
Setelah mematikan sambungan telepon. Leon memutar tubuhnya, kemudian memeluk erat tubuh istrinya. Akibat kesibukannya ia tak tahu jika Darla di usir Lily.
"Honey, apa kau menyesal?" tanya Leon pada istrinya yang sekarang nampak sedih karena mendengar informasi bahwa keponakannya di culik.
Lily enggan menyahut. Dia tahu jika perbuatannya sangat salah sebab telah mengusir Darla. Namun dia tak habis pikir mengapa Darla ingin merusak rumah tangga Eslin dan Esme.
Lily teringat, pada waktu itu ia ditelepon Esme. Esme mengatakan padanya dengan menangis tersedu-sedu jika Darla sudah tidur bersama Eslin dan berencana memisahkan dirinya dan Eslin sedari dulu.
Lily terkejut mengetahui keponakannya selama ini berbuat tak senonoh pada pria yang jauh lebih tua darinya. Ia mau menemui Esme kala itu ingin meminta penjelasan yang sebenar-benarnya apakah Darla memang benar melakukan perbuatan tersebut.
Di subuh-subuh buta, Lily pun bertemu Esme di suatu tempat. Dia nampak iba ketika Esme menangis lagi didepannya dan meminta padanya untuk membuat perhitungan kepada Darla.
Lily mengiyakan keinginan Esme walaupun dia juga terpaksa melakukan hal itu tapi demi menepati janjinya, ia akan membuat Darla jera. Namun bagai di sambar petir di siang bolong, Lily mendapatkan informasi jika Darla tidur bersama seorang pria di bar. Maka dari itu ia pun pergi ke bar, melihat dengan mata kepalanya sendiri kalau Darla tidur bersama pria asing yang Lily tak tahu identitasnya.
"Honey, apa kau yakin Darla melakukan itu semua tanpa sebab?" tanya Leon.
Dahi Lily berkerut kuat. "Apa maksudmu?"
"Apa kau yakin Darla sudah tidur bersama Eslin, tadi kau mengatakan padaku kalau Darla sudah tidur bersama Eslin."
"Honey! Esme yang mengatakan padaku bahwa Darla sudah tidur dengan Eslin."
"Esme? Dan kau langsung percaya?"
Lily kebingungan, tak mengerti arah pembicaraan Leon. Pria bermata coklat itu baru saja tiba dari San Fransisco, dua bulan yang lalu, dia ada proyek perkerjaan di sana, menemani putra pertamanya, Kendrick, memantau pembangunan perusahaan. Jadi Leon tak mengetahui jika Darla sudah di usir.
"Honey, kita tidak boleh mendengar cerita hanya dari satu sisi saja. Aku yakin Darla bukan lah wanita yang seperti kau bayangkan. Lagi pula kau tau sendiri kan Eslin begitu mencintai Esme. Seharusnya kau mendengarkan juga penjelasan dari Darla, apa yang membuatnya melakukan semua itu. Kematian Belle dan Benjamin membuat Darla kurang mendapatkan kasih sayang. Dia sudah tidak memiliki siapa-siapa, dia hanya memiliki kita, Honey, seharusnya kita membimbing dia," ucap Leon panjang lebar.
Lily tertegun mendengar perkataan Leon. Perasaan bersalah merasuk ke relung hatinya seketika.
"Maafkan aku. Apa Darla baik-baik saja Honey?" Lily menelusupkan wajahnya ke dada Leon.
Leon mengelus perlahan punggung sang istri yang nampak bergetar sekarang. "Iya tidak apa-apa, semoga saja dia baik-baik saja, aku akan menyuruh Montero untuk melacak keberadaan Darla."
"Honey, sudah jangan menangis lagi."
Lily mengurai pelukan. "Iya, Honey apa James Vardy orang yang baik?" tanyanya tiba-tiba. Dia baru mengetahui nama suami Darla dari Leon tadi.
Leon tak langsung menjawab, nampak sedang berpikir
"Honey!" panggil Lily membuyarkan lamunan Leon.
"Ayo kita masuk ke dalam dulu, aku akan menceritakan padamu siapa James Vardy." Leon menarik tangan Lily, menuntunnya masuk ke dalam kamar.
Melihat raut wajah Leon yang serius, membuat Lily penasaran dengan latar belakang James Vardy.
*
*
*
Hari berganti hari, tak terasa sudah seminggu, James begitu nelangsa karena Darla tak kunjung ketemu. Pria itu terlihat berantakan, tampak kantung matanya berwarna sedikit hitam, karena tak bisa tidur di malam hari.
James mendesah kasar, kala melihat Diego di taman belakang juga nampak lesu seakan tak bernyawa. Sepertinya hewan berbulu lebat itu memiliki batin yang kuat dengan Darla. Selama seminggu ini pula Diego tak mau memakan makanannya hingga habis. James menarik nafas pelan, bayangan Darla dahulu berada di mansion menari-nari dibenaknya.
Saat ini James sedang duduk di balkon sambil menyeruput kopi hitam. Sepasang bola mata itu memandangi gerbang di ujung sana, berharap Dominic, mata-matanya dapat tiba dengan membawa kabar baik. Pasalnya sudah berhari-hari lamanya ia dan Dominic tak menemukan petunjuk di mana keberadaan Darla. Seketika pikirannya melanglang buana entah kemana, ia berharap Darla dalam keadaan baik-baik saja.
James menyesap lagi air berwarna hitam itu, kemudian meneguk minuman tersebut hingga tandas saat melihat mobil Dominic masuk ke pelataran mansion. Ia bergegas turun ke lantai bawah.
"Bagaimana, apa kau sudah menemukan petunjuk?" tanya James cepat.
Dominic merekahkan senyumannya seketika. "Tuan, aku sudah menemukan di mana mereka tinggal. Aku dan Montero juga menemukan markas penyimpanan narkotika milik mereka!" sahutnya dengan mata berbinar-binar.