Mr. Mafia Meet Juragan Jengkol

Mr. Mafia Meet Juragan Jengkol
Apa Kau Mencintainya?



Bunyi tamparan mendarat tepat di pipi Darla. Darla terkejut sekaligus murka, tanpa aba-aba ia segera membalas perbuatan teman Esme.


Plak!! Plak!!!


Dua kali tamparan melayang di pipi kanan dan kiri teman Esme. Wanita itu menitihkan air matanya seketika karena pukulan Darla begitu kuat sampai-sampai dari sudut bibirnya mengalir darah sedikit.


Semua teman Esme dan beberapa tamu undangan nampak syok, melihat penyerangan Darla barusan. Ketiga teman Esme lainnya meradang, lalu secepat kilat menghampiri Darla hendak memukul wanita itu. Akan tetapi Darla menangkis serangan teman-teman Esme dengan mudah. Ia mendorong satu-persatu tubuh teman Esme hingga tersungkur ke atas lantai dan tak lupa juga Darla merobek pakaian mereka.


Srek!


"Si@lan kau!!!"teriak salah seorang teman Esme menahan geram karena Darla merobek dres mahalnya itu di bagian bahu.


"Haha, kenapa? Marah?" Suara Darla terdengar mengejek. Ia sangat tak habis pikir mengapa teman-teman Esme hanya bisa main keroyok.


"Stop guys!" seru Esme.


Akhirnya Esme melerai perkelahian. Sedari tadi ia melihat Darla memukul teman-temannya dengan bar-bar. Ia tak menyangka nyali Darla ternyata lebih besar. Esme menahan sabar sebab Darla sepertinya susah sekali untuk dikalahkan. Tak mau menyerah, tiba-tiba sebuah ide terlintas dibenaknya. Esme mendekati Darla kemudian dengan sengaja menyenggol lengan Darla, menjadikan Darla reflek menyentak kasar tangan Esme yang mencoba memeganginya.


"Awh!" Esmeralda terhuyung ke belakang sejenak.


"Darla, apa yang kau lakukan?! Esme sedang hamil." James baru saja tiba, menahan tubuh Esme ketika melihat Darla menyentak tangan Esme.


"Kau tidak apa-apa Kan, Esme?" tanya James khawatir.


"Aku baik-baik saja, James. Awh kepalaku sakit," kata Esme membuat James seketika menarik tangan Esme untuk menjauhi area tersebut, meninggalkan Darla yang terdiam dari tadi.


Dari kejauhan Eslin murka, melihat Darla melakukan kekerasan kepada Esme. Secepat kilat ia menghampiri Darla, dan menyeret paksa wanita itu menjauhi kerumunan orang yang nampak berbisik-bisik sekarang. Di sepanjang langkah kaki Darla meminta Eslin melepaskan tangannya, sebab cengkraman tangan Eslin begitu kuat hingga membuat dirinya merasakan sakit di pergelangan tangannya.


Sesampainya di luar ballroom hotel. Eslin mencari ruangan terbuka yang sepi. Pria berkharismatik itu menyentak kasar tangan Darla.


Plak!


Sebuah tamparan mendarat tepat di pipi kanan Darla seketika. Darla reflek menyentuh pipinya yang terasa perih itu. Dengan cepat ia melihat Eslin, melayangkan tatapan sendu.


"Bisa kah kau berhenti menyakiti istriku, Darla!" kata Eslin nyaring. Membuat kumpulan burung-burung di atas dahan pepohonan keluar dari tempat persembunyiannya.


"Menyakiti? Cih, aku tidak pernah menyakitinya! Dia yang mulai duluan. Seharusnya kau nasihati istrimu itu Eslin?!" murka Darla. Entah mengapa perasaan kecewa menyelimuti hatinya seketika saat Eslin selalu melihat dari satu sisi saja.


"Kau sangat keterlaluan Darla! Mana Darla kecil yang aku kenal dulu! Kemana dia? Mengapa dia menjadi wanita murahan sekarang dengan melakukan segala macam cara untuk mendapatkan apa yang dia inginkan. Sekarang kau sudah bersuami, jangan pernah menyakiti Esme lagi. Esme adalah wanita paling sempurna yang pernah aku miliki. Apa salah dia pada mu?"


"Sempurna?! Aku katakan padamu untuk ke seribu kalinya. Esme mengkhianatimu Eslin, dia adalah wanita liar lebih liar dari yang kau bayangkan, anak pertamamu itu bukan lah anakmu!"


"Cukup Darla! Bukan kah sudah aku katakan jangan pernah menjelekkan ibu dari anak-anakku! Esme sedang hamil muda, usia kehamilannya baru satu bulan, jangan menfitnahnya Darla!"


Darla sangat muak, sebab Eslin sedari dulu tak mempercayai perkataannya walau Darla sudah menyerahkan bukti kepada Eslin. Tapi pria itu menyangkal dengan mengatakan padanya bahwa foto dan video yang diberikan Darla adalah rekayasa semata.


Enggan menyahut. Darla melenggang pergi dari hadapan Eslin namun secepat kilat Eslin menarik tangan Darla.


"Lepas! Apa maumu?!" tanya Darla menahan sabar.


"Aku belum selesai!" kata Eslin kemudian menatap lekat wanita yang sudah dia anggap sebagai anaknya dulu.


"Darla, mengapa kau mau menikahi James, kau tidak tahu dia siapa? Aku tahu malam itu kau tidur bersamanya, apa dia menanam be–"


"Cukup!" potong Darla cepat. "Itu bukan urusanmu, Eslin! Kau tenang saja aku tidak akan pernah menampakkan wajahku lagi dihadapanmu, aku berharap kau dapat hidup bahagia bersama Esme!"


Deg.


Mendengar hal itu. Jantung Eslin mencelos seketika. Merasa heran dengan reaksi organ tubuhnya itu.


Detik selanjutnya, Darla menyentak kasar tangan Eslin, kemudian melenggang pergi dari hadapan Eslin yang masih terpaku di tempat.


*


*


*


"James, jangan tinggalkan aku, temani aku sebentar di sini, Eslin pasti sedang sibuk menemui koleganya." Esmeralda menahan James agar tak keluar dari ruangan sebab sedari tadi pria itu sepertinya ingin pergi menemui Darla.


"Maka dari itu aku akan meminta Eslin kemari, aku harus menemui Darla. Dia tidak tahu orang-orang di sini," kata James membuat Esme berdecak kesal di dalam hatinya.


'Argh! Mengapa wanita itu selalu ada dalam kehidupanku! Dulu Eslin sekarang James, apa kelebihannya? Hanya modal cantik saja!'


"Aku tidak mau sendirian James, kau tau kan aku sedang hamil bagaimana kalau janin ku kenapa-kenapa." Esmeralda menunjukkan wajah memelas, berharap James tidak meninggalkan dirinya.


James tergugu. Entah mengapa perasaannya semakin tak karuan apalagi tadi dia sudah membentak Darla tanpa mengetahui kebenaran yang terjadi. James yakin Darla tak akan menyerang Esme, jika Esme tak menyerang Darla terlebih dahulu. Perasaan bersalah menyeruak ke dalam hati James sejenak. Dia sangat menyesali perbuatanya tadi dan berharap Darla baik-baik saja.


James melepas tangan Esme dengan pelan, kemudian berkata,"Maaf Esme, tenang lah aku tidak akan lama, aku akan mencari Eslin, aku mengatakan padanya kalau kau membutuhkan dia." James bergegas keluar dari ruangan, meninggalkan Esmeralda berteriak-teriak memanggil namanya berulang kali.


Dugh!


"Eslin, Esme memerlukanmu, dia ada di ruangan VIP." James tak sengaja menabrak Eslin yang tengah melamun di depannya.


Tak ada sahutan dari Eslin. Sorot mata pria itu tak bernyawa sama sekali.


"Eslin!" James menyadarkan Eslin dengan menepuk bahunya.


Eslin segera tersadar, lalu menggeleng pelan. "Maaf, ada apa?" tanyanya.


James menghela nafas. "Esme ada di ruangan VIP, dia membutuhkanmu," katanya datar.


"Oh oke." Eslin mengangguk kemudian memutar tumit kakinya. Namun sebelum melangkah, ia menoleh. "James, apa kau mencintai Darla?" tanyanya penasaran.


Alis mata James terangkat sedikit. "Apa urusanmu menanyakan pertanyaan konyol itu, ada apa?" James menatap Eslin dengan tatapan menyelidik.


"Tidak ada, aku hanya ingin mendengar saja. Kalau begitu jangan sakiti dia, karena Darla hanya lah gadis kecil yang kesepian."


Enggan menyahut. James malah memandangi Eslin dengan seksama.


"Apa kau mencintai Darla?" Kali ini pertanyaan dari James terlontar seketika.