Mr. Mafia Meet Juragan Jengkol

Mr. Mafia Meet Juragan Jengkol
Papa Sakit



Darla melepaskan pelukannya seketika kala mendengar ucapan James barusan. Sepasang mata itu berkedip pelan, menatap James yang kini tengah melemparkan senyuman penuh arti kepadanya.


'Si@l! Pasti dia mau minta yang aneh-aneh, aku harus mengatakan padanya temui lah Laura.'


"Apa itu?" Darla terkejut, dengan perkataan yang terlontar dari bibir tipisnya itu. Padahal tadi dia ingin menolak, namun sepertinya lagi dan lagi otak dan bibirnya tak terkoneksi dengan baik.


James mengulas senyum kemudian mendekat seraya menarik pinggang Darla secepat kilat.


"James! Lepaskan aku! Kau mau apa?!" Akhirnya otak dan bibir Darla selaras. Akan tetapi dia sekarang dilanda kepanikan kala tubuh keduanya saling menempel satu sama lain. Darla memberontak namun tenaganya kalah dari James.


"Bukan kah kau tadi bertanya apa syarat agar aku tidak pergi."


"Hm–"


Sebelum bibir Darla membuka. James membungkam Darla dengan mencium istrinya dengan rakus. Sementara, Darla kehabisan nafas seraya menepuk-nepuk tubuh James. James memperlambat gerakan lidahnya seketika membuat Darla terbuai juga dengan perlakuannya. Kini suara ecapan terdengar nyaring di dalam kamar.


Darla memejamkan mata ketika James melilitkan lidah di dalam rongga mulutnya. Ia dapat merasakan degup jantung keduanya berdetak sangat cepat. Tanpa sadar Darla mengalungkan tangan di leher James.


Cukup lama keduanya mengarungi samudra cinta. Walaupun dua insan yang sedang dimabuk kepayang itu. Belum mengungkapkan perasaannya masing-masing.


"Kau mau tahu apa syaratnya?" James memundurkan wajahnya tiba-tiba saat mendengar nafas Darla terengah-engah karena ulahnya barusan.


Darla menatap pemilik iris abu-abu itu dengan seksama. Menanti jawaban yang sebenarnya dia tahu itu apa. Bohong jika dia tak menginginkan kehangatan dari James apalagi sekarang dia sudah jatuh cinta kepada suaminya.


James tersenyum tipis seraya menghapus jejak permainannya di bibir Darla yang terlihat membengkak itu.


"Aku menginginkanmu."


"Tapi– argh! James turunkan aku jangan! Ingat aku sedang hamil!"


Darla berteriak histerik saat James mengangkat tubuhnya tiba-tiba kemudian berjalan cepat menuju kasur.


"James ini masih siang, turunkan aku! Aku hanya bercanda, lebih baik kau temui Laura sekarang, pergi kau sana!" Gurat kepanikan terukir jelas wajah cantik Darla. Dia menelan ludah berkali-kali ketika merasakan rudal James sudah bangkit dari kuburan.


James enggan menyahut. Secepat kilat membaringkan Darla di atas kasur seraya meloloskan handuk yang terlilit di pinggangnya.


"Oh my God!" jerit Darla kala melihat rudal James berdiri tegak.


"James! Jangan, aku mohon." Darla menampilkan raut wajah sedih seraya memanyunkan bibirnya.


Alih-alih merasa iba. James malah semakin gemas dengan tingkah Darla yang terlihat manja dimatanya.


"Ha! Help me!" raung Darla ketika James mulai mencumbu dan menjamah tubuhnya dengan mer3mas aset pentingnya.


Detik selanjutnya. Suara erang@n dan d3sahan memenuhi seluruh ruangan kamar James. Secara bersamaan pula bunyi decitan kasur beradu kuat dengan porselen. Kini suami istri itu bergelut dalam lembah kenikmatan tanpa mereka ketahui di luar pintu Grey sedang menunggu James selesai dengan kegiatannya.


Pria itu menarik nafas sejenak. Gurat kepanikan nampak jelas diwajahnya ketika satu menit yang lalu mendapatkan telepon dari seseorang di Moskow.


*


*


*


Tok, tok, tok, tok!


Bunyi ketukan pintu dari luar berhasil membangunkan James yang tengah terlelap sambil memeluk Darla. James membuka perlahan matanya kemudian memandangi wajah teduh Darla yang sekarang masih tertidur pulas dalam dekapannya. Secepat kilat pria itu melabuhkan kecupan di kening Darla.


"Tuan!" panggil Grey membuat James mau tak mau beranjak dari tempat tidur, memakai handuknya kemudian berjalan menuju pintu kamar.


"Tuan, saya mendapatkan informasi Tuan besar sedang sakit. Nyonya Jane meminta anda untuk terbang ke Moskow sekarang."


James terkejut mendapatkan kabar yang tak baik dari papanya, meskipun dia telah di usir papanya tapi dia tak kan lupa siapa yang membuatnya terlahir kedunia fana ini. Apalagi ia sekarang dapat melihat wajah Grey nampak panik.


"Oke, siapkan pesawat, aku dan Darla akan siap-siap dulu."


Grey mengangguk lalu melenggang pergi dari hadapan James.


"Dear, bangun lah kita harus ke Moskow sekarang," ucap James seraya menepuk pelan pipi Darla.


Darla melenguh sejenak. Dengan setengah sadar duduk di atas kasur seraya mengucek kedua matanya.


"Ha? Apa? Moskow? Untuk apa James? Tubuh ku masih sakit." Darla merengek saat merasakan tubuhnya remuk sekarang.


"Papa sakit, kita harus ke sana, tenang lah aku akan menggendongmu agar istriku ini tidak capek."


"Mertua ku sakit? Eh maksud ku papamu sakit?" Darla meralat kata-katanya.


James tersenyum sejenak. "Iya, mertuamu sakit, ayo cepat. Waktu kita tidak lah banyak."


'Waduh, apakah papa James seperti mamanya, sudah lah Darla tidak usah kau pikirkan. Lebih baik kau menuruti permintaan suamimu itu, hitung-hitung kau jalan-jalan ke sana, kapan lagi coba!'