Mr. Mafia Meet Juragan Jengkol

Mr. Mafia Meet Juragan Jengkol
Makanan Apa Ini



"Joseph, mengapa kau diam! Cepat katakan, apa masakannya enak?"


Jane menahan sabar sebab sang suami sedari tadi hanya diam saja, tanpa ekspresi sedikitpun. Kini, Joseph tengah menatap lurus ke depan, melihat sesuatu, yang Jane sendiri pun tak tahu. Satu menit berlalu, tak ada tanda-tanda Joseph akan membuka suara.


Baik Darla, James, Maura dan Michael. Mereka pun tengah menunggu tanggapan Joseph mengenai masakan Darla.


Darla terlihat gelisah, apa ada yang salah dengan semur jengkol buatannya, entah lah, Darla grasak-grusuk. Mencoba mengamati gerak-gerik Joseph sekarang.


'Ada apa dengan pria tua ini, tidak mungkin dia keracunan jengkol.' Monolog Darla tanpa melepaskan pandangan mata dari hadapannya, melihat Joseph seperti patung, hanya terdengar suara hembusan nafasnya yang teratur.


Dalam sepersekian detik, Darla beralih menatap James yang sedari tadi harap-harap cemas dengan penilaian papanya. James melemparkan senyum tipis kepada Darla, bermaksud memberikan dukungan untuk Darla.


Berbeda dengan Jane. Kesabarannya setipis kulit ari, dia menggeram rendah sambil berjalan mendekati Joseph.


"Joseph! Apa kau tuli?! Berikan penilaian masakan Maura dan Darla sekarang juga?!" teriak Jane mengebu-gebu, membuat Joseph melebarkan matanya seketika.


Joseph bangkit berdiri, melayangkan tatapan dingin kepada istrinya itu.


Plak! Plak!!!


Dua kali tamparan mendarat dengan kuat di pipi Jane. Membuat mereka yang berada di sekitar tercengang kala melihat darah menetes dari sudut bibir Jane.


"Papa!" Secepat kilat Michael berdiri dihadapan Joseph, menatap tajam pada papa tirinya itu. Jejak kemarahan terukir jelas di wajah Michael, ia sangat tak sanggup melihat mamanya disakiti lagi.


"Apa?! Kau mau aku pukul juga?" tanya Joseph dengan menyeringai.


Alih-alih menjawab pertanyaan papa tirinya. Michael mendengus ketika Jane berbisik di belakangnya, mengatakan jangan melawan Joseph karena pria tua itu akan melakukan sesuatu yang mengerikan jikalau mereka melawannya.


"Pa, sudah lah, biarkan saja Michael dan wanita itu! Bagaimana penilaianmu mengenai masakan istriku?" ucap James seketika.


Joseph mengalihkan pandangan kepada putra semata wayangnya itu. Melayangkan tatapan penuh arti ketika mendengar ucapan anaknya barusan.


Joseph menatap Darla dan Maura secara bergantian. Tengah mempertimbangkan masakan mana yang paling enak dan menggugah seleranya tadi.


'Tentu saja aku pemenangnya! Coba lihat makanan wanita itu sangat aneh dan menggelikan!' Maura merekahkan senyuman dengan lebar. Percaya bahwa dirinya akan menang.


Berbeda dengan Darla, dia sudah pasrah, kalaupun tidak berjodoh dengan James. Ia akan mengatur strategi untuk mengagalkan pernikahan James dan Maura nantinya.


"Hmm, keputusan aku mutlak, jadi tidak dapat di ganggu gugat, aku menilai berdasarkan kelezatan makanan yang disajikan, bukan hanya penampilan makanan itu," ucap Joseph tiba-tiba.


Hening sesaat.


Setelah mendengar perkataan Joseph barusan. Empat orang dewasa yang berada di ruangan menunggu dengan sabar.


"Maur–"


"Yes! Aku pemenangnya!" sela Maura cepat ketika mendengar namanya disebut. Dia loncat-loncat kegirangan karena dialah pemenang dan akan menikah bersama pujaan hatinya.


Maura nampak gelagapan ketika Joseph memandanginya dengan sengit. "Maaf pa," ucapnya seraya tertunduk lesu.


'Si@l! Dasar pria tua! Kalau aku sudah menjadi istri James, aku akan membunuhmu!' Monolog Maura di dalam hati.


"Maura, silahkan angkat kaki dari rumah ini!"


"Ha! Apa?!" Maura dan Jane berseru nyaring ketika mendengar perkataan Joseph. Yang berarti Darla lah pemenang dari kompetisi dadakan yang di buat Joseph tadi.


"Tapi Pa! Bagaimana mungkin Darla pemenangnya!? Penyajian makanan Darla biasa-biasa saja." Maura sangat tak terima dengan pernyataan Joseph. Pasalnya makanan Darla terlihat biasa-biasa saja dan tak ada yang menarik.


"Jangan banyak membantah! Bukan kah sudah ku katakan tadi! Aku menilai berdasarkan rasa makanan, bukan hanya dari penampilan! Pergi kau dari sini, sebelum aku mengusir mu secara paksa!!!" teriak Joseph membuat Maura terlonjak kaget.


Maura beralih menatap Jane, meminta pembelaan namun Jane hanya melayangkan tatapan kecewa juga pada penilaian suaminya itu. Tanpa banyak kata Maura berlalu pergi menuju pintu utama dengan menyumpah serapah Darla di dalam hatinya.


"Joseph, kau tidak bercanda kan?" Jane mendekat, tak percaya dengan masakan Darla yang enak menurut suaminya itu.


Joseph enggan menyahut, melainkan melenggang pergi dari hadapan Jane dengan cepat. Selepas kepergian Joseph, Jane segera mengambil makanan Darla dan menyantap semur jengkol dengan pelan.


'Makanan apa ini? Mengapa rasanya enak sekali?'


"Bagaimana? Enak tidak?" tanya Darla seraya mengangkat dagunya dengan angkuh.


Jane meletakan sendok dengan kuat. Kemudian berkata,"Tidak! Masakanmu sangat tidak enak! Cih!" Jane berjalan cepat meninggalkan James, Darla dan Michael di ruangan.


Selepas kepergian Jane. Michael penasaran dengan masakan Darla tapi karena gengsi, dia tak jadi mencicipi masakan Darla. Secepat kilat ia mengejar mamanya di depan sana. Sementara James dan Darla saling melemparkan pandangan sekarang.


*


*


*


Malam pun tiba. Suasana di mansion nampak sunyi karena sang pemilik dan penghuni sedang tertidur pulas. Tiba-tiba dari lantai atas terdengar suara Jane berteriak histeris.


"Joseph! Bangun! Bangun! Hiks, hiks, Joseph... Michael, James!"


Mendengar hal itu. James dan Darla yang tengah berciuman di atas ranjang menghentikan kegiatan mereka.


"Suara apa itu?" tanya Darla dengan nafas terengah-engah.


"Entah lah, sudah ayo kita lanjutkan."


"Tapi James...." Darla mendorong dada James dengan cepat.


"Joseph! Jangan pergi!!!" teriak Jane lagi. Membuat James dan Darla terpaksa beranjak dari tempat tidur.