
"James Vardy! Bisa kah anda mundur sedikit!" seru Darla ketika James menghimpit tubuhnya hingga ia kesusahan bernafas sejenak. Saat ini Darla berusaha menutupi kegugupannya. Jujur saja, ini baru pertama kalinya Darla begitu intim berdekatan dengan seorang pria. Walaupun dia sudah sering menggoda Eslin, akan tetapi Darla masih di tahap ambang batas. Apalagi melihat tubuh James yang seksi membuat pikiran Darla melayang-layang entah kemana sekarang.
"Ternyata seorang wanita yang liar sepertimu bisa juga takut?" James menyentuh dagu Darla, menuntun wanita itu agar dapat menatap matanya.
"Cih! Takut? Aku nggak takut tuh, hanya saja tidak mau melihat tubuhmu yang jelek itu!" Darla balik menatap James, dadanya tampak naik dan turun, tengah menahan amarah di dalam hatinya saat mendengar kata liar disematkan pada dirinya.
James terkekeh mengejek, lalu berkata,"Yakin? Kau orang pertama yang mengatakan tubuh ku jelek, asal kau tahu banyak wanita di luar sana mau tidur denganku."
Darla melayangkan tatapan merendahkan. "Iya, terserah katamu! Aku tidak peduli! Sekarang kau mundur atau burungmu itu mau ku tendang ha?! Biar burung pipitmu itu tidak bisa masuk lagi ke lubang surgawi!" seru Darla seraya mengepalkan satu tangannya hendak melayangkan pukulan ke udara.
Melihat wajah Darla. Lantas James mundur dua langkah seraya menutup mulutnya karena ancaman Darla terkesan lucu menurutnya.
"Kau wanita aneh yang baru ku temui! Keluar sana, aku mau mandi! Siapkan aku pakaian, hari ini aku ada tamu penting yang mau datang ke mansion."
Darla enggan menyahut, malah menghela nafas lega karena James tak melakukan sesuatu padanya. Semula pikiran negatif Darla menari-nari dibenaknya, mengira James akan memperkosa atau menciumnya paksa.
"Iya!" kata Darla ketus kemudian secepat kilat berlarian keluar kamar mandi, meninggalkan James yang tengah menatap kepergiannya.
'Wanita aneh.' Monolog James seraya membuka handuk.
*
*
*
Saat ini Darla berada di walk in closet tengah mencari pakaian yang akan dikenakan James nantinya.
"Kenapa dia suka sekali baju warna hitam, benar-benar pria aneh." Darla melihat isi lemari James yang penuh dengan pakaian berwarna hitam. Dari kemeja, kaos, dasi, dan celana bahkan pakaian dalam pun berwarna hitam.
"Walaupun uncle Leon seorang mafia, dia selalu memakai pakaian yang berwarna cerah, tidak seperti James warna pakaiannya semuanya gelap dan suram, sesuai dengan sifatnya itu!" Darla menyambar kemeja dan celana berwarna hitam di lemari kemudian membawa pakaian tersebut keluar.
"Lama sekali dia mandi! Ah sudah lah lebih baik aku keluar saja, lagipula dia tidak mengatakan padaku kan harus menunggunya selesai mandi." Darla melirik sekilas pintu toilet seraya meletakkan pakaian James di atas kasur. Ia pun berjalan perlahan menuju ambang pintu kamar James.
"Siapa yang menyuruhmu keluar?"
Seketika langkah kaki Darla terhenti manakala mendengar suara James bergema di telinganya. Darla menoleh, kemudian menundukkan kepalanya ketika melihat James keluar dari toilet hanya dengan bertelanjang d@da.
'Dia mau pamer atau apa sih?!' tanya Darla di dalam hati, saat tanpa sengaja melihat buliran air masih menetes di tubuh James, sehingga membuat James terlihat seksi.
"Darla!" panggil James. Pria itu mulai tersulut emosi karena Darla tak langsung membalas ucapannya.
"Apa?!" Darla memberanikan diri menatap James walaupun sebenarnya dia tengah mengusir pikiran nakalnya.
"Siapa yang menyuruhmu keluar?!!" James naik pitam, mendengar Darla berkata ketus padanya.
"Tidak ada! Aku sendiri yang mau, aku sangat lapar! Apakah kau bisa berbelas kasihan padaku sedikit saja," kata Darla membuat James terdiam seketika.
"Hm, makan di sini saja. Aku akan menyuruh Grey mengantarkan sarapan ke sini!" James berjalan menuju kasur, mengambil pakaian yang telah disiapkan Darla tadi.
Enggan menyahut, Darla tengah kebingungan menanggapi perkataan James barusan karena ia curiga dengan James yang tiba-tiba baik padanya.
Sedangkan James sibuk dengan dunianya. Pria itu menatap heran ke arah Darla yang sedari tadi terdiam membisu.
'Apa wanita itu tengah merencanakan sesuatu?'
"Sudah selesai belum James? Lebih baik aku ke dapur saja, kasihan Tuan Grey, dia pasti sibuk mengurus asisten yang lain," tanya Darla tanpa menatap lawan bicara.
"Sebentar lagi." James mengancing kemejanya.
"Mengapa kau selalu saja membantah, itu sudah menjadi tugas Grey!" Sambungnya lagi sembari merapikan pakaian dengan menyentuh badannya sejenak.
"Ish! Kau sangat menyebalkan James!" Darla menghentak kakinya sesaat ke lantai. Dia semakin curiga dengan sikap James.
James enggan menyahut malah mendekati nakas, kemudian mengangkat gagang telepon. "Antarkan makananku ke atas sekarang!" ucapnya entah kepada siapa di sebrang sana.
"James, sudah selesai?" tanya Darla penasaran.
"Sudah."
Darla berbalik, melihat James tengah menyisir rambut dengan jari-jemarinya.
"James, aku mau keluar. Makan dikamar itu tidak enak tahu." Darla beralasan agar ia tak bersama James di satu ruangan. Entah mengapa perasaannya tak karuan setelah teringat kembali roti sobek James tadi. Bohong, jika Darla tak tergiur dengan tubuh James yang menggoda imannya.
"Sekali lagi kau membantah, aku akan menghukum mu!" James memakai arloji di pergelangan tangan kemudian berjalan menuju sofa, lalu duduk dengan tenang menghadap televisi.
Darla mendengus pelan, tanpa aba-aba berlari kencang mendekati James kemudian duduk di samping James.
"Apa yang kau lakukan?!" James begitu terkejut melihat pergerakkan Darla yang sangat cepat seperti seekor cheetah (saudara kucing yang memiliki kemampuan berlari sangat cepat setara dengan laju mobil).
"Menurutmu aku sedang apa? Nyanyi? Tidak mungkin Kan?" Darla habis kesabaran karena harus berdiri terlalu lama apa lagi perutnya sudah keroncongan sedari tadi.
"Minggir kau!" James menyikut kuat lengan Darla hingga wanita itu meringis kesakitan sejenak.
"No!" Enggan mengalah, Darla malah menarik rambut James hingga pria itu mengeluarkan tanduk dikepalanya.
Seketika ruangan dipenuhi dengan umpat-umpatan James dan Darla yang tengah bersitegang. Baik Darla maupun James tak mau mengalah. Keduanya saling melontarkan kata-kata kasar.
"Pria gila! Pasti kau tengah merencanakan sesuatu padaku kan?" Darla mengigit kuat lengan James. Membuat James melebarkan matanya seketika.
"Hei! Wanita aneh! Sesuatu apa?" James tampak kebingungan.
"Dasar pria psyco! Aku ini lapar dan kau malah menyuruhku lama-lama berdiri!" Tanpa sengaja Darla menarik kemeja James membuat kancing pakaian James terlepas satu-persatu.
"Sepertinya kau mau melihat tubuhku ini ya?" James menyeringai tipis, melihat keberanian Darla. Seketika dia mendorong tubuh Darla hingga wanita itu terjembab ke atas sofa. Secepat kilat ia mengukung tubuh Darla.
"Argh! Si@lan kau!" teriak Darla. Ia panik bukan main melihat dada James terbuka lebar.
Mendengar teriakan, James tersenyum tipis karena berhasil membuat Darla kesal. Sementara itu, Darla menahan dada James agar tak mengenai gundukan gunungnya itu. Ide brilian melintas begitu saja di benak Darla. Seulas senyum penuh arti terukir di wajah cantiknya.
"Argh! Darla!!!" pekik James ketika Darla menendang burung pipitnya. Bak sengatan listrik James bangkit berdiri dengan perlahan kemudian menutupi ular anacondanya di bawah sana yang saat ini tak bisa bernafas.