MU'ADZ

MU'ADZ
TIGA PULUH



*Vote dulu nggeh sebelum baca!!!


Sudah siap!! tarik nafas riyen nggeh!!


_______


"Gus! sampeyan purun nikah karo Kiya? Abah Imam, pengen sampeyan nikah karo Kiya. Pengen dadi waline Kiya."


Ia yang berdiri tidak jauh dari Yai Basyir seketika menunduk, harus bagaimanakah ia? Hatinya berdebar kencang, apa ini waktunya ia melepas rasa cintanya pada seseorang untuk rasa hormatnya pada guru. Lakhaula wala quwwata illabillahil 'aliyyil 'adzim.


Dengan mengambil nafas dalam, ia mendongak menatap Yai Basyir bergantian dengan Mbah Yai Imam. "Bismillahirrahmannirrahim, enggeh dhalem siap." ujarnya dengan mantab. Di detik itu juga, ia memasrahkan semua pada Allah. Kalaupun 'dia' bukan jodohnya, ia yakin Allah akan memberikannya yang terbaik.


"Alhamdulillah."


________


Selamat Membaca


"Ankahtuka wa zawwajtuka Adzkiya Ameera Dzakariya bi Mu'adzam Akmal Khadizul Shiddiq bimahri tsalatsati malayin rupiah khalan."


"Qobiltu nikakhaha watazwijaha bimahrin madzkurin khalan."


Suara video itu berasal dari gawainya. Semua keluarga besar berkumpul dan mendengarkan video tersebut. Termasuk juga, seorang perempuan yang namanya di sebutkan oleh Alm. Mbah Yai Imam dalam kalimah ijab. Sungguh demi Allah, takdir ini sangat indah. Di saat ia berusaha ikhlas untuk melepas seseorang, demi hormatnya pada sang guru. Lalu tanpa di sangka-sangka, istrinya ini adalah seorang memang sangat ingin ia nikahi.


Sewaktu di rumah sakit, ia memang di berikan secarik kertas oleh Yai Basyir, yang berisi nama serta ayah, calon istrinya. Ia benar-benar tidak menyangka kalau itu nama lengkap 'dia'. Iya, Dia si penyuka bunga dandelion. Dia si perempuan dengan sorot matanya yang memancarkan ketenangan baginya. Dia perempuan yang selalu ia minta pada pencipta-Nya. Dan dia adalah orang yang tiba-tiba masuk ke ruangan rawat inap Alm. Mbah Yai Imam setelah prosesi do'a dilakukan.


Adzkiya Ameera Dzakariya, istri sahnya. Jujur saja, dari dulu memang ia tidak tahu nama lengkap Ameera. Dan ia pun juga tidak mencari tahu. Cukup nama 'Ameera' saja yang ia sebut dalam sepertiga malamnya. Tahu bagaimana perasaannya kali ini? Sungguh tiada tara nikmat Allah yang di berikan padanya.


*******


"Dadi Nduk, sampeyan sak iki wes sah istrine Gus Mu'adz. Seng manut karo Guse. Ridhone sampeyan sak iki enek neng Guse." Yai Basyir menatap lembut pada Ameera yang keluarganya memanggil dengan panggilan Ning Kiya. Istrinya itu sedari tadi menunduk lalu mengangguk sebagai jawaban.


Ia bisa melihat titik basah di kerudung coklat milik Ameera. Bunda yang berada di samping Ameera hanya mengelus menenangkan. Ia berharap semoga, Ameera bisa menerima pernikahan dadakan ini, dan yang terpenting mau menerimanya sebagai suami.


"Nduk, kenal kaleh Bunda kan?" Tanya Bunda sambil menegakkan kepala istrinya itu. Di wajah istrinya masih ada lelehan air mata, dengan telaten Bunda menghapusnya. Seketika ia mendongak mengalihkan perhatiannya. Ia tidak sanggup melihat wajah istrinya itu.


"Sak niki, Nduk Kiya mboten kiambakan. Enten Bunda, Abi, Dek Khaliq, terus Nduk Khafa. Kabeh iki keluargane sampeyan." ucap Bunda sambil memeluk Ameera yang masih menangis sesenggukan.


Dari arah samping kiri, Nduk Khafa mendekapnya. Terasa basah di lengan bajunya. Ia tersenyum lalu mendekap Nduk Khafa. Memang Nduk Khafa, mempunyai rasa empati berlebih, seperti Bunda yang sekarang juga nampak menitikan air mata. Ia mengelus punggung Nduk Khafa, menenangkan.


Menyapu pandangan, ada Abah Shiddiq, Yai Basyir, Abi, Umi Rumanah, Bu Nyai Zahroh dan Dek Khaliq, semuanya bersatu dalam aura kesedihan. Apalagi Umi Rumanah dan Bu Nyai Zahro juga ikut menitikkan air mata.


"Le, mahare wes di wehne?" pertanyaan dari Abah Shiddiq membuat pelukan Bunda dan istrinya itu terlepas. Begitu pula dengan dekapan dari Nduk Khafa.


Dengan cekatan, ia mencari tasnya tadi. Mengambil amplop putih yang berisi mahar lalu meletakkannya di hadapan Ameera-istrinya. Terlihat gerakan pelan tangan istrinya itu mengambil. "Matur suwun." Ia mengangguk dengan sedikit senyum.


"Kagem selanjute saget di matur lain dinten ngoten nggeh Yai?" Tanya Yai Basyir pada Abah Shiddiq.


"Lek wes adem, ndang di sahne negoro pisan sekalian walimah e." ujar Abah Shiddiq.


"Enggeh leres Yai. Lek ngoten sampun cekap dhalu niki. Monggo kulo aturi istirahat. Subhânakallâhumma wa bihamdika asyhadu alâilâha illâ anta astaghfiruka wa atûbu ilaik. Wasalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh."


Setelah Yai Basyir mengucap itu, semua nampak membubarkan diri masing-masing. Ia berdiri menghampiri Dek Khaliq yang sekarang mengumpulkan sampah sisa-sisa tahlilan tadi. Sebenarnya ia bertanya-tanya, kenapa wajah adik nomer duanya ini terlihat murung sedari tadi.


"Mboten enten Mas, cumak kepikiran sesuatu mawon." jawab Dek Khaliq beralih merapikan buku tahlil.


"Sampeyan ora nesu neng Mas kan? perkoro nikah iki?!"


"Mboten Mas, gek teng nopo Aa' nesu iki lo. Cumak Mas, setunggal seng Mas harus tahu."


"Tahu opo A' ? Tahu tempe?" kekehnya. Nah! kan beda lagi manggilnya. Sesuka-suka lidahnya saja lah.


Dek Khaliq mendekat. "Sebenere Mase di kengken Abah Nawawi keng menikahi Tsana."


Kedua matanya melebar mendengar ucapan dari Dek Khaliq. "Loh Dek?"


Dek Khaliq pun menceritakan kepadanya tentang perjodohan yang akan dilakukan Abah Nahrowi padanya dengan Bita atau Tsana-Dek Khaliq memanggilnya. Sampai ia dibuat terkejut lagi dengan rencana Dek Khaliq yang berinisiatif menggantikannya untuk menikah dengan Bita.


"Matur teng Abi seng apik-apik. Mase yakin Abi saget ngerti. Mase asline yo ora setuju lek sampeyan mengorbankan diri. Mase pengene, sampeyan milih calon seng bener-bener Aa' pengeni, uduk dadi badhal ngene iki."


"Sami mawon kan kaleh Mase, sami-sami mengorbankan diri." ucapan Dek Khaliq memang terdengar sarkas, namun sama sekali tidak melukai hatinya. Ia justru tersenyum lebar pada Dek Khaliq. Ia baru ingat percakapan dengan Bunda tadi.


"Mase sae-sae mawon?" Bunda menatapnya dengan sendu.


Ia memang di utus Bu Nyai Zahroh untuk mengantarkan Bunda ke kamar tamu. Jelas saja Bunda tahu dengan pernikahan dadakannya ini. Pasti melihat video yang ia kirim pada Abi tadi.


"Alhamdulillah sae Bunda. Pandungane nggeh." Jawabnya bersimpuh di kaki Bunda selepas meletakkan tas yang di bawa Bunda tadi.


"Selalu, Bunda mboten putus dungakne anak-anake Bunda." elusan tangan Bunda berada di kepalanya. Memang pecinya ia lepas sebelum kepalanya ia rebahkan ke pangkuan Bunda. "Mulai saat niki belajar ikhlas ngelepasne lare seng di senengi Mas nggeh? Bunda mboten pengen Mas niku mboten saget nerimo istrine Mas."


Ia mendongak, menatap Bunda yang mengusap air mata. Dengan tersenyum, ia berkata. "Bunda, Bunda ampun kuwatir. Mas Mu'adz mboten nopo-nopo, estu niki. Lek ngeten niki malah Mas Mu'adz seng kuwatir teng Bunda. Senyum nggeh? engken Mas di amuk Abi, bahaya." jawabnya diiringi kekehan.


"Bunda serius niki. Tunggal dhene, Bapak anak podo ae. Gak iso di ajak serius." Seketika tawanya pecah mendengar gerutuan Bunda. Memang keadaannya seperti itu, entah itu Abi, ia, apalagi Dek Khaliq. Mengatasi kekawatiran dua orang perempuan yang sangat di sayangi, Bunda dan Nduk Khafa dengan menyelipkan candaan.


Mengambil kedua tangan Bunda. "Bunda, lare seng Mas ajenge khitbah nggeh Ameera niki."


"Ameera?"


"Enggeh Bunda, Ameera, teng pondok panggilane Ameera. Eh, teng mriki malah Ning Kiya. Leres, awale niku Mas Mu'adz menikahi Ning Kiya niki atas dasar hormat kaleh Alm. Mbah Yai Imam, tapi niku sak derenge Mas Mu'adz semerep kaleh Ning Kiya. Wong teng pondok mawon Mas Mu'adz mboten semerep nama lengkape Ameera utawi Ning Kiya niki. Dadose nggeh ngoten."


"Lahaula walaquwwataillabillah hil aliyil adzim, Ya Allah, Alhamdulillah." Bunda langsung merengkuhnya.


*******


Alhamdulillah!! Part panjang seribuan lebih kata.


Yang menebak-nebak, selamat kalian memang benar.


Mau tau habis ini tentang kehidupan pernikahan Mas Mu'adz?


Ayo jiwa-jiwa cenayang, keluarkan unek-unek!!


Monggo kalau ada kesalahan, kulo terbuka menerima kritikan dan saran.