Mr. Mafia Meet Juragan Jengkol

Mr. Mafia Meet Juragan Jengkol
Darla di Usir



Lantas teriakan Michael membuat sebagian penghuni mansion terusik. Grey yang sedang membaca buku di perpustakaan menghentikan gerakan tangannya ketika membuka lembaran baru di buku. Secepat kilat ia bergegas ke keluar ruangan. Begitu pula dengan Jane yang sedang menyelami mimpi-mimpi manisnya, berdecak kesal sejenak kala memdengar suara teriakan yang nyaring dari lantai satu. Dengan langkah gontai, Jane memutar gagang pintu. Seketika dahinya berkerut kuat mengenali suara seseorang yang sangat ia kenali itu.


"Itu kan suara Michael," desis Jane pelan. Detik selanjutnya ia panik mengira anaknya di tendang atau di pukul James. Jane tak mengetahui jika putra sulungnya itu tak pulang ke rumah malam ini. Jane menuju asal sumber suara. Menerobos kerumuman para maid dan bodyguard yang berada di depan pintu Darla.


"Ada apa ini?!" tanya Jane mendapati Michael tengah duduk dengan luka lebam di sekujur tubuhnya. Ia melemparkan pandangan kepada Darla dan Grey meminta penjelasan atas semua yang terjadi saat ini. Akan tetapi baik Darla dan Grey tak membalas pertanyaan dari Jane melainkan mendengus pelan secara bersamaan tanpa mereka sadari.


"Ma, Darla memukul anak ku, Mama." Bak anak kecil yang merengek kepada Mamanya. Michael mengadu dengan menitihkan air mata dihadapan Jane.


Dahi Jane berkerut. "Anak?"


Michael mengarahkan pandangan mata ke bawah pusaka miliknya. Jane menghela nafas kasar kemudian beralih menatap Darla, melayangkan tatapan permusuhan.


"Apalagi yang kau lakukan pada anak ku, Darla! Kenapa kau menendang burung pipit anakku!"


"Ma, bukan burung pipit, burung aku tidak sekecil itu!" protes Michael dengan cepat. Ia sangat tak terima pusakanya dikatakan burung pipit yang berukuran sangat kecil itu.


"Diam kau!" teriak Jane membuat Michael bungkam seketika.


"Cih, seharusnya anda bertanya, kenapa saya menendang burung pipit anakmu itu?!" kata Darla dengan menyilangkan tangan di dada.


Jane tergugu. Ia menebak jika Michael melakukan hal yang senonoh terhadap Darla. Tapi karena sudah dibutakan rasa dendam. Hal yang seharusnya salah ia benarkan karena keegoisan Jane sendiri.


"Haha, jadi kau mau menuduh Michael ingin memperkosamu begitu?! Yah pantas wanita seperti mu itu kan wajah seorang wanita penggoda, jadi wajar anakku mulai tergiur dengan tipu muslihatmu itu! Sampai-sampai burung pipitnya itu ingin mencari sarang!"


"Ma!" Sedari tadi Michael menahan sabar sebab sudah berkali-kali burungnya dikatakan burung pipit.


Mengacuhkan Michael. Darla dan Jane tetap melanjutkan perseteruan. "Iya, burung pipit anak anda memang harus diajari agar tidak masuk ke sarang berbisa seperti saya, dan sepertinya burung pipit anak anda tidak bisa berfungsi lagi."


"Darla!" seru Michael lagi.


"Haha, tidak usah kau menakuti ku! Burung pipit anakku masih bisa berfungsi!" kata Jane walaupun dia tengah menyembunyikan ketakutannya jikalau benar burung pipit anaknya off alias mati.


"Diam!!!" Darla dan Jane menolehkan mata serempak ke arah Michael yang terkejut dengan teriakan keduanya.


'Mampus, singa sama harimau bersatu! Apa salah ku, kasihan sekali kau burung!' ucap Michael di dalam hati seraya menundukkan kepala.


"Grey! Di mana James?" tanya Jane tiba-tiba membuat Grey yang sedari tadi berdiam diri di dekat pintu menolehkan mata ke arahnya.


"Tuan, sedang ada perkerjaan di San Fransisco, Nyonya." Grey melirik Darla sekilas yang masih menampakkan wajah angkuhnya.


Jane tersenyum sinis. "Bagus, maka dari itu kau aku usir dari mansion ini sekarang!" katanya seraya menunjuk Darla.


Darla terkejut? Menangis? Atau pingsan? Oh tidak emak-emak yang manjalita, yang ada Darla malah tersenyum sumringah seperti mendapatkan lotre satu triliyun.


"Oh my God! Ini kabar yang sangat-sangat baik!" Entah karena senang atau apa Darla malah memeluk Jane seketika menjadikan wanita paruh baya itu mengerutkan dahi. Dengan cepat Darla mengurai pelukan lalu berjalan keluar kemudian mengedarkan pandangan ke para maid dan bodyguard yang terpaku di tempat melihat pemandangan barusan.


"Bye-bye rakyat jelata! Hahaha! Hiduplah di neraka ini dengan tenang!"Darla berjalan cepat meninggalkan kumpulan manusia yang masih terheran-heran dengan sikap Darla barusan.


Selepas kepergian Darla. Grey mendekati Jane lalu berkata," Nyonya, sepertinya keputusan anda bisa membuat James semakin membenci anda."


"Jangan ikut campur urusan ku kakek tua! Atau kau mau aku usir juga!" kata Jane dengan nafas yang memburu.


Enggan menyahut. Grey memundurkan langkahnya seketika. Kemudian mengusir para maid dan bodyguard yang menonton tadi untuk kembali tidur.


"Jangan sampai James tau! Sekarang tugasmu mencari alasan yang masuk akal jika kau yang memecat Darla!" Jane memapah Michael keluar dari ruangan meninggalkan Grey' seorang diri di ruangan.


Tepat pukul satu dini hari. Kediaman James diterpa kegaduhan sebab tanpa di duga-duga James pulang ke mansion. Pria itu menahan amarah kala tak mendapati Darla di kamarnya belum lagi informasi dari mata-matanya yang berada di mansion memberikan informasi padanya. Jane ketakutan saat James mengedor-edor pintu kamarnya sedari tadi.


Brak!!!