
James bergegas membawa Darla keluar dari dalam hutan dan memberikan perintah kepada anak buahnya untuk pergi ke rumah sakit. Di sepanjang perjalanan dia mencium kening Darla bertubi-tubi sambil memeluk erat wanitanya itu.
James sangat takut kehilangan Darla, pikirannya sudah melanglang buana entah kemana sekarang. Dia segera menepis pikiran negatifnya mengenai kondisi Darla yang terlihat miris.
"Dear, bertahan lah, maafkan aku karena telah melibatkanmu," sahutnya sambil tak henti melabuhkan kecupan di kening Darla.
"Tuan! Orlando melarikan diri, tim A sedang melakukan pencarian." Dominic sedang menggendarai mobil di kursi depan, ia melirik sekilas James di kaca bagian tengah.
James mendengus sesaat, kemudian berseru,"Aku tidak mau tahu, temukan pria itu sampai dapat! Dia harus membayar semuanya! B@jingan itu berani bermain-main denganku!"
Dominic mengangguk paham.
"Percepat mobil mu Dominic! Kau tidak lihat istriku sedang sekarat!!" raung James membuat Dominic mau tak mau mempercepat lagi laju kendaraannya. Padahal saat ini Dominic sudah menggemudikan mobil dalam batas tidak normal.
Dua puluh menit kemudian. James telah sampai di rumah sakit, bergegas dia meletakkan tubuh Darla di atas brangkar. Para tenaga medis segera melakukan tugasnya, membawa Darla ke ruang UGD.
James mondar-mandir di luar ruangan. Dia begitu nelangsa karena petugas sampai detik ini tak keluar dari ruangan. Dia dilanda resah dan gelisah, tak sabar menanti kabar dari istrinya yang sedang bertarung nyawa di dalam sana.
Dominic yang melihat Tuannya berdiri tegap di depan pintu. Berharap Darla tak kenapa-kenapa dan dapat segera lekas pulih.
"James!" panggil seseorang dari samping.
Membuat James dan Dominic mengalihkan pandangan matanya. Keduanya melihat Leon dan Lily tampak gusar.
"Bagaimana keadaan Darla?" tanya Lily cepat. Beberapa menit yang lalu dia dan Leon mendapatkan kabar dari James jika Darla terluka parah dan dilarikan ke rumah sakit.
James mendesah kasar. "Aku tidak tahu," ucapnya dengan tertunduk lesu. Gurat kesedihan terukir jelas di wajahnya saat ini.
"Ini semua karena ulahmu! Kau tidak bisa melindungi keponakanku!" seru Lily tiba-tiba. Leon terkejut manakala mendengar respon istrinya barusan. Ia melirik James sekilas, melihat James hanya diam saja, tak membalas ucapan Lily sama sekali.
"Tapi Honey, aku tak mau Darla kenapa-kenapa, kenapa aku bodoh sekali' membuang keponakan ku sendiri!" Mata Lily nampak berkaca-kaca, tengah menyesali perbuatannya karena telah memutus tali hubungan kekeluargaan dengan Darla tempo lalu.
"Honey, sudah lah." Leon segera mendekap istrinya itu seraya mengelus punggung Lily dengan pelan. Keduanya saling berpelukan sekarang.
Sedangkan James dan Dominic sedari tadi terdiam seribu bahasa, mendengar isakan tangis Lily sekarang. James merutuki kebodohannya karena profesinya sebagai mafia membuat Darla dalam marabahaya besar. James berjanji pada dirinya sendiri akan menjaga Darla lebih ketat lagi.
Cukup lama Lily menangis hingga Leon mengurai pelukannya seketika, kemudian menatap sendu Lily seraya mengusap jejak tangisnya.
"Honey, jangan menangis lagi, Darla anak yang kuat," ucapnya memberi pengertian kepada Lily.
Lily mengangguk pelan, kemudian kembali menelusupkan wajahnya di dada Leon.
"Permisi, siapa keluarga pasien Darla Vardy?" Seorang perawat menyembul dari balik ruangan.
James mengangkat wajahnya kemudian menghampiri sang perawat. "Saya suaminya, bagaimana keadaannya?" tanya cepat.
"Keadaan pasien sangat lah kritis, dia kehilangan banyak darah, persediaan darah A- di rumah sakit sekarang sudah habis, golongan darah pasien langka. Kami akan memindahkan pasien ke ruang ICU terlebih dahulu untuk penanganan lebih lanjut agar janin di dalam perutnya dapat terselamatkan," jelas perawat singkat.
James terkejut mendengar perawat mengucapkan kata janin. "Istri saya hamil?" tanyanya seakan tak percaya.
"Iya benar, kami mohon kerjasamanya agar keluarga pasien dapat mendonorkan darahnya sekarang." Perawat mengedarkan pandangan pada Leon, Lily dan Dominic berharap salah seorang dari memiliki darah A-.
Lantas James beralih menatap Leon dan Lily, apakah salah satu dari mereka memiliki golongan darah A negatif. Sebab darahnya berbeda dengan Darla. Apalagi Dominic, James teringat kaki tangannya itu memiliki golongan darah B.
Leon dan Lily saling melemparkan pandangan sekarang. Gurat kekhawatiran muncul seketika, keduanya diterpa kebingungan pasalnya mereka juga memiliki golongan darah yang berbeda dengan Darla.