
Sudah dua hari Joseph di rumah sakit. Dua hari pula James, Darla dan Jane menemani pria tua itu. Setelah di ancam Joseph kemarin, Jane memilih untuk diam. Apalagi ketika Joseph mengatakan akan menceraikannya jika sampai menyakiti Darla. Entah sihir apa yang dirapalkan Darla sehingga Joseph berpihak pada wanita bersurai hitam itu.
Tepat hari ini. Joseph ingin lekas pulang ke mansion. Karena berlama-lama di rumah sakit, membuatnya pusing jua.
"Bagaimana aku sudah boleh pulang, Kan?" tanya Joseph ketika melihat dokter selesai memeriksa keadaannya.
"Boleh, saya sarankan anda jangan memakan makanan yang membuat pencernaan anda sakit, Tuan agar anda cepat sembuh. Makan lah makanan sehat dan secukupnya saja."
Joseph mengangguk, patuh, lalu tak lupa mengucapkan terimakasih pada Dokter. Dokter merekahkan senyuman kemudian pamit undur diri dari hadapan Joseph dan ketiga manusia di dalam ruangan.
Selepas kepergian dokter. Joseph menatap Jane, lalu berkata,"Aku sudah boleh pulang, katakan pada anak bungsumu itu agar cepat pulang ke mansion, kalau tidak aku akan menarik semua aset-nya."
Jane menelan ludah manakala Joseph kembali mengertaknya sebab sedari kemarin Michael tak perduli pada Joseph, memilih, menyibukkan diri, dan mabuk-mabukkan di club malam. Padahal Jane sudah meminta Michael untuk datang ke rumah sakit sekedar menjenguk sebentar. Tapi Michael sama sekali tak mau, beralasan ada kegiatan yang harus ia kerjakan. Ada perasaan kecewa menjalar di palung hati Jane saat ini. Mendapati Michael akhir-akhir ini susah di atur dan berbuat semau hatinya.
"Kau dengar aku tidak?!" Joseph berseru hendak menyadarkan Jane yang tengah melamun memikirkan Michael.
"Iya," jawab Jane singkat. Tanpa sengaja sepasang mata beriris abu-abu itu bertubrukkan langsung dengan Darla. Tersenyum sinis, Jane masih kesal pada Darla.
"Pa, aku akan memerintahkan bodyguard mempersiapkan mobil," kata James.
Joseph mengangguk. "Iya, pergi lah." Tanpa banyak kata James berlalu pergi.
"Darla, kemari lah," ucap Joseph tiba-tiba, melihat Darla berdiri tegap memandangi kepergian James di depan sana. Lantas Darla menoleh, lalu berjalan, mendekati Joseph.
"Apa kau sudah memeriksa cucuku, bagaimana keadaannya?" tanya Joseph, penasaran ketika kemarin mendapat kabar kalau Darla sudah memeriksakan diri ke dokter kandungan.
"Anak-anakku baik-baik saja, Pa. Papa mau tahu kalau aku hamil anak kembar!" seru Darla.
Joseph melebarkan mata seketika. Tak menyangka keinginannya sejak lama akhirnya kesampaian juga. Dari dulu dia ingin sekali mempunyai anak kembar tapi Tuhan tak mengabulkan permintaannya dan lahir lah James namun sekarang dia akan memiliki cucu kembar.
"Benarkah?" Seakan tak percaya Joseph masih syok.
Sama halnya dengan Jane tengah duduk di sofa sambil menguping obrolan suami dan menantunya itu. Dia tengah asik menekan-nekan gawai mengirim pesan kepada Esme, hendak meminta tolong padanya untuk menyingkirkan Darla, tapi secepat kilat Jane menghapus pesan tatkala mendengar Darla akan melahirkan anak kembar. Ada rasa senang yang menggelitik dihatinya sekarang. Memang sedari dulu impian Jane dan Joseph adalah memiliki anak kembar.
Darla mengangguk cepat.
"Oh my God! Aku sangat tak sabar bertemu dengan kedua cucuku!" seru Joseph dengan mimik muka senang.
"Dua?" Darla merekahkan senyuman lalu berkata,"Bukan hanya dua, Pa. Tapi empat."
"Ha? Empat?" Joseph melonggo sejenak. Ia melirik Jane seketika. "Kau dengar itu Jane, kita akan memiliki cucu kembar yang banyak."
"Hmm." Jane membalas ucapan suaminya dengan berdeham rendah padahal di dalam hatinya ia tengah bersorak sorai. Tak kalah senangnya dengan Joseph tapi tertutup dengan egonya, Jane berusaha bersikap biasa saja. Seolah-olah tak perduli dengan cucu-cucunya itu. Sampai sekarang dia masih belum menerima Darla menjadi menantunya.