
"Kau buta ya?! Tentu saja kami sedang memandikanmu, agar kau tidak gatal dengan Tuan James," seru wanita berambut hitam.
"Hahaha, coba lihat dia babu saja belagu! Wanita ini juga melawan Tuan James!!" Wanita yang tadi berpapasan dengan Darla di tangga. Menatap sengit kearahnya.
Nafas Darla memburu, mendengar dua wanita yang berpakaian maid itu melontarkan kata-kata kasar.
"Gatal? Darimana aku gatal? Kalian benar-benar gila, sesama babu tidak usah mencari masalah! Dan kau ubur-ubur apa masalahmu?!" Darla menunjuk-nunjuk dua wanita itu secara bergantian.
Mendengar perkataan Darla barusan. Wanita berambut blonde itu menarik rambut Darla. Reflek Darla melayangkan pukulan di dada maid tersebut. Secepat kilat pula maid berambut hitam membantu temannya ingin memberi Darla pelajaran. Akibatnya terjadi perkelahian yang tak seimbang di ruangan dapur, dua lawan satu.
Suara jeritan dan teriakan terdengar kala Darla membalas serangan kedua maid itu dengan membabi buta. Sifat Darla yang terkesan bar-bar membuatnya tak kesusahan menangkis serangan kedua maid itu. Lantas keributan ketiganya menyebabkan seisi penghuni mansion terganggu. Mereka berhamburan keluar menuju sumber suara.
Grey yang bertugas sebagai kepala asisten mansion bergegas ke ruangan dapur. Begitu sampai ia menggelengkan kuat, melihat Darla melumpuhkan kedua maid itu dengan tangan kosong. Rambut maid tersebut sudah acak-acakan seperti singa, terdapat luka lebam menjalar di wajah kedua maid itu. Mereka mengaduh kesakitan seraya memohon ampun kepada Darla agar menghentikan serangan. Dengan nafas yang terengah-engah tangan Darla pun terhenti.
"Ada apa ini?" James baru saja tiba, Beberapa menit yang lalu ia ingin ke ruang gym akan tetapi telinganya tanpa sengaja menangkap bunyi keributan di lantai satu. Lalu secepat kilat James turun ke bawah ingin melihat apa yang terjadi.
Darla dan kedua maid itu menoleh ke arah James. Gurat ketakutan nampak jelas terukir di wajah kedua maid itu. Sedangkan Darla hanya tersenyum sinis, melihat kedatangan James.
Dengan tergopoh-gopoh, maid itu beranjak, merapikan sesaat penampilannya, kemudian membungkukkan sedikit badannya.
"Maaf, Tuan. Wanita ini menyerang kami tadi Tuan." Wanita berambut blonde menuduh Darla.
"Iya benar, Tuan. Tadi kami sedang menyapu, dia tiba-tiba berkata kasar pada kami." Maid berambut hitam menimpali.
Darla melebarkan matanya mendengar perkataan kedua maid itu yang memutar balikan fakta.
"Whats?! Eh jelas-jelas kalian tadi yang menganggu ku duluan!" kata Darla berapi-api.
"Diam!!!" James berteriak membuat Darla seketika bungkam. Baik Grey, dan para asisten serta bodyguard yang menyaksikan kejadian saat ini terdiam seribu bahasa. Mereka tak berani menatap James yang sekarang memandangi Darla dengan tajam.
Untuk sesaat Darla dan James saling menatap satu sama lain. Dada Darla nampak naik dan turun, tengah menahan diri agar tak melayangkan pukulan di wajah maid tadi. Seketika James memutus kontak mata, kemudian mengedarkan pandangannya.
"Kalian mulai lah berkerja sekarang!"
Mendengar perintah James. Kumpulan manusia yang berada di ruangan bergegas melakukan kegiataanya.
"Kecuali kau, Darla!"sahut James ketika melihat Darla hendak memutar tumitnya.
Darla beralih menatap James. Dengan wajah tertekuk sempurna, Darla mengangguk patuh. Selepas kepergian para maid, dan bodyguard, James menghampiri Darla, mengamati penampilan Darla yang nampak kotor dan bau.
"Apa kau memang selalu mencari masalah?" tanya James seraya melirik Grey yang tengah berdiri tegap di luar kaca raksasa, yang menjadi pembatas antar ruang dapur dan ruang tengah.
"Menurutmu?" Darla jenggah mendengar perkataan James.
"Cih, kau selalu melanggar peraturan yang aku buat! Pantas saja Eslin tak menyukaimu, karena kau benar-benar bodoh dan selalu mencari masalah."
"Terserah, aku mau mengganti pakaian ku dulu, setelah itu aku akan memulai kegiatan membersihkan istanamu ini." Kaki Darla hendak bergerak. Namun terhenti ketika James berucap lantang.
"Aku belum selesai!"James mulai naik pitam kala melihat pancaran mata Darla yang meremehkan dirinya. Terlebih lagi seumur hidupnya tak pernah ada orang yang berani melawan dirinya. Tapi sekarang ada, dan itu adalah Darla Marques. Ralat, hanya Darla.
"Cepatlah, badanku bau tau!" cerocos Darla tanpa rasa takut sekalipun.
"Whats?! Tidak mau! Suruh saja orang lain, tugasku kan bukan itu."
Tanpa Darla dan James sadari perbincangan mereka saat ini di dengar Maid yang menyerang Darla tadi.
'Si@lan, kan aku yang membersihkan kamar Tuan James, mengapa wanita itu yang di suruhnya! Argh! Bagaimana ini, aku jadi tidak bisa melihat roti sobek Tuan James.' Maid berambut blonde itu tengah bersembunyi dibalik pilar.
"Ikuti saja perintahku, Darla. Apa susahnya mengatakan iya, apakah kau tidak mau melihat matahari lagi?" James tersenyum smirk membuat Darla mendengus pelan.
"Iya!" balas Darla ketus. Tanpa banyak kata Darla mengikuti langkah kaki James yang terlebih dahulu membalikkan badannya.
'Dasar pria gila!' sahut Darla di belakang tubuh James. Sesekali Darla menjulurkan lidahnya kepada James. Ia sangat kesal karena harus mengerjakan pekerjaan yang bukan tugasnya. Begitu sampai di ruangan. Darla bergegas ke kamar mandi, kemudian membersihkan pakaiannya yang kotor tadi. Beruntung di kamar mandi James terdapat pakaian maid. Untuk sesaat Darla kebingungan mengapa di kamar James ada baju maid. Tak mau ambil pusing, Darla memilih keluar dari toilet lalu mulai melakukan tugasnya dengan membuka tirai kamar dan merapikan tempat tidur James. Sementara itu, James sedang duduk di sofa sembari mengamati tingkah laku Darla.
"Sudah selesai?" tanya James saat melihat Darla sudah menyelesaikan perkerjaannya.
"Apa kah kau buta?!" Sekali lagi Darla berkata ketus membuat James semakin jengkel.
"Bisa kah kau, sopan dan hormat padaku?!" James mengepalkan kedua tangannya.
'Tidak bisa! Untuk apa aku hormat sama orang yang juga tidak bisa menghormati orang lain!" Darla mengangkat wajah angkuhnya.
"Kau!!" James menghampiri Darla cepat. Kemudian menatap tajam Darla.
"Apa?!" Darla juga mau kalah, dia juga melayangkan tatapan permusuhan. Lagi dan lagi keduanya saling menatap satu sama lain.
"Tuan!" Grey menyelonong masuk ke dalam kamar seraya membawa segelas susu milik James. Pria tua itu melayangkan tatapan datar kala melihat Darla dan James sedang berperang dingin.
James menoleh, lalu berkata,"Iya, ada apa?"
"Maaf Tuan, saya baru mendapatkan informasi Nyonya besar akan datang ke mansion tiga hari lagi."
James mengerutkan dahi, tampak kebingungan, mengapa ibunya datang di waktu yang tidak tepat, dan semakin heran mengapa pula di saat Darla berada di sini, biasanya Ibunya akan setahun menetap di Rusia namun kali ini belum genap enam bulan, ibunya sudah kembali lagi ke Amerika.
"Ibu?" James bergumam membuat Darla juga kebingungan, melihat ekspresi James yang berubah drastis.
"Iya, Tuan."
James menghembuskan pelan nafasnya, kemudian beralih menatap Darla. "Sekarang kau keluar, kembali lah sepuluh menit lagi."
Tanpa banyak kata Darla menuruti perkataan James. Ia berlalu pergi meninggalkan James dan Grey.
"Tuan, apa yang harus saya lakukan?" tanya Grey selepas kepergian Darla.
"Tidak ada, tapi yang jelas jangan sampai Ibu tau kalau aku sudah menikah."
"Baik, Tuan. Oh ya katanya adik anda juga ikut."
Mendengar perkataan Grey, James menarik nafas panjang.