nama itu terucap. Ia menghentikan langkahnya.
"Sampun Kang, sek tas iki mau."
"Tumben Akmal balek, biasane betah neng pondok."
Ia masih mendengar seksama, menunggu jawaban dari Kang Wildan. Meskipun samar, biasanya tiap pagi selalu mendengar suara dari Kang Akmal, ternyata hari ini dia pulang. Ada rasa kecewa menyusupnya. Entah, ia tidak tahu dengan dirinya sendiri, ia sendiri yang menghindar tapi ia juga yang uring-uringan. Aish...
"Jarene enek urusan ngunu Kang."
"Urusan opo? kadang aku ape takok-takok karo Akmal iki malah aku sungkan dewe."
"Hehe, masio aku, kadang iyo sungkan karo Akmal, Kang. Ancen gawanan bayi ngunu paling."
Mendengar ucapan Kang Wildan yang semakin ngelantur, ia melanjutkan jalannya. Kali ini tujuan ke belakang pesantren puteri. Persawahan luas membentang ruas jalan, yang tepiannya di tanami aneka bunga refugia, pengusir hama.
"Ning, ajenge teng pundi?" Mendengar itu ia berbalik arah. Ia bisa melihat wajah ceria orang yang menyapanya.
"Ajenge teng saben Mbak, jalan-jalan. Tumut?" tawarnya. Mungkin nanti bisa jadi aksi bertanya.
"Angsal a Ning?" Ia mengangguk, memberi kode untuk mengikutinya.
"Enak nggeh Mbak, suasanane ayem." ucapnya sambil memandang langit biru tanpa awan.
"Nggeh Ning."
Melihat ada gubuk, sepertinya enak mengistirahatkan diri di sana. Banyak berlalu lalang orang-orang akan pergi ke sawah. Sesekali ia bertegur sapa. Di bawah gubuk terdapat aliran irigasi, yang airnya bening. Ia berulang kali menghirup udara yang masih sejuk.
"Njenengan kok mboten tumut wangsul Mbak?"
"Wangsul? oh, mboten Ning. Benten server toh. Hehe.."
Ia juga ikut tersenyum sambil mengangguk. "Sampeyan cedek tah Mbak La?"
Terlihat dari sudut matanya, orang yang di sampingnya ini mengangguk. "Nggeh lumayan Ning, kan ket alit sareng kaleh Mase."
'Mase?' Rasanya ia tidak rela dengan panggilan itu.
"Bener enggak sih Mbak, Kang Akmal wangsul niki ajenge khitbah seseorang?" Sebetulnya pertanyaan ini hanya praduganya saja. Ia hanya ingin tahu kenapa Kang Akmal tiba-tiba pulang. Ia terlalu takut jika ucapan Kang Akmal yang akan mengkhitbah seseorang benar-benar terjadi dalam waktu dekat.
"Emm, koyok e mboten to Ning. Mase cumak sanjang lek Aa' wangsul ngoten."
"Aa' ?"
"Nggeh Aa', niku rayine Mase. Kan Aa' kuliah teng Jogja kebetulan wangsul."
Ia semakin tergugah jiwa kekepoannya. Selama ini, ia tidak tahu mengenai latar belakang keluarga Kang Akmal. Ia mengangguk teratur sambil ber-oh. "Kang Akmal kok mboten kuliah pindah Mbak?"
"Emm, koyok e siyen sempat di tawari beasiswa teng UIM Madinah kaleh Bunda, tapi Mase mboten purun."
"UIM Madinah?" Ia menatap Shahla terkejut mendengar itu. Terlihat Shahla mengangguk lalu menggeleng cepat.
"Eh, Astaghfirullah duh!! lambe-lambe." gumam Shahla sambil menepuk-nepuk bibirnya.
Sungguh di balik sikap sederhana Kang Akmal, dia begitu rapi menyimpan apa yang dia punya. Masyaallah Kang!! Kalau seperti ini, bagaimana tidak terus menganggumi.
Tapi suasana seperti semalam yang ia suka, bukan suka karena keributan pertengkaran yang mengarah negatif, namun yang ia suka momennya, kehangatannya, kekeluargaannya. Kapan lagi rumah ini ramai suara drama antara Bunda dan Dek Khaliq.
Setelah muroja'ah pagi, ia berjalan ke arah dapur. Ia selalu ingat kalau Bunda tidak ada jadwal shift malam, Bunda selalu memasak di dapur sendiri. Memang Bunda dan Abi sengaja tidak ada khadamah yang membantu di sini. Jadi semua di lakukan mandiri.
"Bunda." sapanya, "Mas bantu nopo niki?"
"Loh, sampun mantun nderese Mas?" Bunda yang terlihat mencuci piring kotor di wastafel.
"Sediluk mawon Nda, hehe.., Aa' pundi Nda? dereng mantun?" Ia melihat beberapa macam sayuran di atas meja, ia berinisiatif untuk memotongnya.
"Nderes e campur hapean paling Mas, mangkane suwi."
Nada bicara Bunda masih ketus jika membicarakan Dek Khaliq. Ia hanya terkekeh. Ia tahu Bunda sebenarnya tidak marah, karena selama ini, ia tidak pernah tahu Bunda marah itu seperti apa. Paling-paling hanya kesal, itupun yang paling membuatnya kesal hanya Abi Fikri. Ia hanya terkekeh kala Bunda dan Abi Fikri berada di satu lingkaran. Tapi memang, Abi Fikri kalau bertemu Bunda selalu usil, makanya Bunda sudah kesal duluan.
"Nda, ndek wingi nane, Mas sampun menolak Ning Bahiyyah. Dengan alasan, Mas ajenge khitbah seseorang." ungkapnya.
Ia ketar-ketir sendiri menunggu respon Bunda, jangan sampai Bunda juga ikut dingin dengannya.
"Sios seng kaleh niko Mas?" Ia mengangguk mantab. Bunda yang sedang memotong tahu, menghentikan kegiatan Beliau sejenak.
"Kapanane, Ayah Dzarrin omong-omongan kaleh Bunda." jeda Bunda. Reaksi tubuhnya tiba-tiba tegang, perasaannya mulai tidak karuan, semoga apa yang terpikirkan tidak terjadi.
"Asline wau dhalu Abi kaleh Bunda ajenge bejo teng Mas, cumak gara-gara Aa' ae, Bunda dadi supe." Ia masih mendengar dengan hati was-was.
"Ayah Dzarrin sanjang teng Bunda lek nitipne Nduk Shahla teng Mas." Tangannya yang memotong kacang seketika terhenti. Ia harus berpikiran positif.
"Nggeh kan teng pondok Dek Shahla sampun Mas jogo, Nda."
"Sanes niku Mas, nitip dalam artian benten."
Ia tidak tahu harus berkata apalagi, harus berbuat apalagi. Seketika ia down. Ayah Dzarrin yang memintanya sendiri. Bagaimana ia bisa menolak? Ayah Dzarrin sudah seperti Ayahnya sendiri, meskipun tidak ada ikatan darah.
Usapan lembut di tangannya membuat ia menoleh, menatap Bunda. "Mas, Abi kaleh Bunda mboten membatasi Mas, semua keputusan enten teng Mas kiambak. Abi kaleh Bunda membebaskan Mas memilih. Bunda ngertos niki berat dhamel Mas. Tapi Mas, harus yakin, Bunda mesti dukung keputusane Mas. Entah Mas kaleh sinten mawon simah e, yang paling penting, Bunda pingin Mas bahagia."
"N-nda, Abi sampun ngertos lek Mas seneng teng--"
"Dereng Mas, Bunda dereng crios teng Abi. Ampun di jadikan beban Mas, di jalani alon-alon. Ojo sampek nderes e ke ganggu." ucap Bunda yang kemudian berdiri menggoreng tahu.
Obrolan berat dengan Bunda membuat pikirannya jadi semrawut. Walaupun Abi dan Bunda membebaskannya, walaupun Bunda mendukung penuh keputusannya namun ada beban tak kasat mata yang jatuh ke bahunya.
Allahurabbi..
"Bunda cantik, sampun to? Aa' beneran mboten semerep."
Aa' Khaliq cuma nyempil aja ya di lapak ini, hehe..
Follow akun ku dong!!
Hehe, maksa yak!!