
Esok harinya. Grey baru saja tiba di rumah sakit. Pria paruh baya itu menahan rasa kantuk dengan menguap pelan. Kaki jenjangnya berjalan cepat menuju kamar VIP James. Sesampainya di depan ruangan, Grey mengerutkan dahi, melihat Dominic mengumpat sendiri. Grey pun mendekati mata-mata James itu.
"Ada apa?" tanya Grey penasaran. Sebab Dominic terlihat uring-uringan sendiri. Grey dapat menebak jika keinginannya tak berjalan lancar. Jika pekerjaan Dominic tak berjalan sesuai rencananya, pria bermata biru laut itu pasti akan marah pada dirinya sendiri.
Dominic mendengus sejenak, menoleh ke arah Grey yang menunggu jawabannya. "Kau tau Grey. B3debah Orlando itu menghack alat komunikasiku, Orlando memang b@jingan! Si@lan!" umpatnya, melampiaskan kekesalan dengan melontarkan kata-kata kasar.
"Lalu, apa kau sudah menemukan keberadaan Darla?" Grey berharap Dominic mendapatkan petunjuk di mana keberadaan Darla. Pasalnya dia diterpa resah jika sampai saat ini Darla tak ketemu jua.
Dominic menarik nafas panjang, kemudian menjambak rambutnya sesaat. "Belum," jawabnya pelan dan tidak bertenaga.
Mendengar hal itu Grey pun menghela nafas kasar. "Kerahkan semua anak buahmu untuk melacaknya," ucap Grey dengan beralih menatap James di dalam ruangan melalui kaca pembatas.
"Apa Tuan belum sadarkan diri?"
Dominic menggeleng lemah.
"Semoga saja dia cepat sadar, lebih baik kau beristirahat lah ke rumah terlebih dahulu, suruh anak buahmu makan dan bersihkan diri. Dan satu hal lagi, apa kau sudah mengamankan markas?"
"Iya, mereka sudah aku perintahkan menjaga bisnis Tuan James, untuk minggu ini penjualan masih berjalan, kau tenang saja, markas aman. Sniper juga sudah aku tempatkan di mansion dan markas," sahut Dominic dengan memasukan kedua tangan ke dalam saku celana. Grey mangut-mangut mendengarkan ucapan Dominic barusan.
Tepat pukul sepuluh pagi. Grey masuk ke dalam ruangan James. Ingin mengetahui keadaan Tuannya itu. Baru beberapa langkah kaki, Grey mengedipkan mata dengan cepat ketika melihat tangan James bergerak-gerak sedikit. Secepat kilat Grey menekan tombol merah di dinding ruangan. Detik selanjutnya. Para tenaga kesehatan berhamburan masuk ke dalam, memeriksa keadaan tubuh James.
"Darla..." panggil James lirih, kala matanya mulai membuka perlahan. Pria itu mengerakkan matanya ke segala arah, menelisik istrinya, Darla.
Grey mendekat. "Akhirnya Tuan sudah siuman," ucapnya dengan membantu James untuk duduk di brangkar.
"Di mana Darla?" Baru saja siuman, pertanyaan pertama yang di lontarkan adalah menanyakan keberadaan istrinya. James masih menelisik Darla di dalam ruangan.
"Maaf Tuan, Nyonya Darla bersama musuh anda!"
Mendengar hal itu. James menarik jarum infusnya tiba-tiba kemudian berjalan cepat menuju ambang pintu.
"Tuan! Anda beristirahat lah dulu." Grey menahan James yang kini nampak sempoyongan. Sepertinya James masih pusing karena efek samping obat-obatan di rumah sakit.
James memegang kepalanya sesaat. "Tidak, aku harus mencari Darla, bedebah itu harus aku bunuh!" katanya dengan mengibas cepat tangan Grey.
"Tuan, bersabar lah, Tuan harus memulihkan tubuh anda dahulu." Grey kembali mendekat seraya menepuk pundak James.
James mengepalkan kedua tangannya seketika, saat mengingat kejadian semalam. Perasaan rindu merasuk ke relung hatinya sekarang.
*
*
*
Sementara itu. Wanita yang berada di dalam pikiran James saat ini, masih tertidur pulas di atas ranjang, Darla berganti posisi tempat tidur, kemudian meraba-raba kasur di sampingnya, karena merasa aneh, tempat tidurnya sekarang sangat lembut dan nyaman.
Hidung Darla mengendus-endus sesuatu, ketika tanpa sengaja mencium aroma roti disekitarnya. Tanpa pikir panjang Darla membuka cepat kelopak matanya, ia terkejut kala mendapati dirinya berada di kamar yang mewah dan sangat asing.
Sepasang mata bermata bulat itu bergerak ke segala arah. Cukup lama Darla mengamati ruangan tersebut. Detik selanjutnya.
"Argh! Aku di mana?!!! Apa aku sudah mati?!!" ucap Darla mengira bahwa dirinya berada di surga. Sebab ruangan kamar yang Darla tempati sangat megah dan besar, interior di dalam seperti ornamen-ornamen istana kerajaan Belum lagi warna kamar berwarna kuning keemasan.
"Tidak, aku tidak boleh mati! Aku belum kaya! Aku belum punya anak! Aduh bagaimana ini?!" jerit Darla lagi dengan beranjak dari tempat tidur, kemudian melangkah cepat menuju pintu berganda emas itu.
"Loh kok nggak dikunci, haaaaaaaaaa!" Darla menjambak-jambak rambut panjangnya itu. Dia pun berjalan mondar-mandir di dalam kamar sambil berteriak-teriak nyaring.
"Tidakkkkkkkkk!!! James di mana kau?! Apa dia juga mati!?" teriak Darla. Ia baru saja teringat kejadian tadi malam saat mobil yang mereka tumpangi ditabrak. Darla bertanya-tanya, di mana James saat ini? Apa dia benar-benar sudah meninggal?
Ceklek!
Darla terlonjak kaget, melihat pintu terbuka sendiri, seketika Orlando menyelenong masuk ke dalam, memandangi Darla dengan tatapan penuh arti.
Darla memicingkan mata, melihat seseorang yang tak asing masuk ke ruangan.
"Pria mesum! Mengapa kau ada di sini ha?!" tanya Darla dengan menunjuk-nunjuk Orlando. Darla menatap tajam dan dingin pada pria dihadapannya itu.
Orlando enggan menyahut, hanya melayangkan mimik muka datar tanpa ekspresi sedikitpun.
"Eh kau tuli atau apa!?" Darla jenggah sebab Orlando tak mengubris pertanyaannya.
"Bisa kah kau lebih sopan sedikit Nona?" Julian membuka suara, dia menahan geram karena Darla bersikap tak sopan pada Orlando. Sedari tadi pria itu mengekori Orlando di belakang.
"Cih! Sopan? Untuk apa aku sopan dengan seorang pria mesum seperti dia?!" ucap Darla lagi membuat Julian semakin mengeraskan rahangnya.
"Kau!!!" Julian mengangkat satu tangannya ke udara, namun Darla secepat kilat menangkis serangan dengan mencekal dan memelintir pergelangan tangan Julian.
"Argh! Lepaskan tanganku wanita j@lang!!!" teriak Julian.
Bugh!!!
"Arghhhhhhhhh ahhhhhhhhhhhh!!!" teriak Julian ketika Darla menendang ular kobranya tiba-tiba.
"Rasakan itu!!!" Darla melipat tangan di dada seraya tersenyum sinis.
"Si@lan! Sshhhh..." Julian memegang burungnya seketika dengan menatap dingin Darla di depannya.
"Wanita psyco, kau!!" teriaknya dengan mimik muka nampak kesakitan.
"Diam!!" Akhirnya Orlando membuka suara. Sedari tadi dia melihat dan mengamati tingkah laku Darla. Yang menurutnya aneh. Jika para wanita akan bersikap manis dan manja dihadapannya tapi tidak dengan Darla terkesan bar-bar dan liar.
Darla terkejut sedikit mendengar teriakan Orlando. Dia menilai penampilan pria itu dari atas hingga sampai ke mata kaki.
"Hei kau pria mesum! Di mana James? Mengapa aku ada di sini?" tanya Darla penasaran. Entah mengapa ia jadi merindukan James tiba-tiba.
"James?" Orlando menyeringai tipis. "Dia sudah mati."
"Mati? Hahaha! Apa kau bercanda? Pasti dia masih hidup! Sudah lah aku malas berdebat denganmu, aku mau keluar!" seru Darla. Lalu berjalan cepat melewati Orlando dan Julian.
"Berhenti kau! Kalau kau melangkah lagi! Akan ku pastikan dikepalamu akan bersarang peluru!" seru Orlando membuat Darla menghentikan langkah kakinya.
Darla memutar tumit kaki, kemudian berjalan cepat, menghampiri Orlando.
"Kau bilang apa tadi?!" tanya Darla dengan berkacak pinggang.
"Aku bilang, kalau kau pergi keluar dari mansion ini, maka aku akan menembakmu!" ucap Orlando dengan lantang.
Darla tersenyum sinis, mendengar perkataan Orlando barusan. Sedangkan Orlando dan Juliet mengerutkan dahi sedikit, melihat Darla tak takut sama sekali.
Bugh!!!
"Argh!!!" pekik Orlando seraya memegang rahangnya karena di sundul Darla tiba-tiba.
"Kau!!!" Orlando melebarkan mata, melihat darah mengalir dari hidungnya.
'Mengapa wanita ini tidak takut padaku!' Batin Orlando, menatap Darla yang melayangkan tatapan dingin padanya saat ini.