Mr. Mafia Meet Juragan Jengkol

Mr. Mafia Meet Juragan Jengkol
She Mine!



Waktu menunjukkan pukul satu siang. Darla bingung ingin melakukan apa. Sedari tadi dia duduk di atas balkon sembari menyesap teh yang disuguhkan para maid. Darla melirik sekilas kedua maid yang berdiri tegap tak jauh darinya, ia berdecak sesaat, karena diperhatikan terus menerus dari tadi.


"Apa kalian tidak capek berdiri terus?" Darla membuka suara, membuat kedua maid itu mengangkat wajahnya.


"Tidak Nona. Ini memang tugas kami. Kami harus bediri selama menemani anda," kata maid bertubuh tambun itu.


Mendengar hal itu. Darla mendengus kemudian mengambil kembali gelas yang ia taruh di atas meja tadi.


"Duduk lah!" perintah Darla seketika membuat kedua maid itu terlihat mulai panik.


"Tapi Nona. Kami tidak boleh duduk, karena itu melanggar peraturan yang telah Tuan Orlando buat," ucapnya cepat.


"Whats?! Peraturan? Benar-benar gila, aku pikir hanya James saja yang bisa gila membuat peraturan di mansion. Ternyata ada yang lebih gila dari dia!" Darla berseru lantang membuat para maid ketar-ketir. Teringat jika du siang hari empunya mansion akan beristirahat. Pasalnya kamar Orlando di bawah kamar Darla.


"Nona, maaf jika saya lancang, bisakah anda mengecilkan suara anda. Tuan Orlando sedang beristirahat Nona."


Darla melebarkan matanya, menatap dua maid itu secara bergantian. "Aku tidak perduli! Ini suara ku, mau besar atau kecil, itu urusanku!" Emosi Darla meledak-ledak. Dia menahan sebal sebab Orlando membuat peraturan di mansion yang mengekang kebebasannya.


Hal itu membuat para maid semakin gusar. Sebab suara Darla terdengar lebih melengking dari sebelumnya. Kedua maid itu menundukkan kepalanya, tak menyangka Darla tak mau menuruti permintaan mereka.


'Apa aku membuat keributan di mansion saja ya! Biar dia tidak betah memenjarakan ku di sini.' Darla memandangi dua maid itu secara bergantian.


'Tapi aku lagi mager, ini pasti karena cuaca di sini sangat panas!' Darla mendongakkan kepala ke atas, melihat matahari terik-menderik di atas sana.


"Kita ada di mana?" tanya Darla penasaran sebab tempat tinggal Orlando terbilang jauh dari keramaian pusat kota. Apa lagi dia melihat dengan jelas di depan sana. Pagar besi yang sangat tinggi dan membentang luas mengelilingi kediaman Orlando.


"Kami tidak tahu Nona," sahut maid berwajah oval dengan cepat.


Darla mendelikkan mata. "Aish, tidak usah berbohong, kalian pasti tau! Tapi karena Tuan kalian yang mesum itu! Kalian tak boleh mengatakan pada ku kan di mana tempat tinggal aku yang sekarang."


Kedua maid itu mengangguk kikuk.


"Benar-benar membosankan, pasti kita di tengah-tengah hutan!" celetuk Darla tanpa sadar. Membuat para maid gelagapan.


Melihat tingkah keduanya, Darla memicingkan matanya.


"Jadi memang benar kita ada di tengah hutan?" Padahal Darla hanya menebak jika ia saat ini berada di tengah hutan akan tetapi sepertinya perkataannya benar.


Enggan menyahut. Para maid malah menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


Darla menghela nafas. "Aku mau tidur, bisa kah kalian keluar!" titah Darla tiba-tiba.


Tanpa membalas ucapan Darla. Kedua maid itu mengangguk pelan. Kemudian berlalu pergi meninggalkan Darla masih duduk menghadap balkon. Setelah mendengar bunyi pintu di tutup, Darla beranjak dari tempat duduknya. Berjalan cepat menuju ambang pintu dan mengunci pintu berganda emas itu seketika.


"Aman." Darla mengibaskan rambutnya sejenak. Bergegas ia mencari sesuatu di dalam laci nakas.


"Aku penasaran, apa aku benar-benar hamil?" Semenjak kejadian tadi pagi ketika ia memuntahkan makanannya. Darla mengira ia hamil. Sebab sudah beberapa hari pula tanggal menstruasinya lewat. Apalagi dia dan James akhir-akhir ini selalu bercocok tanam.


Untuk memastikan praduganya, Darla pun ingin memeriksa dia hamil atau tidak di testpack akan tetapi mengingat dia tinggal di kediaman musuh James. Darla sedikit takut, jika Orlando mengetahui dirinya hamil. Bisa-bisa dia akan di siksa seperti di novel-novel online yang pernah dia baca dahulu.


Darla mendesah kasar, saat tak menemukan alat testpack di dalam kamarnya. Tak mau menyerah, ia pun mencari lagi benda pipih itu, berharap dapat ketemu walaupun kecil kemungkinan barang itu ada di ruangan.


*


*


*


Kini James berada di dalam mobil bersama Dominic dan anak buahnya, mencari Darla di tempat yang mereka curigai sebagai tempat tinggal Orlando Smith.


James memijit pelipisnya sedari tadi, kala rasa mual masih terasa. Dia bingung mengapa tubuhnya begitu lemah akhir-akhir ini.


"Apa Tuan sudah minum obat?" tanya Dominic tiba-tiba. Melihat wajah James nampak pucat.


James mengangguk pelan. Sebelum berangkat ke lokasi tujuan. Ia sudah sarapan walaupun sedikit karena setiap dia memasukan makanan ke mulut, pasti selalu muntah. James juga sudah meminum semua obat dan vitamin yang diberikan dokter. Ia juga kebingungan, dengan respon tubuhnya saat ini.


Gurat kebingungan juga tergambar jelas di wajah Dominic. Dia tak tega melihat ketidakberdayaan James sekarang. Pria bertindik di hidungnya itu, menarik nafas pelan, melihat James menyenderkan kepala di kursi mobil dengan memejamkan matanya.


"Tuan, lebih baik kita cari Darla besok saja lagi." Dominic memberikan saran kepada James karena tak mau melihat Tuannya pingsan di tengah-tengah pencarian.


James membuka matanya, menoleh ke arah Dominic. "Tidak! Aku harus mencari Darla sampai ketemu!" ucapnya membuat Dominic mendesah pelan.


"Tuan ada yang menelepon." Salah seorang anak buah James menyodorkan ponsel padanya.


"Siapa?" tanya James dengan meraih ponsel dari tangan anak buah.


"Leon Andersean."


Mendengar nama paman Darla di sebut. Secepat kilat James menggeser layar ponsel.


"Hallo."


"Hm, apa kau James Vardy?" tanya Leon di sebrang sana. Suara pria paruh baya itu terdengar berat.


"Iya, aku James Vardy," sahutnya cepat. Entah mengapa James merasakan aura Leon sangat pekat, walaupun ia hanya mendengarkan suaranya saja.


"Aku dengar keponakanku di culik?" tanya Leon.


James menarik nafas. Ternyata paman Darla masih peduli pada istrinya itu. Dia tak menyangka Leon mendapatkan informasi bahwa Darla telah di culik. "Iya, benar."


Helaan berat terdengar di ujung sana. Dan terdengar pula suara seorang wanita bersungut-sungut. James menebak jika Leon bersama istrinya sekarang yaitu, bibi Darla.


"James, aku akan mengirimkan anak buahku membantu kalian mencari Darla. Aku tak tahu ada masalah apa antara kau dan Orlando. Tapi yang jelas selesaikan segera tanpa harus melibatkan Darla. Aku tidak tahu jika istriku menyerahkan Darla padamu kemarin, maka dari itu setelah Darla ditemukan, aku memintamu menceraikan Darla," sahut Leon.


"Tidak! Darla milik ku, terserah kau mau membantu atau tidak. Dia hanya milik ku!" sahut James dengan lantang.


Mendengar perkataan James barusan. Leon terdiam sejenak.


"Apa kau mencintai keponakan ku?" tanya Leon.


"Aku sangat mencintainya, bahkan aku rela menukar nyawa ku demi dia," sahut James membuat Leon mengangkat ujung bibirnya membentuk sebuah senyuman.