
*Jangan lupa vote men dulu
Selamat Membaca
Di halaman belakang dapur besar ndalem, Kang Akmal dan Kang Wildan sedang duduk di kursi bambu panjang, di bawah pohon rambutan mereka menikmati sarapan.
Dapur ini biasanya juga untuk memasak makanan untuk santri-santri puteri. Meski letaknya di perbatasan antara gedung asrama putera dan puteri, namun tempat ini cukup tertutup. Jarang sekali santri yang berada di tempat ini, kecuali khadamah atau yang kebetulan di jadwal piket untuk memasak harian. Mereka akan bersantai di tempat ini. Tempat ini cukup rindang jadi hawa menyejukkan selalu terasa.
Sedang tenang-tenangnya, ia dan Kang Wildan makan. Terlihat dari pintu dapur Ning Bahiyyah dan Ameera berjalan menuju ke sisi kiri yang memang terdapat satu saung disana. Dengan piring di tangan masing-masing.
Melihat Ning Bahiyyah, ia merasa tidak enak sendiri. Ia bukan munafik atau pura-pura, karena dari awal, ia sendiri menyadari kalau Ning Bahiyyah memperlakukannya berbeda.
Ada rasa ketertarikan Ning Bahiyyah terhadapnya. Namun justru ia sendiri tertarik pada sepasang mata yang menenangkan. Tidak berani untuk menatap lebih lama, meskipun tatapannya menenangkan, namun sepertinya ada yang tidak wajar. Sorot matanya seperti memancarkan kesedihan yang mendalam. Tapi ia tidak tahu kesedihan apa itu.
"WOY !! "
"Uhuk, uhuk !!" Tiba-tiba Kang Wildan tersedak.
Ia langsung menyodorkan gelas di hadapan Kang Wildan. Sambil menepuk pelan punggung sahabatnya itu. "Alon, alon !!"
Kang Wildan menepuk dadanya sendiri, sambil menetralkan dirinya. "Owh SETAN !! kowe tak tempeleng bolak balek lo, NGALEH kono — hmmppt." Ucap Kang Wildan dengan suara tinggi, dengan segera ia membekap mulut Kang Wildan.
Mendengar Kang Wildan yang terdengar keras, membuat mereka jadi pusat tontonan, tak terkecuali dengan Ning Bahiyyah dan Ameera yang kebetulan ada di satu tempat yang sama.
Tangannya di hentakan kasar oleh Kang Wildan, lalu berdiri. "Reneo MAR !!" Kang Wildan masih tidak terima. Sedangkan Markonah sudah cekikikan di atas pohon mangga yang jaraknya sekitar lima meter dari arah mereka.
Ia tahu kalau Kang Wildan dalam mode seperti ini pasti Markonah yang mengganggunya.
Ia pun menyapu pandangannya. Sekarang malah santri-santri yang tadinya berada di dapur besar malah berhamburan kesini, melihat apa yang terjadi. Ia menggaruk dahinya yang tidak gatal. Uduk koncoku pokok e, uduk!! Batinnya sambil kepalanya menggeleng keras.
"MINGGATO MAR !!" Sahabatnya masih tetap dengan suara tingginya.
Yang bisa melihat Markonah hanyalah sahabatnya sendiri. Dan ketika Kang Wildan berkomunikasi dengan Markonah, yang mereka lihat hanya Kang Wildan marah-marah sendirian. Tentu menjadi tontonan gratis bagi mereka.
"Hihi !! emoh. Kona kan pengen ketemu calon bojo, kangen."
Kang Wildan tak meladeni Markonah lagi dan duduk di tempat semula. Kang Wildan sudah biasa menjadi pusat tontonan, sudah tidak malu lagi.
"Eh, eh, Mal, ape nang ngendi ? aku mbok tinggal !!"
Ia tidak menggubris ucapan Kang Wildan, ia memilih untuk melanjutkan jalannya.
"MAL, WOY, ah, tego." Sahabatnya mulai ngedrama.
Ia hanya melirik sekilas, sahabatnya itu sudah berjalan sejajar dengannya, aslinya ia malu. Selalu menjadi pusat tontonan terus. Tapi mau bagaimanapun Kang Wildan tetap sahabatnya, meski kelakuannya nyeleneh.
"Sido ndek pasar Mal ?"
"Sidolah." jawabnya ketus. "Awakmu ojo aneh-aneh meneh Wil." imbuhnya
"Gak janji aku Mal, pokok e Markonah ora ganggu ae." Ia langsung menghadiahi tatapan tajam. "Piss Mal !!" Sahabatnya itu malah cengengesan dengan wajah tak berdosanya.
"Ayo budal La !! sui men to yo? ape ketemu sopo to jane ? ileng La, sebagus-bagusnya riasan bagi wanita hanya untuk mahrom nya."
Shahla langsung memutar bola matanya malas. Kalau Ameera sudah mode seperti ini, sebaiknya ia segera menyelesaikan memoles maskaranya.
Shahla tahu, sahabatnya itu tidak seribet dirinya, yang harus pakai polesan bedak, maskara, celak dan liptint. Paling-paling Ameera itu hanya memakai bedak tabur, celak dan pewangi badan saja.
Shahla mengakui, walaupun riasan Ameera sangat-sangatlah sederhana, namun selalu membuat iri yang melihat. Bagaimana tidak, wajah Ameera tanpa make up pun sudah terlihat cantik. Apalagi kalau di tambah make up seperti riasan miliknya. Entah apa yang di miliki sahabatnya itu, semacam inner beauty. Kecantikannya sangat natural dan alami.
"SHAHLA!! SUBHANALLAH WALHAMDULILLAH WALA ILAHA ILLAH WALLAHU AKBAR !!"
Dengan segera ia melesat, Ameera sudah mengucapkan kalimat pusakanya artinya sahabatnya sudah dalam mode kesal ditingkat ubun-ubun. Sampai di pintu, ia berusaha menampilkan senyum terbaik pada sahabatnya itu. Berharap Ameera tidak kesal lagi.
"Ra sah mesem-mesem gak jelas. Emang ape ketemu sopo seh? Kang Wildan seng ngomong-ngomong dewe kuwi?"
"Yee, ora lah. Emoh, mrinding aku."Shahla bergidik
"Alah mboh sak karepmu." Setelah mengucap itu Ameera langsung melenggang mendahului Shahla.
"Ojo nesu to Mer, engko tak traktir mie ayam pak ndut wes, ya ya ?" Shahla menyejajarkan langkah Ameera. Kemudian menampilkan wajah yang di buat se-imut-imut mungkin, mencoba merayu sahabatnya itu.
"Gak semudah itu medusa !!"
"Huft, terus opo neh ?"
Seakan menjadi kesempatan, Ameera menyeringai membuat Shahla sulit menelan salivanya. "Tukokne kudung papat, sabun-sabun ku engko bayarono, terus tuku bubur ketan item, oh, karo lopes."
Poor you Shahla !! ini akibat yang ia terima
Shahla melirik Ameera, "Mer, serius? bangkrut aku. Padahal ndek ingi sek tas di kek i Mase, eh sak iki ape mbok entekne, huft !! ora iso nabung gae hadiah ultah e Mase no? Mosok aku njalok neh ndek Mama !!" cerosnya.
Seketika Ameera menghentikan langkahnya, Shahla langsung sadar apa yang ia katakan barusan. Sontak saja ia memukul-mukul bibirnya.
Double poor Shahla !! Shahla merutuki dirinya sendiri
"Mase? di weneh i duek wingi? Mase sopo kui ? mase seng endi?" Cecar Ameera
Shahla mengerjap-ngerjap matanya, ia menggaruk kepalanya. Mencari alasan yang pas untuk Ameera.
"Jawab Mer ? dirimu pacaran yo ? Astaghfirullah sungguh berdosa kau nak !!"
Shahla menggerakan kedua tangannya di depan dada, "Eh, Astaghfirullah ora Mer. Tapi emang —"
"Emang opo?" potong Ameera cepat. "Sopo Mase, Mase kuwi ?"
Bingung mau menjelaskan, kalau ia berkata jujur berakibat terbongkar identitas kakaknya itu. Kalau ia berbohong, pasti Ameera tahu gerak-geriknya jika berbohong.
"Mbak Mera !!"
Alhamdulillah penyelamat sekali Ning Bahiyyah. Ia tersenyum lega.
"Dhalem Ning? pripun ?"
"Ajenge ndek pasar kan ? tumut aku."
Ameera melirik Shahla yang tengah senyum-senyum tidak jelas. "Oh, nggeh Ning, monggo !!"
Ning Bahiyyah berjalan dulu. Ameera menarik lengan Shahla, kemudian berbisik. "Urusane dewe urung mari La !!"
Shahla yang mendengar itu, luntur sudah senyumnya tadi. Dasar Ameera, memang kepoan.
Sampailah tiga gadis di pasar. Mereka memutuskan untuk berpencar. Ning Bahiyyah dengan Shahla karena akan membeli kerudung katanya. Sedangkan dirinya berjalan sendiri, melihat-lihat apa yang akan di belinya. Sebenarnya sudah di list di kepalanya tadi sebelum berangkat.
Stand aksesoris menarik perhatiannya. Tuspin dengan bentuk bunga dandelion yang sekarang ia pegang. Cantik sekali. Ia tersenyum namun lama-lama ada embun yang menggenang di pelupuk matanya.
Segera ia mendongak, menghalau untuk tidak jatuh karena embun itu sudah mengumpul. Astaghfirullah ia tidak bisa terus-terusan seperti ini. Insyaallah ia sudah ikhlas. Namun beberapa barang atau kejadian selalu mengingatkannya.
"Tumbas iku Nduk !!"
Ucapan pedagang membuatnya tersadar. "Nggeh Pak, pinten niki ?"
"Petangpuluhlimo ewu Nduk. Seng iku rodok larang Nduk, soale ora gampang karaten."
Ia cuma membawa uang yang hanya cukup untuk beli sabun dan mie ayam pak ndut. Bukan kehabisan uang, tapi memang dari pasar ini nanti ia akan mampir ke ATM. Ia pun dengan terpaksa mengembalikan kotak yang berisi tuspin dandelion itu. Memang terkesan mewah kalau dilihat, karena memang bagus.
"Niki Pak !!" Tangan kekar berkulit putih menyodorkan uang pada penjual. Sontak ia menoleh.
DIA !!
Seketika ia tersadar. "Eh mboten usah Kang!!"
"Iku mboten sepiro dibanding air matamu. Wassalamu'alaikum." Setelah mengucapkan itu, dia langsung berlalu.
Ia masih tertegun mendengar kalimat terakhir yang 'dia' ucapkan. Perlahan kedua sudut bibirnya tertarik ke atas.
'Ya Allah, aku mau dia saja'
Tebak-tebak sendiri saja nggeh?
Ikuti alurnya dulu, hehehe
Mu'adzam Akmal Khadizul Shiddiq
Kang Wildan
Bahiyyah Khansa Ismail
Shahla Nadzarrin Ahmad
Ameera