Mr. Mafia Meet Juragan Jengkol

Mr. Mafia Meet Juragan Jengkol
Pergi Ke Pesta



Selepas kepergian Maura. Jane bergegas ke lantai atas, ingin merapikan pakaiannya. Wanita paruh baya itu semakin bertambah kesal dengan perlakuan James. Jane tak habis pikir, mantra apa yang diberikan Darla kepada James. Sehingga putranya itu mengusir dirinya dari mansion. Sesampainya di atas Jane langsung mengambil koper, memasukan satu-persatu pakaiannya ke dalam koper. Setelah selesai, ia pun turun ke lantai bawah, mendapati Michael dan James tengah beradu mulut.


"Kak, kau berbohong Kan? Kalau Darla adalah istrimu?" tanya Michael, seakan tak percaya informasi baru yang ia dapatkan tadi. Bagaimana tidak, tak ada angin, tiba-tiba James datang ke kamarnya, meminta dirinya untuk pulang bersama Mamanya ke Moskow.


"Untuk apa aku berbohong." Suara James terdengar datar namun ekspresinya sangat dingin dan tajam. Membuat Michael bergedik ngeri saat mendengar suara James seperti malaikat kematian. Michael masih belum bisa menerima kenyataan bahwa Darla adalah istri James. Sebab dia memiliki niat untuk menyentuh tubuh Darla yang nampak menggoda itu.


Michael menggeleng, melayangkan tatapan hina kepada Darla. "Bagaimana caranya kau menghipnotis kakak ku ini?" katanya dengan menyeringai tipis.


Darla yang sedang duduk manis di sofa, menolehkan mata ke arah Michael.


"Cih, lebih baik kau tanyakan langsung pada James, bagaimana caraku menghipnotisnya," kata Darla dengan ketus.


'Mengapa aku jadi seperti Nyonya besar sih, apa untungnya bagiku, lagipula James hanya mau menginginkan anak dariku, sudah lah Darla, ikuti saja skenario James, siapa tahu saja, kau tidak dijadikan babu lagi nanti,' kata Darla dalam hati sembari melemparkan pandangan kepada James dan Michael sekarang.


"Apa seleramu wanita murahan seperti Darla?" tanya Michael dengan seringai yang tak hilang dari wajahnya dari tadi.


Mendengar perkataan Michael. James mendengus, kemudian berjalan, mendekati Darla dan duduk disamping wanitanya itu.


"Tutup mulut busukmu itu, Michael! Darla adalah wanita yang sangat mahal, bahkan tak sebanding dengan harga dirimu!" James melingkarkan tangan kanannya ke perut Darla.


"Kau!!!" Michael mulai tersulut emosi, manakala melihat sorot mata James tersirat rasa benci dan seakan merendahkannya. Tanpa sadar dia mengepalkan kedua tangannya, menahan amarah di palung hatinya saat ini.


"Michael! Sudah lah Nak, lebih baik kita kembali ke Moskow, biarkan saja wanita itu menang! Kita lihat saja nanti beberapa bulan ke depan, pasti Darla akan membuat James sakit hati, karena mama yakin Darla hanya menginginkan hartanya saja!" Jane meredam amarahnya juga melihat James dan Darla memperlihatkan kemesraan dihadapan mereka saat ini.


James dan Darla yang mendengar penuturan Jane, hanya menatap datar tanpa ekspresi sedikitpun. Bagai pasangan kekasih yang sedang dimabuk cinta, James mengecup pipi Darla berulang kali. Sedangkan Darla mulai terbiasa dengan sikap James.


"Tapi Ma–"


Merasa terganggu James beralih menatap Michael. "Apakah kalian tuli?! Cepat keluar dari rumah ini! Jika dalam waktu lima menit kalian tidak keluar, Michael akan aku masukan ke ruangan eksekusi!" Gertaknya dengan melayangkan tatapan dingin pada Jane dan Michael.


Michael dan Jane pun menelan ludah dengan susah payah. Tanpa banyak kata keduanya pun menyeret koper, kemudian melangkah pergi dari hadapan pasangan suami istri itu.


Selepas kepergian Michael dan Jane. Darla mendorong dada James tiba-tiba, membuat James terkejut.


"Ada apa?" tanyanya penasaran. Kemudian kembali menarik pinggang Darla.


Darla mengerucutkan bibir dengan tajam. "Lepaskan aku, James, mama dan adikmu sudah pergi, sudah lah jangan berakting lagi," katanya dengan memberi jarak di antara dirinya dan James.


Mendengar penuturan Darla, dahi James berkerut kuat. "Akting apa? Kemari lah!" Ia tak tahan melihat bibir munggil Darla yang nampak menggemaskan dimatanya.


Kedua tangan Darla masih menahan dada James dari tadi. Sungguh ia sangat tak menyukai situasi saat ini.


"Darla Vardy! Turuti perintahku!" James menahan sabar karena Darla tak menuruti permintaannya. Secepat kilat pria itu mendekap Darla, kemudian mencium Darla lagi. Darla terkesiap dengan serangan mendadak James. Berusaha melawan akan tetapi karena tenaga James lebih kuat darinya alhasil ia pun terpaksa mengalah.


James mencumbu Darla begitu dalam hingga Darla tanpa sadar mengalungkan tangannya di leher James. Suara kecupan terdengar kuat memenuhi ruangan tengah. Sebagian maid yang tak sengaja melihat pemandangan tersebut memalingkan mukanya.


"Tuan!" Kedatangan Grey membuat James terpaksa menghentikan pergulatan bibirnya. Darla bernafas lega karena Grey menyelamatkan dirinya dari terkaman James.


James mendengus. "Ada apa?!" tanyanya kesal.


"Benarkah?" tanya James dengan raut wajah senang.


Grey mengangguk. "Iya, Tuan. Mau saya suruh masuk ke dalam atau di ruang depan saja Tuan."


"Suruh mereka masuk!"


Setelah mendengar perkataan James, Grey pamit undur diri kemudian berlalu pergi.


"Siapa?" tanya Darla penasaran.


"Karyawan salon, malam ini kita akan menghadiri sebuah pesta, maka dari itu kau harus perawatan agar tidak memalukan ku."


"Pesta? Bukannya kau malu, memiliki istri seorang babu seperti diriku ini." Darla mengerlingkan mata sesaat.


James menghela nafas. "Sudah lah, jangan banyak membantah, itu karena jelek, makanya aku malu." Entah mengapa jiwa jahil James seketika muncul tiba-tiba dibenaknya.


"Whats?! Kau bilang aku apa? Jelek? Aku ini cantik tau!" Darla mulai tersulut emosi saat James mengatainya jelek. Padahal jelas dia tahu bahwa dirinya sangat cantik dan memiliki tubuh yang seksi.


"Sudah lah. Lebih baik kau diam saja di sini, aku mau ke ruang kerja ada yang harus aku urus." James melihat Grey dan beberapa karyawan salon berjalan mendekati mereka di ujung sana.


"Ish, kau sangat menyebalkan James, selalu saja mengatur diriku!"


James mengulas senyum, kemudian tanpa aba-aba melabuhkan kecupan di kening Darla. "Aku pergi," katanya lalu melangkah pergi meninggalkan Darla yang terpaku di tempat karena sikap James membuat jantungnya berdetak lebih cepat kembali.


'Oh my God, pria ini sangat lah berbahaya." Darla memegang dadanya seketika dengan menatap aneh ke punggung James yang menghilang dari penglihatannya.


*


*


*


Malam menyapa. Sesuai dengan rencana siang tadi. James akan mengajak Darla ke suatu pesta. Kini Darla sudah terlihat menawan dengan make up natural dan gaun pestanya. Wajahnya yang memang sudah cantik semakin bertambah cantik. Ia menarik nafas pelan. Melihat refleksi dirinya di depan cermin, kemudian melangkah keluar dari kamarnya. Sementara itu, di lantai satu, James menunggu Darla dari tadi. Pria itu saat ini mengenakan setelan jas berwarna hitam dan dasi berwarna merah.


Bunyi heels beradu dengan porselen terdengar melengking di telinga James. Kepalanya pun bergerak, melihat Darla sedang menuruni anak tangga. Binar kekaguman tergambar jelas diwajahnya.


"Bagaimana cantik kan aku?" tanya Darla dengan pedenya.


"Jelek!" sahut James cepat membuat Darla meradang seketika.


"Oh my God! Dasar pria buta!" Darla hendak mengayunkan pukulan ke tubuh James akan tetapi James menangkis serangan Darla dengan menarik pinggang wanita itu.


"Sudah lah Darla, lebih baik kita pergi sekarang, kau pasti tidak mau datang terlambat ke pesta anniversary Eslin dan Esme Kan?" kata James datar membuat Darla melebarkan matanya.


Deg.