
Selamat Membaca
Kedua matanya mengerjap pelan, menyesuaikan pencahayaan yang minim. Sayup-sayup terdengar lirihan seseorang yang sedang muroja'ah. Memejamkan mata kembali, teringat kejadian semalam yang ia menangis di dekapan Mas Mu'adz. Seketika menghela napas kasar, bisa-bisanya semalam sudah mengeluarkan unek-uneknya, malah berakhir ketiduran.
Bangun dari kasur, melihat Mas Mu'adz yang masih muroja'ah. Mengingat semalam, ia masih tidak tahu respon Mas Mu'adz seperti apa. Bagaimana ia tahu kalau dirinya ketiduran di pelukan Mas Mu'adz!
Kalau seperti ini, malah bingung sendiri jadinya. Tidak mau memikirkan terlalu jauh, segera ia beranjak ke kamar mandi membersihkan diri, karena sudah waktunya sholat tahajud.
Setelah sholat, melanjutkan untuk muroja'ah hafalannya. Sampai suara adzan terdengar di masjid pesantren, ia pun menghentikan muroja'ahnya. Biasanya Mas Mu'adz akan menoleh dan menghadapnya sampai adzan berakhir lalu dengan lembut Mas Mu'adz berpamit untuk sholat di Masjid pesantren. Mengingat itu semua, ia tersenyum masam. Namun, berhubung masalah semalam belum usai, ia tidak tahu Mas Mu'adz akan melakukan seperti biasa apa tidak.
Meskipun dalam keadaan menunduk, ia bisa melihat Mas Mu'adz yang sudah beranjak dan membawa sajadah. Senyumnya nanar, hatinya tiba-tiba sesak, jadi benar yang di ucapkannya semalam. Mas Mu'adz akan melepaskannya. Mas Mu'adz memang terpaksa menikah dengannya. Mas Mu'adz benar-benar tidak mencintainya. Meski belum ada kepastian, tapi hatinya sudah berat untuk kehilangan Mas Mu'adz. Matanya pun mulai berkaca-kaca. Apa ini waktunya ia mulai mengikhlaskan seseorang lagi?
Disaat air matanya sudah luruh, terasa sentuhan pada kepalanya. Seketika tangisannya berhenti. "Ampun teng pundi-pundi, Mase ape ngomong. Budal rien, Wassalamualaikum." Tidak ada kelembutan disana. Menggigit bibir bawahnya, menatap pintu yang baru saja tertutup. Mendadak gugup mendengar ucapan datar dari Mas Mu'adz. Apa Mas Mu'adz sudah membuat keputusan?
Sepanjang menunggu Mas Mu'adz, hatinya diliputi perasaan takut. Berulang kali ia menatap pintu. Sampai dimana pendengarannya menangkap suara pintu terbuka. Dengan segera ia menegakkan tubuhnya dan menundukkan kepalanya, melirik dari ujung matanya Mas Mu'adz maelangkah masuk, tak lupa mengucap salam.
Matanya tak luput dari gerak-gerik suaminya itu, dari meletakkan sajadah dan membuka peci. Menangkap Mas Mu'adz melangkah mendekat kearahnya, terburu menundukkan kepalanya. Mas Mu'adz duduk di sisi ranjang yang sangat dekat dengannya. Melihat sodoran tangan Mas Mu'adz, dengan pelan ia menyambut lalu mencium tangan Mas Mu'adz.
Setelah itu, telunjuk Mas Mu'adz terangkat sampai di bawah dagunya, dengan perlahan membawa wajahnya terangkat, kedua mata saling mengunci satu sama lain.
"Nduk e sampun tenang?" Menganggukkan kepala, masih dengan menatap mata Mas Mu'adz. Ibu jari Mas Mu'adz mulai mengelus pipinya lembut, sejenak ia memejamkan mata, menikmati sentuhan itu.
"Enten nopo kok moro-moro ngomong ngoten niku, hem?" Mendengar pertanyaan itu, kepalanya tertunduk lagi, namun tangan Mas Mu'adz menahan dagunya kembali. Kali ini, tatapannya ke sembarang arah. "Nduk e mboten pingin cerito kaleh Mas e?"
Diam. Mulutnya seakan terkunci, tapi pikirannya terus mengulang rentetan kejadian di rumah sakit. Haruskah ia menceritakan apa yang dilihat kemarin!
"Nggeh mpun. Mase mboten mekso Nduk e crito. Tapi lek mireng Nduk e mambengi. Enggeh, Mase terpaksa." Mendengar itu, ia langsung menatap Mas Mu'adz dengan tatapan tidak percaya. Hatinya berdenyut nyeri.
Memalingkan wajah, air matanya sudah mengalir deras di pelupuk mata. Sakit sekali hatinya. Mulutnya ia rapatkan guna menahan suara tangisan keluar. Namun semakin tangisannya ia tahan, semakin sesak gejolak hatinya. Akhirnya,di balik lipatan tangan ia menyembunyikan isakannya. Terisak sampai sesenggukan.
Inikah kenyataan yang harus ia terima. Mas Mu'adz akan pergi dari kehidupannya. Terbukti ketika ia dalam keadaan seperti ini, Mas Muadz sama sekali tidak tergerak untuk menenangkannya.
Untuk sekian kalinya, ia kehilangan orang yang di sayangi dan di cintai. Apa memang ia di takdirkan untuk tidak memiliki siapapun?
Abi, Umi, Embah, dan kini Mas Mu'adz, suaminya sendiri. Mengingat itu tangisannya semakin tersedu-sedu. Sungguh sakit sekali hatinya ini. Baru saja hatinya sembuh dari kehilangan Embah, kini ia harus berada di posisi yang sama untuk kesekian kalinya. Memang dari awal Mas Mu'adz bukan untuknya bukan miliknya, batinnya.
Beberapa menit tangisannya mulai reda, mengelap air mata dengan lengannya. Kemudian memejamkan matanya sejenak, ia mengambil napas dalam, lalu mengembuskan pelan. Perlahan ia pun menatap Mas Mu'adz dengan senyum tipisnya.
"Enggeh Mpun Kang Akmal lek keadaane ngoten niku, In-insyaallah sak niki kulo s-siap di talak."
**************
Assalamualaikum man teman. Insyaallah ini Update an terakhir sebelum hari raya dan akan di lanjutkan setelah hari raya. Padahal dulu rencananya sebelum hari raya mau saya tamatin, tapi ternyata mboten. Semoga mawon mboten bosen nggeh ketemu Mas Mu'adz terus.
Oh nggeh, lahir batin semua nggeh. Semoga semua ibadah yang di lakukan selama ramadhan sedoyonipun ketampi marang Gusti Allah, allahumma amin.
Ngapunten kalau selama kepenulisan, komen atau nopo mawon, ada yang saya tidak sengaja berbuat kesalahan. Saya mohon maaf yang sebesar-besarnya.
Wassalamualaikum
@arumsyaa_el