MU'ADZ

MU'ADZ
LIMA PULUH LIMA



Selamat Membaca


 


 


 


 


Malam sudah semakin larut. Seorang laki-laki dengan sarung bercorak wayang, yang sebentar lagi berubah status menjadi ayah itu berjalan menuju ke kamarnya, mengulurkan tangannya untuk membuka pelan pintu kamar agar istrinya tidak terganggu.


Jadwalnya yang mengisi kitab di pondok putra hingga larut malam baru saja selesai. Sebenarnya ia tidak tega untuk meninggalkan istrinya sampai terlelap tidur. Karena semenjak kehamilan, istrinya ini berubah menjadi sosok perempuan yang sangat manja terhadapnya. Dulu masih awal-awal, istrinya masih menunggunya pulang, sampai terkadang terlelap di sofa ruang tengah. Lama-lama pun ia jadi tidak tega, menyuruh istrinya untuk tidur telebih dahulu.


Namun malam ini ia dibuat heran, istrinya belum terlelap. "Assalamualaikum, kok dereng tilem Nduk e?" Ia mendekat kearah istrinya dan istrinya ini langsung tanggap untuk mencium punggung tangannya. Kitab yang tadi ia bawa, ia simpat di dalam laci.


"Sampun yah menten kok dereng tilem, mikirne nopo Nduk e?" tanyanya sambil mendudukkan dirinya di sisi ranjang. Tangannya terulur mengelus rambut panjang milik istrinya.


"Mboten saget tilem Mase," rengek Ameera sambil beringsut memeluk pinggangnya membuat ia terkekeh gemas. Mu'adz tidak heran jika Ameera bermanja seperti ini, mungkin hormon ibu hamil.


"Hmm, ambu-ambune koyok pingin nopo ngunu," godanya pada Ameera, lalu mendapat cubitan kecil pada pinggangnya membuat dirinya mendesis. Pasalnya, istrinya ini mulai suka mencubit semenjak hamil ini, mana kecil lagi cubitannya.


"Ish, Mase niki!" rengut Ameera, lalu beringsut duduk. Sikap manja istrinya ini membuatnya gemas sendiri. Ia pun tergelak melihat bibir istrinya maju.


Tangannya membuka peci, lalu menyimpannya diatas laci. Lalu menaiki ranjang mendekat kearah istrinya. Tangan kanannya menyingkirkan sejumput rambut yang menghalangi wajah ayu istrinya ke belakang telinga. Jika di pandang terus menerus, istrinya ini semakin menguarkan paras ayunya. Ditambah lagi dengan perut yang membuncit seperti ini. Jadi gemas sendiri.


"Tasek kepikiran Nduk Shahla?" tebaknya. Terlihat istrinya ini menggeleng lalu mengangguk. "Loh kok ngunu?" tanyanya heran.


Bukannya menjawab, istrinya ini malah tertawa. "Pingin maem masakane Shahla Mase," cengir Ameera.


Dirinya dibuat cengo mendengar permintaan istrinya. Sekilas ia melirik jam dinding yang sudah menunjukkan hampir tengah malam. "Sak niki Nduk e?" tanyanya hati-hati disertai melembut.


Melihat raut wajah istrinya meredup, membuat dirinya merengkuh tubuh yang menurutnya masih terlihat mungil meskipun ada janin yang dikandung. "Nduk e wau dereng maem?"


"Sampun Mase, tapi moro-moro puengen mie damelane Shahla," lesu istrinya yang kemudian melepas rengkuhannya.


 "Mase damelne nggeh? mesakne gugah Nduk Shahla," tawarnya. Kalau itu Bunda, masih bisa usahakan. Tapi kalau Nduk Shahla? Pasalnya baru tadi mereka berbaikan, masih sedikit rasa canggung, apalagi menyuruh Nduk Shahla membuatkan mie.


Ameera menggeleng keras. "Pingine mie damelane Shahla Mase. Shahla lek masak mie ne niku benten," rengut Ameera.


"Nggeh Mase di uruk i carane, kersane Mase seng damelaken nggeh Nduk!" Ia berusaha memberi pengertian istrinya. Namun sepertinya tak mempan.


Akhirnya ia menghela napas. "Nggeh sampun, ayo teng Nduk Shahla riyen nggeh. Engken lek Nduk Shahla mboten purun, ampun di pekso nggeh?" Raut istrinya langsung berubah cerah, mengangguk semangat.


Dengan gerakan cepat istrinya menyambar kerudung instan, lalu berjalan ke arah pintu kamar. "Ayo Mase!" ajak istrinya dengan semangat. Ia hanya menggeleng, terkekeh gemas melihat sikap istrinya ini.


Dengan keadaan ruangan yang gelap, hanya penerangan di luar rumah, membuat istrinya memegang erat lengannya. Berjalan menuju ke kamar Nduk Khafa yang di tempati oleh Nduk Shahla. Iya, memang semenjak kejadian pagi tadi, Bunda menyuruh Nduk Shahla untuk menginap.


Tangannya terulur mengetuk pintu. "Nduk, Nduk Shahla!" Tidak ada sahutan dari dalam.


"Nduk Shahla tilem lo Nduk e, benjeng mawon nggeh? nopo Mase mawon seng damelne?" tanyanya bernegosiasi.


Ameera menggeleng keras, lalu menggantikan posisinya. "Shahla, La," panggil istrinya diiringi ketukan tangan.


"La, Shahla," panggil lagi istrinya tak menyerah.


"La, Shahla," panggil istrinya tanpa menyahuti ucapannya tadi. Lagi-lagi tidak ada jawaban dari dalam. "Nggeh sampun Mase, Nduk e ngantuk," ucap istrinya lesu lalu berbalik.


Namun suara pintu terbuka membuat istrinya berbalik dengan mata berbinar. "Shahla,"


"Hmm, opo Mer," balas Nduk Shahla dengan suara serak khas bangun tidur.


"Aku pingin mie La!" Antusias istrinya.


Ia hanya menggeleng lucu melihat tingkah kedua perempuan ini. Yang satu nyawanya masih separuh, yang satunya lagi merengek seperti anak kecil meminta sesuatu pada ibunya.


"Gawekne iyo La, aku puengen,"


"Sek, sek. Sukmoku urung ngumpul," ucap Nduk Shahla menghentikan tangan istrinya yang akan meraih tangan Nduk Shahla. Lagi-lagi ia dibuat terkekeh.


Tak lama terdengar hela napas dari Nduk Shahla. "Jam piro seh? Ngidammu yah mene banget. Emang oleh maem mie, opo meneh pedes," cerocos Nduk Shahla sambil menarik tangan istrinya menuju dapur. Sedangkan dirinya ditinggal begitu saja.


"Kan mek iki tok aku maem mie, ojo pedes lah lombok siji ae yo La?" Ia masih mendengar samar-samar suara istrinya yang sudah berbelok menuju dapur. Ia lebih memilih duduk di ruang tengah sambil menunggu mereka selesai.


Entah sudah berapa lama ia ketiduran. Kepalanya sedikit pening, karena ia sadar tadi menunggu istrinya dan Nduk Shahla. Dengan sedikit memijat kepala, ia berjalan menuju kerah dapur. Tepat belokan, ia menghentikan langkahnya. Karena ia mendengar percakapan mereka.


Sejenak jantungnya berdegub kencang. Ototnya seolah melemas. Kedua matanya mulai memanas. Ia berulangkali menggelengkan kepala.


 


 


 


 


 


 


🌵🌵🌵🌵🌵🌵🌵🌵


 


 


Assalamualaikum! Pripun sehat sehat nggeh!!


Enten yang bisa menebak, kenapa Mas Mu'adz sampai sebegitunya?


Percakapan seperti apa yang Shahla dan Ameera sampai membuat mas Mu'adz seperti itu?