Mr. Mafia Meet Juragan Jengkol

Mr. Mafia Meet Juragan Jengkol
Kelinci Bar-Bar



James merasa Tuhan benar-benar baik padanya dengan mengabulkan permintaannya. Setelah memberitahu kepada tenaga medis jika ia sudah menemukan pendonor darah untuk Darla. Salah seorang dokter mengatakan padanya bahwa nyawa Darla hampir saja tak tertolong tadi.


James begitu nelangsa ketika mendapatkan informasi tersebut. Namun dengan tegas dokter mengatakan Darla sudah melewati masa kritisnya. James bernafas sedikit lega ketakutan yang menjalar dibenaknya sejenak' sirna dalam sekejap mata.


Setelah dilakukan penanganan Darla dipindahkan ke ruangan khusus. James, Leon dan Lily memantau semua apa yang dilakukan tenaga medis melalui kaca pembatas di luar ruangan, melihat perawat memasang alat-alat medis di tubuh Darla.


"Dok, apa saya boleh masuk ke dalam?" tanya James saat melihat dokter keluar dari ruangan bersama seorang perawat.


"Boleh, gunakan baju khusus kalau mau masuk ke dalam." Dokter mengedarkan pandangan kepada James, Leon, dan Lily. Ketiganya mengangguk cepat.


Selepas kepergian dokter, James bergegas memakai pakaian khusus kemudian masuk ke ruangan Darla. Tampak di sekujur tubuh Darla alat medis menempel ditubuhnya sekarang. James mendekat, kemudian menyentuh punggung tangan Darla.


"Dear, cepat lah sembuh, aku menunggumu," ucapnya dengan melabuhkan kecupan lembut di kening Darla.


*


*


*


Hari berganti hari, kini keadaan Darla sudah semakin membaik walaupun dia belum juga siuman. Setiap hari James datang ke rumah sakit, sekadar berbicara pada Darla meskipun istrinya itu tak dapat membalas perkataannya. Dokter memang menyarankan padanya agar lebih sering berinteraksi dengan Darla.


Saat ini James tengah menatap Darla dengan seksama. Pria itu memegang helaian rambut Darla sejenak. James baru menyadari kalau Darla sangat lah berarti bagi hidupnya, ia tak dapat membayangkan jika Darla benar-benar pergi dari hidupnya kemarin.


Ketukan dari luar pintu membuat James memutar kepalanya seketika. Melihat Esme dan Eslin di luar ruangan tengah melambaikan tangan padanya. Reflek James melangkahkan kaki, menghampiri pasangan suami istri itu.


"Bagaimana keadaan Darla?" Kemarin Eslin mendapatkan kabar jika Darla mengalami musibah. Dia terkejut sekaligus sedih melihat Darla tak berdaya di tempat pembaringan sekarang.


"Sudah membaik."


"Bagus lah, aku senang mendengarnya." Eslin melirik sekilas Darla di depan sana, akan tetapi dia begitu terkejut saat Esme mencubit perutnya tiba-tiba.


Dahi Eslin berkerut kuat, kemudian mendekatkan bibirnya di telinga Esme. "Ada apa?" tanyanya penasaran.


"Tidak apa-apa, aku tidak sengaja sayang," ucapnya pelan seraya mengukir senyum tipis. Namun berbanding terbalik di dalam isi hatinya sekarang.


'Si@l! Mengapa kau tidak mati saja Darla?! Bodoh sekali Orlando, mengapa Darla bisa kabur!'


Esme melemparkan senyuman kepada James yang sedari tadi memperhatikan gelagatan pasangan suami itu. Sedangkan Eslin menghembuskan nafas pelan, sedikit aneh dengan tingkah Esme akhir-akhir ini.


"James, apa aku boleh melihat Darla?" Esme mengulas senyum tipis sembari memandangi Eslin dan James secara bergantian.


James mempersilahkan Esme untuk masuk ke ruangan terlebih dahulu, ia ada urusan sebentar dengan Eslin menyangkut Orlando. Sebab kemarin setelah ditelusuri lagi oleh Dominic. Tangan kanan James menemukan panggilan masuk di ponsel Orlando, yang ternyata Eslin dan Orlando saling berteleponan tempo lalu. Hal itu membuat James menaruh curiga, apa Eslin ada keterlibatan dalam penculikan Darla.


Sementara itu, di dalam ruangan, Esme melayangkan tatapan dingin kepada Darla. Dia dapat melihat Darla masih memejamkan matanya dan tak ada tanda-tanda akan bangun.


Melihat hal itu Esme begitu senang dan berharap Darla tidak akan siuman atau lebih baik mati saja. Rencana jahat Esme melintas cepat dibenaknya sekarang. Dia mendekati Darla, kemudian melihat masker yang bertengker di hidung rivalnya itu.


Tanpa pikir panjang Esme membuka cepat alat bantu pernafasan Darla. Namun dia terkejut melihat Darla membuka matanya dengan cepat.


"Dar– Argh!!!" pekik Esme ketika tangannya di tarik dan dipelintir oleh Darla.


"Dasar nenek lampir! Bermuka dua! Apa maumu ha?!" Darla melototkan matanya dengan melayangkan tatapan dingin pada Esme.


"Darla! Kau sudah sadar!" Mendengar teriakan dari dalam James bergegas masuk ke ruangan. Dia tersentak sejenak melihat Darla mencekal tangan Esme sekarang.


"Iya! Apa kau buta?!" kata Darla ketus kemudian dia menyentak kasar tangan Esme.


"Dear! Aku sangat merindukan mu!" James memeluk Darla yang nampak terdiam seketika.


"Sayang, kau tidak apa-apa?" Eslin baru saja masuk, beberapa saat yang lalu ia melihat Darla menyakiti Esme.


Esme menampilkan wajah sedih. "Tidak apa-apa, sayang."


"Darla! Mengapa kau menyakiti istriku?!" murka Eslin.


James mengurai pelukan dan menatap Darla sekilas yang terlihat pucat.


"Jangan pernah membentak istriku, Eslin! Lebih kalian berdua, keluar saja!" James melayangkan tatapan tajam kepada Esme dan Eslin.


Melihat hal itu, Eslin berdecak kesal sejenak, sedangkan Esme diterpa kebingungan, melihat James menatapnya dengan tatapan kemarahan. Tanpa banyak kata keduanya keluar dari ruangan.


"Dear, aku sangat, sangat, sangat merindukanmu!" James berucap sembari merekahkan senyuman kemudian menangkup kedua pipi Darla. Menatapnya dengan sangat dalam.


Bugh!


"Oh my God, dear? What's wrong?" tanya James saat mendapatkan pukulan di dadanya.


Darla enggan menyahut, memilih merebahkan diri di atas brangkar dengan memanyunkan bibirnya.


'Mengapa kelinci kecilku sangat bar-bar! Ada apa dengannya, apa ini faktor dia hamil?'