
"Setelah aku pikir-pikir bagaimana kalau Michael juga ikut memasak! Tapi aku ingin dia memasak semur jengkol juga bersama James," kata Darla lantang membuat Michael melebarkan mata.
"Whats?! Yang benar saja aku tidak bisa memasak!" Michael menolak dengan cepat. Sebab dia tak mau terjun ke dapur untuk memasak.
James menyeringai tipis melihat Michael nampak gelisah.
"Michael, jangan begitu, apa kau mau mama diamkan lagi?" Jane menggertak seraya melirik Joseph tengah menyesap kopi hitam.
"Tapi, ma-"
"Tidak ada tapi-tapi, hitung-hitung kau belajar memasak kalau Darla dan James kembali ke LA. Kau bisa memasakan papa semur jengkol!" seru Joseph dengan melirik-lirik Jane.
James menyipitkan mata melihat interaksi antara mama dan papanya. Entah mengapa dia merasa orangtuanya tengah berusaha membuat ia dan Michael dekat.
Semenjak kejadian tadi pagi. Michael selalu mengekori dirinya kemanapun dia pergi. Semula James risih namun Darla menasehatinya, mengatakan padanya agar berdamai dengan Michael dan meredam rasa benci di dalam hatinya. James merasa ada suatu kejadian yang ia sendiri tak tahu sehingga Michael berubah dan bersikap baik padanya.
Setelah di bujuk Jane. Akhirnya Michael mau tak mau menuruti permintaan Darla. Dengan terpaksa Michael ke dapur, menghampiri James tengah memotong bawang dengan dipandu Darla.
"Apa yang harus aku kerjakan?!" tanya Michael ketus.
James menoleh, lalu berkata,"Rebus jengkol!"
'Rasakan itu! Kau harus merasakan masak seperti aku kemarin!' James senang melihat wajah Michael nampak kesal.
"Aku tidak tahu caranya, kakak ipar bisa kau jelaskan bagaimana caranya merebus?"
Tadi subuh tepat jam lima, mamanya datang ke kamarnya, memberinya nasihat dan ancaman jikalau mau dimaafkan olehnya harus meminta maaf kepada James dan berbuat baik pada istrinya juga. Sekarang Michael sedang berusaha menjadi anak baik, untuk mamanya. Meskipun dia bingung harus memulai darimana.
"Ambil jengkol di sana!" Darla menunjuk ke atas meja.
Dengan langkah lesu, Michael mengambil jengkol lalu mulai merebus jengkol tersebut.
'Argh! Ini semua gara-gara anak James! Awas saja kalau kalian lahir, akan aku gantung di pohon kelapa.' Dia menggerutu di dalam hati sambil menuangkan air ke dalam panci.
*
*
*
"Ough, ough!" Michael terbatuk-batuk karena masakannya gosong. Nampak asap mengepul di sekitar wajan. Secepat kilat James mematikan kompor.
"Kau ini! Tidak ada bakat sama sekali untuk memasak!" ucap James dengan menyeringai tipis.
"Memangnya kau pandai memasak! Nasi goreng kau saja tidak wangi!" Michael tak terima dengan tuduhan James sebab nyatanya James memang kesusahaan memasak tadi kalau Darla tak membantunya.
"Kau bilang apa barusan?!" James menarik kerah Michael seketika.
"Aku bilang masakan kau tidak wangi!" Bukannya takut Michael malah bersemangat memercikkan api di atas bensin.
"Kau!" James hendak melayangkan pukulan di muka Michael.
"Hei kalian berdua stop!"
Darla baru saja sampai ke dapur, beberapa menit lalu dia menghampiri Jane di ruangan lain, meminta mertuanya itu membuatkannya syal dari benang wol. Darla pun bingung mengapa dia ingin sekali memakai syal dan harus dibuat oleh Jane.
James dan Michael menoleh lalu menjauhkan tubuh mereka.
"Aku baru saja lima menit meninggalkan kalian! Dan kalian sudah membuat keributan! James, Michael malam ini kalian harus tidur di dekat kolam renang!" seru Darla tanpa sadar.
Keduanya terperangah bersamaan.
"Whats? Dear, ini musim dingin, kau sedang bercanda, Kan?"
"Nope, aku tidak mau tahu! Malam ini kalian harus tidur di luar!" Darla melipat tangan didada lalu mengangkat dagunya dengan angkuh.
"Ada apa ini?" Joseph baru saja tiba. Dia penasaran apa Michael sudah selesai memasak namun dia terkejut mendengar perdebatan kedua anaknya dan menantunya itu. Belum lagi dia mencium aroma gosong menyeruak ke hidungnya sekarang.
"Mereka berkelahi pa, maka dari tadi aku memberikan hukuman pada mereka," jelas Darla singkat.
Joseph terkekeh pelan lalu berkata,"Nikmati lah hukuman kalian, papa pergi dulu." Ia melenggang pergi dari dapur.
"Apa papa ke dapur hanya untuk mengejek kita?" cerocos Michael menahan sebal karena papa tirinya datang ke dapur hanya untuk tertawa.
James mengedikkan bahu, menandakan ia tidak tahu, secepat kilat ia berjalan menghampiri Darla.
"Dear, kau bohong, Kan? Kau tidak mungkin tega denganku." James tengah merayu Darla agar hukuman tak berjalan nanti malam.
Darla menggeleng cepat. "No! Hukuman akan tetap dilaksanakan!"
"Oh my God! Kakak ipar, aku mohon, cuaca di malam hari sangat lah dingin, kau tidak kasihan denganku!"
"Benar, Dear. Malam hari sangat lah dingin." Tanpa sadar James menyetujui perkataan Michael.
"Aku tetap pada pendirianku!" seru Darla seraya menatap James dan Michael tengah bersungut-sungut kecil sekarang.
*
*
Keesokan harinya.
James dan Michael mendengkur halus di tepi kolam renang. Keduanya tidur dengan posisi menyamping sambil menempelkan punggung mereka masing-masing.
Michael mengigil kuat seraya memeluk diri sendiri.
"Kak, panggilkan mama aku sangat tak mampu."
"Haichin!"
Michael bersin-bersin seketika membuat James mau tak mau beranjak dan bangkit berdiri.
"Kenapa kau sangat lemah! Ayo cepat bangun!" Udara di sekitar menusuk ke dalam kulitnya tapi James berusaha menahan rasa dingin yang melandanya sejak semalam.
"Tapi Kak, aku benar-benar tidak mampu!" Michael berucap dengan mata terpejam.
"Michael! Ayo cepat bangun! Jangan lembek kau! Kalau kau tidak bangun, aku tidak akan memanggilmu dengan sebutan adik."
Semalam, kedua kakak beradik lain ayah itu. Mengobrol santai, Michael mengaku dirinya iri pada James yang memiliki segalanya dan bergelimangan harta. Ketimbang dirinya kehadirannya tak dinantikan mama dan papa kandungnya. Dulu Michael ingin sekali James memanggilnya dengan sebutan adik namun hingga dewasa, tak pernah Michael mendengar James memanggilnya adik. Lambat laun rasa benci pun tumbuh perlahan dihatinya.
James sekarang paham, dia berusaha damai dengan Michael dan akan menganggapnya adik walau keduanya beda ayah.
Michael membuka mata dengan cepat. Seulas senyum mengembang dibibirnya sekarang.
"Benarkah?" Secepat kilat Michael berdiri.
Bruk!
"Michael!" panggil Jane dikala melihat Michael tumbang di tempat.
"Tenang lah, Ma. Dia hanya pingsan ma, dasar lemah, pantas saja kau masih kecil suka sakit-sakitan!" seru James seraya mendekatkan jari di hidung Michael. Bermaksud ingin mengetahui apa adiknya masih hidup atau tidak.
'Benar-benar menyusahkan!'