
James bingung dengan sikap Darla sekarang. Sedari tadi Darla mendiamkan dirinya. Apa wanita itu tidak tahu betapa senang dirinya manakala Darla telah siuman, pikir James sesaat.
Benak James dipenuhi tanda tanya sekarang, saat melihat jejak kemarahan terpancar jelas dari mata Darla. Apa dia membuat kesalahan pada Darla? Entah lah, James semakin frustrasi dengan tingkah Darla.
Para tenaga medis keluar dari ruangan setelah memeriksa keadaan Darla barusan. Selepas kepergian dokter dan suster. James mendekat, duduk di tepi ranjang, menatap Darla dengan sejuta kerinduan mendalam. Sedangkan Darla memalingkan mukanya lagi.
James menghela nafas. Lalu berkata,"Dear, kau kenapa? Katakan padaku? Aku salah apa? Tidak tahu kah kau, aku sangat mengkhawatirkan dirimu." Sebuah kalimat panjang terlontar dari bibir tipis James. Pria beriris abu-abu itu berharap sang istri dapat membalas perkataannya.
Bukannya menjawab pertanyaan dari James. Darla malah memejamkan mata. James mendengus sesaat, melihat Darla kembali mengacuhkannya.
"Dear, kau tadi ingat kan dokter mengatakan kalau kau hamil, apa kau tidak senang?" James mencoba merayu dengan mengelus pelan kepala Darla.
Darla bergeming, tak ada tanda-tanda bibir dan matanya akan terbuka. Terdengar hembusan nafas pelan dari hidung mancungnya itu, James tentu saja mengetahui bahwa Darla belum tertidur, wanita itu hanya berpura-pura saja sedang menghindari dirinya.
James masih menunggu Darla membuka suara. Sedari tadi tak melepaskan pandangan sedikitpun dari Darla.
Hening sejenak. Hingga seorang perawat masuk ke dalam ruangan, menyapa James yang masih duduk di tepi ranjang. Tak ada sahutan dari James. Dia dapat merasakan aura yang menguar di ruangan terasa sesak. Perawat menerka-nerka, ada apa dengan pasangan suami istri tersebut. Tak mau membuang banyak waktu, ia berjalan ke arah meja hendak meletakkan obat untuk Darla.
Hening sejenak.
"Darla!" Kesabaran James hanya setipis tisu, kala merasa tak dihargai sebagai seorang suami. Sikap Darla berlebihan menurutnya.
James lebih suka Darla memarahi atau mengomeli dirinya. Tapi sekarang Darla diam seribu bahasa, padahal baru saja sembuh.
Darla membuka mata, menatap nyalang James.
"Apa?! Pergi saja sana kau dengan wanita-wanitamu itu?!"
James berkedip cepat. Mencoba memahami untaian kata demi kata yang diucapkan Darla barusan. Gurat kebingungan terpampang jelas di wajah James sekarang.
"Wanita? Apa maksud mu dear? Aku tidak mengerti?" tanya James.
Lagi dan lagi Darla melengoskan muka. Sedangkan James mendesah kasar. Bingung harus berbuat apa.
Tanpa mereka sadari perawat melihat dan mendengar perbincangan keduanya. Perawat geleng-geleng kepala sesaat. Setelah meletakkan obat dia bergegas keluar ruangan.
"Dear, jangan mendiamkan aku, apa kau tidak tahu setiap hari, setiap malam, aku menunggu mu." James mendekap Darla tiba-tiba. "Dear, kau kenapa?"
"Lepaskan aku!" Darla memberontak. Namun James semakin memeluk erat istrinya. Sampai membuat Darla kesusahan bernafas.
"Apa!? Pergi kau sana! Dasar tukang selingkuh!" Darla berucap cepat membuat dahi James berkerut hingga tiga lipatan.
"Selingkuh apa? Dari kemarin aku mencarimu," protes James sebab Darla menuduh dirinya tanpa bukti yang jelas.
"Bohong! Aku bermimpi kau selingkuh dariku!"
James tercengang. "Dear, itu hanya lah mimpi!"
"Mimpi! Bisa saja menjadi kenyataan kan! Aku membencimu James! Aku tidak merindukanmu, pergi sana kau, aku malas melihat mukamu!" Darla mendengus lalu menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut.
James menarik nafas panjang, tanpa banyak kata keluar dari ruangan hendak menemui dokter ataupun perawat, meminta penjelasan mengapa sikap Darla sangat aneh setelah siuman.
Sesampainya di ruangan. James menceritakan semua permasalahan yang telah terjadi. Dokter pun menjelaskan penyebab perubahan sikap Darla. James terkejut ketika dokter mengatakan, pada umumnya ibu hamil mengalami perubahan hormon kehamilan, salah satunya ditandai dengan perubahan suasana hati (mood swing) yang kentara. James nampak mangut-mangut berusaha menerima kenyataan jikalau dia harus ekstra sabar menghadapi Darla.
Untuk pertama kalinya, sebagai seorang calon ayah, James mendapatkan informasi baru seputar kehamilan. James berharap ia dapat menjadi suami yang baik untuk Darla. Setelah puas bertanya-tanya pada dokter dan menemukan jawaban. James bergegas masuk ke dalam ruangan lagi.
Melihat Darla tengah duduk seraya melipat tangan di dada. "Kau pasti bertemu Laura kan?!" serunya ketika kemarin malam bermimpi James bersama Laura saling berpelukan satu sama lain.
James mendekat, kemudian menangkup pipi Darla."Dear, itu hanya mimpi, percaya lah padaku, pegang kata-kata ku ini. Aku tidak mungki berselingkuh bersama Laura, apa kau lupa tempo lalu aku menyiksanya."
Darla mengerjap-erjapkan mata, memandangi netra berwarna abu-abu itu dengan seksama. Dia pun bingung pada dirinya sendiri, mengapa emosinya tak bisa di kontrol.
"He-em baiklah aku percaya," ucap Darla dengan memanyunkan bibir.
James tersenyum sejenak. Kemudian ingin mencumbunya namun secepat kilat Darla mendorong dada James.
"Dear, why?" tanya James setelah mendapatkan penolakan barusan.
"Kalau kau mau menciumku! Kau harus memasakan aku semur jengkol!" sahut Darla seraya tersenyum sumringah.
Bibir James sedikit terbuka. Apa? Dia bilang semur jengkol? Yang benar saja, memasak air saja James tidak bisa, apa lagi semur jengkol?
'Tenanglah James, kau bisa membelinya, bilang saja kau yang memasak.'
"Kau harus memasakkan aku semur jengkol! Awas saja kau membelinya!" Seakan bisa membaca pikiran James, Darla mengancamnya membuat James seketika mendesah kasar.
'Tidak apa-apa James, ini demi anakmu yang kurang ajar itu! Awas saja dia, kalau sudah besar akan aku gantung di pohon cabe.'