Mr. Mafia Meet Juragan Jengkol

Mr. Mafia Meet Juragan Jengkol
Apakah Layak



"Baik lah, aku akan memasakan makanan yang paling enak untukmu!" seru Darla semangat 45. Setelah menimbang-nimbang, tidak ada salahnya mencoba bukan, lagipula dia dan James saling mencintai, iya, walaupun James sampai saat ini belum mengungkapkan perasaan padanya tapi Darla merasa James sudah mencintainya. Darla berharap feelingnya tak salah, sebab dia sudah bertekad akan memperjuangkan cintanya sekarang.


Jane menyeringai tipis karena tak akan mudah meluluhkan Joseph sebab suaminya itu memilih-milih soal makanan. Selama hidup bersama Joseph, Jane memang tidak pernah memasak untuk suaminya itu sebab asisten di mansion yang mengurus semua keperluan Joseph. Sementara Michael penasaran apakah Darla bisa memasak makanan enak, karena kebanyakan wanita yang dia ketahui tak mau turun ke dapur. Dia sangat tak sabaran ingin mencicipi masakan Darla nantinya.


Sedangkan jantung James berdegup sangat cepat sekarang, apa yang akan Darla masak? Apa semur jengkol? Atau kah yang lain? James berharap Darla tidak memasak semur jengkol. Karena papanya tidak menyukai makanan yang berbau tak sedap.


"Hmm, tapi sepertinya aku berubah pikiran, bagaimana kalau kau battle bersama Maura?"


James mengepalkan satu tangannya seketika karena terjebak dengan permainan kedua orangtuanya sebab Darla akan bertanding dengan Maura, seorang wanita berpendidikan S2, CEO di sebuah perusahaan dan memiliki perkerjaan sampingan sebagai chef. Tidak seimbang bukan? James mendapatkan semua informasi tersebut dari Dominic tempo lalu.


Mendengar hal itu Darla merasa tertantang, apalagi sudah lama tidak memasak. "Oke, siapa takut! Cepat suruh wanita itu datang ke sini, aku tidak punya banyak waktu! Selesai battle, aku ingin cepat pulang ke LA. Kami harus memeriksa kandunganku!" serunya membuat Michael terkejut. Apa? Hamil? Darla hamil?


Jane pun tersentak. Tak menyangka Darla sudah hamil. Berarti James sudah move on dari Esme dan benar-benar mencintai Darla. Mengetahui hal tersebut, semakin mendidih darah Jane.


Sementara Joseph, melayangkan tatapan penuh arti pada Darla sekarang. Pria tua itu tengah berpikir, entah apa yang tengah dipikirkannya.


"Fine, Jane suruh Maura kemari!" perintah Joseph. Secepat kilat Jane berlalu pergi, hendak memanggil Maura di lantai dua. Sedari kemarin wanita Spanyol itu berada di mansion Joseph. Setelah mendapatkan kabar jika saudari kembarnya di siksa, Maura semakin bersemangat ingin memiliki James. Semula ia tak menaruh hati pada James, namun dia tak dapat memungkiri terbius juga dengan pesona James.


"Hai, pa," panggil Maura begitu sampai di ruangan. Maura mengedarkan pandangan seraya tersenyum lebar.


Jane dan Michael membalas sapaan Maura dengan tersenyum pula. Sementara Joseph dan James melayangkan tatapan datar tanpa ekspresi sedikitpun. Sedangkan Darla mengerlingkan mata ke atas.


'Huh muka dua! Padahal aslinya mah kayak nenek lampir!' gerutu Darla di dalam hati.


"Maura, hari ini kau akan lomba masak melawan Darla, kalau kau menang James akan menceraikan Darla dan menikah denganmu, kalau Darla yang menang, kau tidak bisa menikahi James dan harus angkat kaki dari rumah ku!" kata Joseph.


Maura mengangguk. "Baik, pa, tenang lah aku akan memangkan pertandingan ini."


'Tidak semudah itu ferguso, kau pikir aku akan mengalah.' Semangat Darla membara seketika. Sebab dia yakin akan mengalahkan Maura.


"Terserah, asalkan enak, memasak lah sekarang, aku akan menunggu di sini." Joseph menaikan dagu dengan angkuh.


*


*


Saat ini Darla dan Maura berdiri dihadapan Joseph. Melihat pria tua itu tengah mencicipi makanan Maura. Tadi Maura memasak makanan khas timur tengah.


Maura harap-harap cemas apakah masakannya di lidah Joseph enak atau tidak. Satu menit pun berlalu tapi Joseph tak kunjung memberi tanggapan apalagi sekarang Joseph meletakkan sendok dengan kuat ke piring.


"Bagaimana pa? Apa masakanku enak?"Maura memberanikan diri bertanya pada Joseph. Meskipun dia dilanda ketakutan sekarang.


Joseph menatap Maura. Lalu berkata," Apa profesi sampinganmu memang benar seorang chef." Suaranya terdengar dingin membuat Maura nampak gelagapan. Wanita itu menundukkan wajahnya, tak berani menatap Joseph saat merasakan aura di sekitar sangat mencekam.


"Aku akan makan masakan Darla dulu, sehabis itu, aku akan memberikan penilaian tentang masakan kalian!" seru Joseph. Secepat kilat ia mengambil makanan Darla dan menyendoknya ke mulut.


"Uncle?"panggil Darla ketika melihat Joseph mematung di tempat setelah mengunyah semur jengkol buatannya tadi.


"Apakah enak?" tanyanya lagi, penasaran.


"Haha! Pasti tidak enak!" seru Jane tiba-tiba melihat suaminya hanya diam saja setelah memakan masakan Darla.


Joseph melebarkan matanya lalu meletakkan sendok di piring dengan sangat kuat.


'Mampus aku, padahal semur jengkol buatanku sangat lah enak.'