
James enggan membalas ucapan Grey. Gurat kebencian nampak jelas diwajahnya kala teringat kejadian beberapa tahun silam. Ketika seorang anak lelaki yang umurnya lebih muda darinya datang ke mansion bersama Ibunya.
"James, ini adikmu namanya Michael, dia anak dari pacar ibu," kata Ibu James kala itu.
Di situlah awal kehancuran James, saat mengetahui Ibunya memiliki anak dari pria lain. Tak hanya James yang hancur namun Ayahnya pun kecewa mengetahui istrinya telah berselingkuh. Meskipun begitu Ayahnya tak menceraikan Ibu James. Ia memaafkan istrinya dan memperbolehkan anak selingkuhannya tinggal di mansion.
Berbeda dengan James, dia malah benci kepada Ibunya karena adiknya itu membuat Ibunya tak memberikan kasih sayang dan perhatian kepadanya lagi. Semenjak kedatangan adiknya pula, James lebih banyak mengurung diri. Dia berubah tak seperti sebelum-belumnya. Hingga beranjak dewasa, James memilih jalannya sendiri menjadi seorang mafia menjual narkotika, senjata ilegal dan sebagainya. Dia di kenal sebagai mafia berdarah dingin dan kejam di Rusia (Moskow).
Hal itu membuat Ayahnya marah karena James tak mau meneruskan bisnisnya di Moskow. Dia pun mengusir James dan mencoret nama James dari warisannya.
"James, kau bukan lagi anakku, pergi dari sini, aku malu memiliki anak sepertimu!!!" teriak Ayahnya sewaktu itu membuat James semakin membenci kedua orangtuanya.
Dan di sini lah James berada' di Los Angeles, sarangnya mafia di benua Amerika. Kehidupannya menjadi mafia membuat James untuk tidak dekat dengan seorang wanita. Karena menurut James wanita begitu menyusahkan dan merepotkan. Lalu bagaimana James menuntaskan hasratnya? Oh itu mudah bagi seorang mafia seperti James, yang tampan dan kaya raya sebab wanita berbondong-bondong akan naik ke atas ranjang dan memuaskan James dengan bercinta satu malam.
Namun sebulan yang lalu, James baru menyadari bahwa ia harus memiliki seorang anak agar bisa meneruskan kerajaan bisnisnya. Dia pun mencari seorang wanita yang mau menjadi melahirkan anaknya kelak tanpa terikat dengan pernikahan. Akan tetapi tak ada satupun wanita yang mau, karena mereka ingin dijadikan istri. James yang memiliki otak licik, mengiyakan permintaan para wanita itu tapi dengan satu syarat, wanita itu harus perawan alias belum tersentuh sama sekali jika mau menjadi istrinya.
Lambat laun James mulai putus asa, tapi kemarin malam dia yang sedang bersantai di salah satu bar ternama di LA, tak sengaja mendengar obrolan seorang wanita dan pemilik bar hendak melakukan sesuatu yang kotor. Siapa lagi kalau bukan Darla. Dan betapa terkejutnya James kala melihat Eslin, suami temannya, Esmeralda bersama Darla.
Semula James tak mau ikut campur, namun karena permintaan Esme. Yang memintanya mengantar Darla ke lantai atas. James mengiyakan permintaan Esme dengan terpaksa.
Karena pengaruh obat perangsang Darla menyerangnya tiba-tiba, James ingin menolak, namun terbuai pula dengan godaan Darla. James begitu terkejut saat mendapati ternyata Darla masih perawan. Tak mau menghilangkan kesempatan emas James pun memasukkan benihnya ke tubuh Darla. Setelah di timbang dengan matang, James akan menikahi Darla, dan meminta Darla melahirkan penerusnya. Lalu dia juga berencana akan menceraikan Darla ketika anaknya beranjak remaja nanti.
"Tuan, anda baik-baik saja?" Grey menatap lekat. Sedari tadi pria tua itu mengamati gerak-gerak James yang melamunkan sesuatu. Grey jelas mengetahui kehidupan James, sebab dia sudah bersama James dari belia.
"Hmm, aku baik-baik saja. Sudah lah, biarkan saja Ibu dan Michael ke sini. Yang terpenting aku memintamu agar Ibu ataupun Michael jangan sampai tahu tentang status Darla," ucap James.
"Baik, Tuan. Saya akan mengingatnya dan berusaha menyembunyikan status wanita itu."
James mengangguk kemudian bangkit berdiri, berjalan menuju jendela kamarnya, lalu menatap lurus ke depan, melihat pemandangan di bawah sana.
Sementara itu di luar kamar Darla bersungut-sungut sebab Grey tak kunjung keluar.
"Lama banget ya? Apa aku ke dapur dulu, laper nih!" kata Darla seraya melirik daun pintu.
Ceklek!
James keluar dari kamar tiba-tiba membuat Darla mengurungkan niatnya. Grey yang berada di belakang tubuh James, melirik Darla sekilas kemudian menatap lurus ke depan.
"Tuan, sepertinya Darla belum sarapan, apa lebih baik dia sarapan terlebih dahulu sebelum memulai aktivitasnya hari ini," kata Grey.
Darla yang mendengarkan perkataan Grey barusan, bersorak di dalam hatinya karena pria tua itu seakan dapat membaca pikirannya.
'Ya ampun, walaupun pria tua ini menyebalkan, dia sangat perhatian padaku.' Batin Darla sembari merekahkan senyumannya kepada James.
James mengangkat satu alisnya melihat mimik muka Darla yang nampak memelas.
"Kenapa kau perhatian dengan wanita ini, Grey? Biarkan saja. Lagipula dia sudah membuat banyak kesalahan hari ini."
Darla yang melambung tinggi seketika dihempaskan ke tanah begitu saja kala mendengar perkataan Grey.
'Baiklah, aku tarik semua ucapanku tadi, Tuan Grey sangat menyebalkan! Lebih menyebalkan dari James, pria psyco ini.' Darla mengerucutkan bibir dengan sangat tajam.
"Hmm." James memandangi Darla yang tengah bersungut-sungut kecil. Saat ini Darla tak menyadari diperhatikan oleh James. Ia sibuk mengumpati Grey di dalam benaknya dan tanpa dia sadari umpatan itu ia ucapkan. Sedari tadi bibir Darla komat-kamit menyumpah serapah Grey dan James secara bergantian.
"Apa kau sudah selesai membaca mantra?" James mendekati Darla melayangkan tatapan dingin dan tajam.
Darla tersadar, kemudian mengangkat wajahnya, terkejut melihat James telah berdiri tepat dihadapannya.
"Eh, hehe, sudah selesai." Darla nampak salah tingkah tanpa sengaja memundurkan langkah kakinya.
James menyeringai tipis, melihat tingkah Darla yang aneh bin ajaib itu. Seumur-umur ia tak pernah bertemu dengan wanita seperti Darla yang tak takut sama sekali padanya.
"Masuk ke dalam kamarku, sikat kamar mandiku!" perintah James tiba-tiba.
"Whats?! Tapi itu kan tugas–"
"Nona Darla, ikuti saja perintah Tuan James. Jika kau masih mau hidup," potong Grey cepat membuat Darla tak meneruskan ucapannya.
Darla mendengus kasar, mendengar ucapan Grey. Dengan terpaksa ia mengangguk, kemudian memutar bola matanya ke atas.
'Ish, sampai kapan aku seperti ini! Oh my God! Aku benar-benar lapar! Awas saja kau James, aku akan membuat perhitungan denganmu.' Darla menatap tajam James sebelum masuk ke dalam kamarnya.
"Apa? Kau masih mengumpatiku lagi?" tanyanya membuat Darla terperangah dengan perkataan James yang seakan bisa membaca pikirannya.
"Ti-dak," balas Darla terbata-bata. "Aku masuk ke kamarmu dulu, agar perkerjaanku cepat selesai." Sambungnya lagi seraya membungkukkan badan sedikit.
James enggan menyahut, memilih melenggang pergi dari hadapan Darla. Secara bersamaan pula Grey mengekori James dari belakang.
"James gila!" seru Darla. Saat melihat punggung James dan Grey menghilang di depan sana.
Darla memutuskan masuk ke dalam kamar James dan terpaksa melakukan perintah James. Selang beberapa tiga puluh menit, lantai dan dinding toilet James telah bersih dan berkilau. Darla melebarkan senyumannya melihat hasil kerja kerasnya.
"Sudah selesai?" James menyelenong masuk ke dalam kamar mandi dengan memakai handuk yang dililitkan di pinggangnya.
Darla menoleh, seketika matanya melebar melihat roti sobek James dipenuhi keringat.
"Ka-u ma-u apa?" tanya Darla terbata-bata ketika melihat James maju beberapa langkah dengan menampilkan senyum penuh arti padanya.
Darla memundurkan langkahnya hingga tubuhnya mengenai dinding kamar mandi. Ia nampak gugup kala James menghimpitnya ke tembok.
"Menurutmu?" James menghembuskan nafas di ceruk leher Darla membuat bulu kuduknya berdiri seketika. Secara bersamaan pula sensasi geli menerpa kulit tipis Darla.