MU'ADZ

MU'ADZ
BAB TUJUH BELAS



Selamat Membaca


Pagi ini, awan abu-abu mulai menutup sinar sang surya. Sesuai rencana, Kang Akmal sengaja pulang pagi-pagi seperti ini, karena ia akan mampir ke ndalem Abah Nawawi terlebih dahulu.


Dengan menggunakan motornya, ia keluar dari gerbang pesantren Al-Bidayah. Ia masih santai menikmati perjalanannya kali ini, ia tidak memperdulikan kalau pun nantinya akan turun hujan. Sampai di dekat warung kopi yang biasa menjadi langganannya dengan Kang Wildan, ia memakirkan motornya. Ia butuh asupan pagi ini, karena tadi belum sempat sarapan.


"Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam, e.. ladalah calon mantu ku teko." ucap wanita paruh baya itu sambil tersenyum. Ia pun ikut tersenyum.


Mak Lis namanya, pemilik warung bubur kacang hijau. Saking seringnya kesini, Mak Lis sampai hapal dengannya dan Kang Wildan. Entah bagaimana ceritanya, Mak Lis ini sering menyebutnya sebagai calon mantunya. Padahal ia tidak tahu kalau Mak Lis punya anak gadis.


"Mak, burjo setunggal kaleh kopi."


"He em, lha endi Wildan kok ora di jak?" tanya Mak Lis sambil menata pesanannya.


"Teng ndalem Mak, masak."


"Ealah model e koyok ngunu yo iso masak barang." Mak Lis terkekeh sambil menggeleng, "Oh, iyo anak ku lagek teko pondok, tak kenalne yo menowo jodoh."


"Waduh, berat Mak gak kuat. Mboten saget kenalan e."ucapnya di iringi kekehan


Mak Lis terkekeh, "Hmm, lek Wildan, sak durunge di kongkon wes budal disek." Ia terkekeh. Ia tahu sahabatnya itu seperti apa terhadap makhluk Allah yang disebut perempuan. Suka sekali menggoda, terkadang membuatnya malu sendiri.


"Nduk, Puput, mrikio Nduk." panggil keras Mak Lis sambil menyajikan bubur kacang hijau serta kopi hitam.


"Dhalem Buk, pripun?" Terdengar suara perempuan masuk ke dalam warung. Ia tidak melihat karena ia fokus dengan makan bubur kacang hijaunya.


"Iki lho Nduk, Kang Akmal. Sek ileng gak? piye-piye kesemsem ora? terae pilihane Ibuk seng paling apik, timbang pacarmu kae. Mbladus." cerocos Mak Lis. Ia hanya menggeleng pelan mendengar itu.


"Ih, Ibuk. Jere wingi iyo-iyo ae karo Farid, sak iki enggak. Plin plan ah."


"Yo ibuk ngomong iyo korno gowo martabak, lek ibuk ngomong ora, sesok lek rene ra di gowokne neh."


"Loh kok ngunu!!"


"Wes to lah, iku lo enek Kang Akmal, dhelengen ta, guanteng to?"


"Mak, mak, njenengan niku enek-enek mawon." ucapnya terkekeh setelah menghabiskan bubur kacang hijaunya.


"Wes to Mal, menowone jodoh. Mak wes kadung seneng. Opo perlu kudu istifaroh ?"


"Istikhoroh Buk, Astaghfirullah. Ngisin-ngisin Ibuk iki."


Ia hanya terkekeh mendengar perdebatan antara Ibu dan anak itu. "Mondok teng Yai sinten Mbak?" ia mencoba bertanya, padahal ia sangat jarang untuk sekedar mengobrol dengan lawan jenis yang ia tidak kenal.


"Teng Mbah Yai Imam Dzakariya, Kang."


Ia mengangguk, ia tahu pesantren itu karena sering sowan ke Mbah Yai Imam. Lagipula Nduk Khafa santri sana juga. Tidak ada percakapan lagi, kedua netranya beralih menyapu jalanan. Sampai ia menemukan satu objek disana, di seberang jalan, di depan halte.


Ia menyipitkan pandangannya, seorang perempuan memakai pakaian khas milik pesantren Al-Bidayah jika keluar dari area pesantren. Ia belum melihat siapa itu, karena sedari tadi membelakanginya.


Sampai si objek berbalik, akhirnya ia tahu siapa itu. Perempuan pemilik mata menenangkan baginya, tanpa sadar kedua sudut bibirnya terangkat tipis.'Dia' mau kemana sebanarnya?


Tanpa membuang waktu lagi, ia berpamitan pada Mak Lis dan tak lupa membayar pesanannya tadi. Dengan hati-hati ia menyeberang jalanan yang selalu ramai menuju ke 'dia'. Ia bisa melihat tas punggung yang bermotif khas 'dia', Ia baru tahu kalau sebegitu favoritnya 'dia' dengan motif itu.


"Ehm, Mbak." Ia memberanikan menyapa 'dia'


"Eh, nggeh Kang, pripun?"


"Emm, ajenge wangsul Kang." Kemudian hening sesaat.


"Hmm, sampeyan ngrantosi bis?" ia bisa melihat kalau 'dia' mengangguk. "Tujuane pundi Mbak?"


"Emm, Wringinagung, Kang."


Ia melihat jam tangan yang melingkar di pergelangannya, pukul setengah delapan. "Mboten enten bis mriko jam sementen Mbak, entene sonten engken." Ia jelas hapal, karena ia sering menaiki kendaraan umum yang mengarah ke Wringinagung.


"Loh enggeh ta Kang? Ya Allah."


"Purun Gocar Mbak ?" tawarnya


"Mboten mpun Kang, kulo mboten mbeto hape."


Mendengar itu, ia membuka aplikasi berwarna hijau milik anak bangsa. "Niki, sampeyan ketik alamate." Ia menyodorkan gawainya


"Eh, mboten Kang, ngerepotne njenengan." terlihat 'dia' menggeleng tanda menolak.


"Daripada sampeyan ngerantosi sampek sonten Mbak. Mpun niki ketik mawon."


Akhirnya 'dia' mau menerima tawarannya. Tak membutuhkan waktu lama untuk mengetik alamat 'dia' mengembalikan gawai lalu dirinyalah yang memesankan taxi online itu.


"Emm, njenengan bade tindak pundi Kang?"


Ia tersenyum tipis mendengar pertanyaan perempuan bermata menenangkan itu. Mungkin yang melihat kita hanya sosok dua orang berbeda jenis yang sama-sama menunggu angkutan umum, karena posisi yang berjauhan serta pandangan masing-masing kedepan menatap jalanan.


"Sami Mbak, wangsul. Tumben wangsul, bade enten keperluan nopo?" tanyanya yang sedikit kepo, sebenarnya ia tidak tahu hal apa yang membuat hidup dalam obrolan kali ini. Karena ia terlalu kikuk menghadapi seorang perempuan ketiga yang berhasil menduduki tahta hatinya. Kenapa ketiga, karena posisi utama tentu di duduki Bunda, dan posisi kedua di duduki adik kecilnya-Nduk Khafa.


"Embah e kulo di paringi sakit Kang." cicit 'dia'


"Innalillahi wainnaillahi rojiun, mugi-mugi di paringi enggal saras Mbak, amin."


Lalu terdengar gumamam amin. Tak lama mobil hitam berhenti tepat di depannya, tepat gerimis menyapanya. Ia menghampiri mobil tersebut memastikan mobil yang di pesannya tadi. Setelah memastikan, ia membuka pintu bagian penumpang. "Monggo Mbak."


Bisa ia lihat, perempuan itu masuk perlahan ke dalam mobil, dengan kedua tangannya menghalau gerimis. "Pak, sesuai aplikasi nggeh. Nanti kalau sudah sampai saya kasih bintang limanya." ucapnya pada sopir


"Siap Mas, terimakasih." Ia mengangguk sambil tersenyum.


"Mbak, Insyaallah lek waktune sampun tepat kulo bade silaturahmi teng sampeyan. Atos-atos nggeh Mbak, Assalamualaikum." Setelah mengucapkan itu, ia menutup pintu mobil. Dan perlahan mobil yang di tumpangi perempuan itu melaju.


Entah mendapat dorongan dari mana, ia bisa mengatakan kalau akan bersilaturahmi. Hanya waktu yang tepat untuk meminta 'dia' pada keluarganya. Kapan itu? ia hanya berdo'a semoga di segerakan.


 


 


Eakk.. Mas Mu'adz uy!!


Siapakah si perempuan yang menduduki tahta ketiga?


Tenang, semua akan terjawab pada waktunya