Mr. Mafia Meet Juragan Jengkol

Mr. Mafia Meet Juragan Jengkol
Terbakar Api Cemburu



"Apa anda sudah selesai berbicara?"


Suara James terdengar dingin membuat suasana di dalam ruangan seketika mencekam. Jane terdiam melihat sorot mata putranya sangat tajam. Michael yang sedari tadi mengajak Darla berbicara, mengalihkan pandangan mata ke arah Mama dan kakaknya. Sedangkan Darla menarik nafas pelan tengah melamunkan sesuatu.


"James, Mama mau melihatmu bahagia, Nak," ucap Jane membuat James menyeringai tipis.


"Bahagia?" James mengulangi perkataan Jane, masih dengan seringai terukir di wajah sangarnya.


"Iya, Mama tau kau–"


"Stop!" potong James cepat membuat Darla yang tak sengaja mendengarkan obrolan, menggerutu kecil di dalam hatinya ketika James menyela Mamanya, ia sangat penasaran, ada hubungan apa antara James dan Esmeralda.


"Oke, oke, Mama minta maaf, ya sudah yang berlalu biarkan berlalu, nah sekarang Mama memohon padamu, Nak. Menikah lah dan miliki seorang anak, Mama semakin tua. Mama sudah mempunyai calon istri yang latar belakangnya bagus, Nak." Jane menampilkan raut wajah sedih, berharap James dapat luluh dengan permintaannya.


James tak menggubris perkataan Mamanya, ia tengah memandangi Darla yang saat ini sibuk menggeser tubuhnya ke samping karena Michael memonopoli tempat duduknya.


"Apa kau bisa bergeser sedikit, Michael!" James berseru lantang membuat Michael terlonjak kaget.


Tanpa banyak kata Michael kembali ke posisi semula. Pria itu menahan amarah karena di bentak di depan Mamanya dan Darla.


'Si@lan! Awas kau, James! Kalau Mama tidak ada di sini, mungkin aku akan melawanmu!' Batinnya seraya melirik-lirik Darla lagi.


Sementara itu Darla berdecak sesaat, sebab sedari tadi Michael menganggu dirinya. Ia bingung entah harus merasa senang atau tidak ketika melihat James peduli padanya. Namun ketika melihat muka James yang menyebalkan membuat Darla menggeram sebal. Ia memalingkan muka ke samping kala James menatap tajam padanya.


"James, kau belum menjawab pertanyaan dari Mama? Bagaimana? Apa kau mau menikah dengan wanita pilihan Mama?" tanya Jane tak menyerah sedikitpun.


"Terserah!" kata James ketus tanpa melepaskan pandangan matanya dari Darla.


Jane tersenyum sumringah ketika mendengar perkataan putranya barusan. Secepat kilat ia menjejerkan foto-foto di atas meja hendak memperkenalkan wanita yang akan bersanding dengan James.


"Hei, kau! Buatkan kami minuman dan cemilan di dapur!" perintah Mama James tiba-tiba kepada Darla.


Darla menoleh, lalu bertanya,"Cemilan apa, yang mulai ratu?"


Mendengar suara Darla yang terkesan mengejek, Jane menggertakkan bibirnya.


"Kau belum jera ya! Terserah yang pastinya aku tidak mau terlalu banyak gula!" kata Jane dengan menatap tajam. Darla mengangguk, kemudian berlalu pergi meninggalkan ketiganya di ruangan tersebut.


"James, bagaimana dengan wanita ini? Dia mirip sekali dengan Esme, Mama dengar dia lulusan S2, dia juga CEO, sama seperti Esme," jelas Jane seraya menunjuk foto seorang wanita berambut panjang berwarna coklat dan memiliki warna mata yang sama dengan rambutnya.


James mendengus kasar seraya mengamati foto tersebut kemudian berkata,"Apa harus memiliki latar belakang yang bagus untuk menjadi pendamping hidupku?"


"Tentu saja, James! Mama mau bebet, bobot dan bibitnya sama dengan kita. Kau tahu sendiri kan, Papa mu bangsawan, apa kata saudara dan sepupu Mama nanti jika tahu istrimu tak sederajat dengan kita!"


James berdecih sejenak, lalu kembali berucap,"Cih! Seandainya aku menikahi seorang wanita yang tidak memiliki perkerjaan yang bagus. Apa kau menerimanya atau tidak?"


"Jangan sampai hal itu terjadi, James. Mama tidak sudi! Kau hanya bercanda, Kan, James? Tidak mungkin kau mau menikahi wanita yang rendah derajatnya."


Enggan menyahut. James melayangkan tatapan dingin kepada Mamanya.


Jane tergugu sesaat. "Mama yakin kau cuma bercanda, sudah lah, nanti kau harus menemui wanita ini!" sahut Jane membuat James mengerutkan dahi.


"Haha, kau pasti bingung, 20 menit yang lalu Mama ada chat Laura untuk datang ke mansion mu, dia sebenarnya sudah mengenali dirimu sejak lama, James. Mungkin sebentar lagi dia akan datang," jelas Jane semangat.


James membalas dengan mendengus kasar.


"Aku mengenali Laura, Kak. Dia sangat cantik," kata Michael menimpali.


'Hm tapi kalau di pikir-pikir Darla lebih cantik dari Esme ataupun Laura. Aku harus bisa menyentuh tubuhnya itu.'


*


*


*


Selang beberapa menit. Darla yang tengah menaruh minuman dan cemilan di atas nampan terusik dengan kedatangan Michael yang sedang mengambil minuman di dalam kulkas.


"Hai, Darla kau membuat cemilan apa?" tanya Michael dengan mengedipkan satu matanya.


"Matamu buta atau apa?! Kau tidak lihat ini!" jawab Darla dengan menatap tajam Michael.


Para maid yang sedang melakukan aktivitasnya di mansion menatap iri dan dengki ke arah Darla karena di sapa oleh Michael. Tak pelak membuat sebagian dari mereka menyumpah serapah Darla di dalam hati.


"Kau semakin cantik, jika sedang marah, sweety!" Michael menjilati bibirnya membuat Darla bergedik ngeri.


"Dasar mesum! Minggir kau!" Darla mengerlingkan mata sejenak sembari menyikut kuat lengan Michael kemudian mengambil nampan dan melangkah pergi dari dapur hendak ke lantai atas.


Sesampainya di atas. Darla menggeram sebal karena Michael mengikutinya dari belakang. Ia jelas paham apa yang diperhatikan Michael sedari tadi.


'Argh! Tidak kakak, tidak adiknya sama-sama mesum! Aku berharap James menikahi wanita pilihan mamanya itu dan menceraikan aku secepat mungkin lalu aku bisa bebas!' Dari kejauhan Darla dapat melihat seorang wanita yang wajahnya mirip Esme duduk di samping James.


"Ini makanan dan minumannya." Darla meletakkan nampan di atas meja. Kemudian menaruh gelas dan piring dengan hati-hati. Namun tanpa sengaja gelas yang berisi orange juice tumpah seketika mengenai kaki calon istri James.


"Argh! Hei kau sengaja atau apa?! Lihat gaun mahal ku kotor karena ulah babu seperti dirimu!" murka calon istri James atau bisa kita panggil dengan sebutan Laura.


"Sorry, sorry, aku tidak sengaja, kalau kotor ya tinggal di cuci!"balas Darla cepat membuat Jane dan Laura tercengang. Sementara James menatap Darla dengan tatapan penuh arti. Sedangkan Michael semakin tertantang melihat sikap Darla yang bar-bar dan tidak ada takutnya sama sekali.


"Apa kau bilang?! Dasar wanita rendahan! Jadi babu saja belagu!"


Darla membalas dengan mengerlingkan mata ke atas.


"Darla, lebih baik kau pergi sana!"


Jane jenggah dengan sikap Darla yang semakin berani kepada semua orang. Dia menerka-nerka mengapa James tidak memecat Darla padahal dia mengetahui tabiat James jika ada orang yang membuat keributan di mansion pasti akan langsung di pecat. Tanpa banyak kata Darla melengos pergi ke taman belakang hendak menemui Diego.


"Diego, kau di mana?" Darla menelisik keberadaan Diego. Sepotong daging sapi segar bertengker di tangan kanannya. Terdengar auaman rendah di ujung sana, membuat Darla mengalihkan pandangan matanya. Secepat kilat ia menghampiri Diego yang sedang berguling-guling di rerumputan.


"Diego, aku membawakan makanan untukmu, makan lah!" Darla meletakkan daging di atas rumput. Melihat daging yang segar, Diego berdiri kemudian mendengus-dengus daging tersebut.


"Darla! Mengapa kau sangat sibuk?" Michael berlari cepat' menghampiri Darla. Darla terkejut sekaligus heran, sejak kapan Michael ada di bawah.


Darla memilih mengelus-elus bulu lebat Diego. Lalu duduk di samping Diego. Ia mengacuhkan keberadaan Michael karena kehadiran pria itu membuatnya risih.


"Hei, jangan cuek begitu, aku hanya ingin berteman denganmu Darla, tenang lah aku tidak seperti James."


Lagi dan lagi Darla tak membalas ucapan Michael. Dia menganggap perkataan James hanya angin lalu saja. Namun tiba-tiba tak ada angin, tak ada hujan, bahkan petir sekalipun' Michael memeluk erat Darla dari belakang.


"Ahhhh!!" teriak Darla seraya mengigit tangan Michael, membuat Diego yang sedang menyantap makan siangnya mengaum nyaring.


"Rawrrrrrr!!!"


Michael meringis kesakitan sejenak. Lalu berkata,"Sorry, Diego, aku hanya mau memeluk Darla. Tenang lah." Michael mundur beberapa langkah melihat Diego menatap tajam ke arahnya.


Di ujung sana. James mengepalkan kedua tangannya dengan kuat melihat Michael memeluk Darla barusan.


"James, kenapa berhenti?"tanya Laura heran. Sedari tadi wanita itu bergelayut manja di samping James.