
Joseph mendengus melihat Jane acuh tak acuh. Lalu beralih menatap Darla lagi.
"Darla, tidak usah kau pikirkan wanita itu. Kalau Jane menyakitimu katakan saja padaku!" seru Joseph seraya memandangi perut Darla.
"Thank's Pa." Darla bersyukur karena Joseph sudah berpihak padanya sekarang. Meskipun sampai saat ini Jane masih menabuh genderang peperangan padanya. Kemarin Darla pun tak percaya kalau dia akan memiliki anak kembar empat.
"Pa, mobil sudah siap, ayo kita keluar." James menyelenong masuk ke dalam ruangan sambil membawa kursi roda.
Joseph menghela nafas, melihat kepedulian dan perhatian putra kandungnya. Beberapa bulan lalu dia sangat menyesali perbuatannya karena sudah mengusir anak kandungnya sendiri. Maka dari itu demi menebus kesalahannya, dia membuat kebohongan bahwa ia sakit keras agar James mau datang ke Moskow. Apalagi dia mendengar James sudah menikah dari Jane membuatnya semakin penasaran.
Semula Joseph tak menyetujui hubungan James ketika mengetahui Darla tak berasal dari kalangan atas namun melihat keberanian Darla dan sikapnya yang bar-bar. Joseph kagum dan berusaha menerima Darla apalagi mendapati menantunya itu pandai memasak.
"Oke."
Secepat kilat Darla membantu papa mertuanya duduk di kursi roda. Jane yang melihat kepedulian Darla sedikit terenyuh.
*
*
*
Sesampainya di mansion. Joseph berjalan perlahan menapaki rumah megah itu seraya menelisik keberadaan Michael yang tak nampak di pelupuk matanya. Joseph melayangkan tatapan tajam pada Jane seketika.
"Di mana anakmu itu?! Belum pulang juga?!!!" Suara Joseph memenuhi seluruh penjuru mansion sampai-sampai para asisten dan bodyguard yang sedang bertugas, terlonjak kaget.
Bibir Jane kelu. Bingung harus menjawab apa. Sebab Michael tak kunjung mengangkat teleponnya dari tadi. Jane menahan sebal karena Michael benar-benar sudah kelewat batas.
"Kalau malam ini dia tidak pulang juga, aku akan menarik semua asetnya dan mengusirnya dari mansionku ini!"
"Jangan! Aku mohon, tenang lah, Michael pasti akan pulang." Jane memohon pada Joseph dengan mengatupkan kedua tangannya di dada.
"Terserah! Aku tidak mau tahu! Sudah cukup kau memanjakannya!!!" Joseph mendengus lalu berjalan menuju lift di sisi kanan.
Selepas kepergian Joseph. Jane mendengus lalu melirik sekilas James dan Darla hanya diam mendengarkan obrolan mereka.
"Kau beristirahat lah, Darla. Cucu-cucuku tidak boleh sampai kenapa-kenapa," ucapnya, tanpa sadar lalu bergegas pergi meninggalkan Darla dan James yang terpaku di tempat.
"Dear, benar kata mama, ayo kita ke atas, kau pasti capek," sahut James.
Darla menggeleng cepat, segera tersadar. "Eh- iya-iya, ayo ke atas, tapi aku mau digendong," ujarnya dengan nada manja.
Tanpa banyak kata James menggendong Darla bak pengantin baru. Entah mengapa, James sangat suka melihat Darla manja padanya, mungkin faktor hamil wanitanya itu sekarang banyak maunya.
Sesampainya di lantai dua. James mengajak Darla untuk mandi bersama terlebih dahulu, selesai mandi, keduanya beristirahat di dalam kamar, melepas rasa kantuknya karena susah dua hari kurang tidur.
"Selamat tidur, dear." James membenamkan wajahnya di ceruk leher Darla sambil menghirup aroma tubuh Darla yang sangat wangi, menurutnya. Dalam sepersekian detik, James ikut terlelap dengan memeluk Darla.
*
*
*
Darla menoleh ke samping, melihat James tidur dengan damai. Dia menggapai pipi James kemudian menoel-noel pipi suaminya itu sambil cekikikan sendiri.
"Em kalau di pikir-pikir James belum pernah mengatakan cinta padaku," Darla bergumam kecil, entah mengapa dia menjadi takut kalau James akan mengusir dan membuangnya nanti jika dia sudah melahirkan.
Seketika cairan bening mengalir dipipinya. Darla terisak pelan, secepat kilat ia menyeka air matanya.
"Ada apa denganku? Mengapa aku jadi mellow begini sih," ucap Darla, bingung pada diri sendiri.
Krucuk..
Bunyi perutnya yang menggema berhasil mengubah ekspresi wajah Darla. Dia terkikik pelan karena di tengah malam malah ingin makan.
"Duh anak mommy, masih lapar ya."
Darla mengelus perutnya sejenak lalu menolehkan mata ke samping. Melihat James masih tertidur pulas. Darla tak tega membangunkan suaminya untuk menemaninya ke dapur. Tanpa banyak kata Darla keluar dari kamar hendak ke dapur.
Di sepanjang lorong. Darla bersenandung kecil sambil melihat-lihat lukisan yang terpajang di setiap dinding.
"Darla, kau kah itu?"
Suara seseorang dari belakang menghentikan gerakan kaki Darla. Secepat kilat Darla memutar tumitnya.
"Bukan! Aku kuntilanak! Kau itu buta atau apa ha?!" kata Darla ketus melihat Michael sepertinya baru saja sampai mansion.
Michael terkekeh sesaat. Lalu berjalan, menghampiri Darla.
"Kau mau kemana? Aku dengar kau hamil, apakah benar?" Michael menatap Darla dengan penuh nafsu.
Darla melipat tangan di dada seraya mendelikkan mata. "Iya! Sudah, aku mau ke dapur, karena anak-anakku demo minta makan."
"Tunggu!" Michael mencekal pergelangan tangan Darla. "Jadi benar kau hamil? Bagaimana bisa? Bukannya kalian-"
"Stop! Lepaskan aku!" potong Darla cepat sambil mengibaskan tangan Michael dengan kuat. "Memangnya salah aku hamil, walaupun pernikahan kami awalnya tak baik, tapi kami saling mencintai sekarang!" sahut Darla tersenyum kaku meski sampai saat ini James belum mengatakan cinta padanya.
"Si@lan! Gugurkan anak itu sekarang!" Kedua tangan Michael mengepal kuat.
"Ha? Kau gila atau apa?! Ini anak aku dan James!" Dahi Darla berkerut kuat. Tak habis pikir dengan perkataan Michael barusan.
"Iya! Karena anak itu adalah darah daging James!! Aku sangat membencinya!" Secepat kilat Michael ingin menyentuh Darla namun Darla melayangkan pukulan di perut Michael dengan gesit.
"Kau mabuk?! Jangan macam-macam denganku! Kalau kau membenci James, ya sudah, tapi jangan rusak kebahagian kami!" seru Darla seraya memelintir tangan Michael.
"Cih! James tak berhak bahagia! Aku akan merebut semua kebahagiannya, sama seperti dulu, ketika aku membuat mama dan papanya tak memberikan perhatian lagi padanya, hahaha! Argh!!!"
Michael mengaduh kesakitan kala Darla kembali memukul dadanya. Michael terhuyung ke belakang sejenak. Namun entah dari arah mana, seseorang menamparnya seketika.
Plak!
"Ma.. Mama!" Michael terkejut melihat Jane menatapnya dengan nafas memburu.
"Mama kecewa dengan dirimu, Mich!" seru Jane.