MU'ADZ

MU'ADZ
BAB DELAPAN



*Vote dulu nggeh!!!


Selamat Membaca


Sekitar pukul setengah tujuh, motor yang di kendarai Kang Akmal meninggalkan pesantren Al-Bidayah, dengan membonceng Gus Nawwaf. Jalanan nampak ramai, berlalu lalang anak sekolah melintas.


"Kang, sowan disek teng Yai Ghozali." Suara Gus Nawwaf yang sedikit keras tepat di sebelah telinganya.


"Nggeh Gus !!" jawabnya sambil mengangguk.


Ia pun menambah sedikit kecepatannya. Hanya menempuh jarak sekitar dua kilo meteran. Sekarang sudah sampai di gerbang pesantren Annuriyah. Ia pun mematikan motornya, lalu menuntun masuk melewati gerbang.


Setelah parkir di dekat ndalem. Ia mengikuti Gus Nawwaf untuk masuk ke dalam ndalem. Dengan mengucap salam, pintu pun terbuka. Terlihat Gus Reza yang membukakan pintu. Ia hanya menundukkan pandangannya.


"Owalah Gus Nawwaf, monggo pinarak!!" Gus Nawwaf menyalami Gus Reza.


Ia pun juga menyalami Beliau. "Suwi mboten mriki Gus!!" Bisik Gus Reza sambil memeluk sekilas. Ia hanya tersenyum menjawabnya.


Gus Nawwaf dan ia di persilahkan duduk, lalu Gus Reza berpamit untuk kebelakang. Tak lama kemudian datanglah Yai Ghozali, Gus Reza beserta Ning Arsyila yang membawa nampan.


"Assalamualaikum " Salam Yai Ghozali


"Waalaikumussalam Warohmah" Jawab kami serentak.


Langsung saja, Gus Nawwaf menyalami Yai Ghozali. "Kabar Yai Zaki pripun Gus?" tanya Yai Ghozali pada Gus Nawwaf yang tangannya masih dalam genggaman Yai Ghozali.


"Alhamdulillah sae Yai. Wonten salam kagem Yai, sangking Abah."


"Waalaikumusalam." Yai Ghozali menepuk-nepuk pelan punggung Gus Nawwaf. "Sampun gadah calon Gus?" Gus Nawwaf sambil mempersilahkan dirinya untuk gantian mencium tangan Yai Ghozali.


"Hehe, dereng Yai, pandungane mawon." Jawaban Gus Nawwaf membuat Yai Ghozali dan Gus Reza juga ikut terkekeh.


"Jarang mriki, nopo krasan nemen teng pondok?" tanya Yai Ghozali padanya sambil menepuk punggungnya.


"Krasan enten calon e niku Bah, palingan." celetuk Gus Reza membuat Yai Ghozali terkekeh.


Ia melirik sekilas Gus Reza dengan sorot mata untuk berhenti. Namun yang namanya Gus Reza, tetap jahil orangnya.


"Arash nang ngendi nduk?" tanya Yai Ghozali pada Ning Arsyila-istri Gus Reza.


"Tasik di jak Mbak —"


"MAS ADZ!!" Teriakan anak kecil berusia lima tahun memotong ucapan Ning Arsyila.


Ia pun langsung menoleh, dengan tersenyum lebar menyambut Gus Arash. Dengan berlari Gus Arash langsung memeluknya. Ia memang dekat dengan Gus Arash. Sampai pernah Gus Arash ikut dengannya pulang. Kalau dengan Dek Khaliq, Gus Arash malah tambah lengket.


Semenjak mengabdi di Al-Bidayah, ia jarang sekali untuk pulang. Jadi ia juga jarang sekali untuk sowan kesini. Hanya bisa bertemu kala hari raya Idul Fitri saja, saat berkumpul di rumah Ibu-Ibunya Bunda.


"Mas, aku sampun gadah kolam, koyok teng Ibuk. Ayok tak dhudhuhi!!" Ajak Gus Arash sambil menarik nya


"Mas Arash!! Mase nembe rawuh, tasek kesel niku lo. Engken mawon nggeh!!" cegah Ning Arsyila.


Ia pun menoleh pada Yai Ghozali dan Gus Reza seolah meminta persetujuan. "Mboten nopo-nopo Ning. Hayuk cus Gus!!" ajaknya pada Gus Arash.


Sebelum keluar ia sempat berpamit pada Gus Nawwaf, setelah mendapat persetujuan, ia pun melanjutkan untuk mengikuti Gus Arash. Ia hanya mengikuti kesana kemari Gus Arash berjalan. Dari ke kolam ikan sampai ke kandang sapi perah milik Gus Reza.


Tak terasa waktu terus berjalan, sampai Gus Nawwaf menelfonnya untuk segera ke ndalem. Ia pun dengan menggendong Gus Arash di belakang berjalan menuju ndalem.


"Assalamualaikum." Salamnya sambil menurunkan Gus Arash.


Semua yang berada di ruangan ini pun menjawabnya. Sebelum berpamit, Ia dan Gus Nawwaf di persilahkan untuk makan terlebih dahulu. Setelah itu Gus Nawwaf berpamit pada Yai Ghozali. Ia pun bersiap dengan membawa jaket dan tasnya.


"Kulo tumut Mas!!" ucap Gus Arash dengan cemberut.


Ia hanya tersenyum sambil mengelus kepala Gus Arash. "Mas!! Insyaallah benjeng-benjeng maleh nggeh, lek Mase nginep, baru Mas Arash tak jemput."


"Tenan lo nggeh?" tanya Gus Arash meyakinkan


"Insyaallah." jawabnya setelah itu Gus Nawwaf dan ia keluar dari ndalem.


Sudah keluar dari pesantren Annuriyah, ia menancapkan gas menuju ke pesantren tempat Gus Nawwaf menimba ilmu. Di tengah-tengah keramaian, Gus Nawwaf tampak dari sepion mendekat ke arahnya. Dengan wajah yang tampak gelisah dan bingung.


"Sampeyan kok cedek karo Gus Arash, Kang? Sampeyan dzurriyat e yo?" tanya Gus Nawwaf


"Masyallah!! selama iki kok aku lagek tas ngerti to." ucap Gus Nawwaf


"Hehe, kan ponakan keng Nabi Adam Gus!!" ujarnya dengan bercanda


"Seng genah to Kang!! serius iki!!"


"Loh estu lo Gus, hehehe" jawabnya yang masih bercanda


"Alah, alah, wes mandek ndek kopian ujung prapatan kono. Butuh asupan aku." ucap Gus Nawwaf


"Aye ye Kapten Gus!!"


 


 


Sampai di warung kopi yang di arahkan Gus Nawwaf tadi. Ia dan Gus Nawwaf langsung memesan kopi. Ternyata letaknya tidak jauh dari pesantren tempat Gus Nawwaf nyantren. Banyak kang-kang santri yang juga ngopi disini. Ia baru tahu ada warung ngopi disini, karena lokasinya yang jauh dari jalan raya.


"Oh iyo Kang, aku wes tahu ngomong urung, Yai Nawawi gerah."


"Innalillahi wa Innailahi rajiun, dereng Gus, gerah nopo Gus? sak niki pripun?" tanyanya beruntun


"Ndek ingi aku oleh kabar, tapi sak iki wes teng ndalem kok e." jawab Gus Nawaf


Seketika ia gelisah, tidak ada yang mengabarinya sama sekali. Astaghfirullah!!


"Jujur nang aku Kang!! Sak jane sampeyan iki sopo?" tanya Gus Nawwaf


Ia terdiam sebentar. "Kulo nggeh Akmal, Gus!! La sinten maleh?" jawabnya yang sedikit ketir, salah sedikit ia takut jatuhnya berbohong.


"Bener ponakane Gus Reza?" ia hanya mengangguk sebagai jawaban.


"Dadi sampeyan puterane Ning Riza?"


"Eh, sanes Gus. Kulo namung ponakan sambung Gus." jawabnya


"Ponakan sambung piye Kang? aku kok ora paham."


"Hehe, nggeh ngoten niku pokok e Gus. Sampun talah Gus introgasine. Kulo namung santrine Abah Zaki." jawabnya


Gus Nawwaf tampak merenung, entah apa yang di renungkan. Sedangkan ia, masih berusaha santai sambil sesekali menyuapkan gorengan.


"Kang, lek sampeyan tak olehne Adik ku gelem?"


Seketika ia langsung tersedak saat menyesap kopinya. Ia terkejut sekaligus kaget dengan ucapan Gus Nawwaf. Berarti secara tidak langsung Gus Nawwaf menyetujui dirinya dengan Ning Bahiyyah.


"G-Gus." Seakan tercekat tidak bisa berbicara apa lagi.


Gus Nawwaf hanya menepuk-nepuk pelan punggungnya sambil tersenyum. "Aku ora pingin adikku terus-terusan terjebak karo rosone, Kang. Ora usah di ungkapkan neh, sampeyan mesti wes ngerti piye Bahiyyah ndek sampeyan." papar Gus Nawwaf.


Ia masih bergeming, tak menjawab. Bingung harus menjawab, mending diam saja kalau tidak bisa menjawab.


"Opo tenan, sampeyan wes di suwun Gus Faaz? kagem Ning Khafa?" tanya Gus Nawwaf


Benar-benar bingung harus menjawab apa, di satu sisi ia gelisah dengan keadaan Abah Nawawi, di satu sisi ia di tuntut untuk menjawab pertanyaan Gus Nawwaf.


Ya Allah pripun niki?


Gus Nawwaf menepuk-nepuk punggungnya lagi, seolah menyadarkannya. "Aku njaluk tulung, istikharah o disek yo Kang!!"


 


 


Muhammad Nawwaf Ismail


Semoga selalu menikmati setiap bab nggeh


See yuuu