
Sedari tadi Jane menunggu kedatangan putra bungsunya sambil berjalan-jalan di sekitar lorong. Tanpa sengaja Jane melihat dan mendengar Darla beradu mulut bersama Michael. Jane tak menyangka ternyata Michael, putra bungsunya membenci James. Padahal Jane tak membeda-bedakan kedua putranya, meski Michael anak dari hasil selingkuhannya.
Dahulu Jane mengkhianati Joseph karena suaminya itu sibuk berkerja di kota lain. Dia yang haus belaian dengan mudah terjerat rayuan setan, akhirnya menduakan Joseph. Kala itu Jane kecolongan, tak mengira hasil hubungan gelapnya menumbuhkan benih di rahimnya dan lahirnya Michael.
Selingkuhannya tak mau bertanggungjawab, memilih pergi meninggalkannya. Jane terpaksa membawa Michael ke rumah dan memberitahu Joseph bahwa dia telah berselingkuh.
Sewaktu itu untuk pertama kalinya dia melihat Joseph murka namun dengan rayuannya Joseph akhirnya luluh juga meski dia harus menanggung rasa sakit. Sebab mulai dari situ Joseph selalu memukulnya tanpa ampun.
Jane tak dendam karena dia tahu dirinya salah apalagi Joseph mau menerima Michael sebagai anaknya, memberinya fasilitas dan memberi kasih sayang pada Michael. Hingga keduanya melupakan James, putra kandungnya sendiri.
"Ma.. Aku...." Michael tergugu kala melihat mamanya menangis pelan dihadapannya. Hatinya sangat sakit mendengar isakan tangis mamanya menggema di telinga.
Sepasang mata abu-abu itu menyiratkan kekecewaan terdalam pada putra bungsunya itu. Michael terpaku di tempat.
"Mama tidak pernah membedakan kalian Mich, mengapa kau membenci kakakmu sendiri, dia tak pernah menganggumu, apa kejadian beberapa tahun silam hanya lah kebohongan belaka saat kau mengatakan James mendorongmu!"
Masih teringat jelas memori dulu, James di usir karena membuat Michael terluka.
"Michael! Apa yang ada di dalam pikiranmu!"
"Mama menyayangi kalian berdua! Kalian berdua sama di mata mama! Mengapa kau tega dengan saudaramu sendiri, tahu kah kau ketika kecelakaan sewaktu kecil dulu, James lah yang menolongmu!" cecar Jane beruntun.
Deg.
Michael tertegun. Tak menyangka James pernah menolongnya dulu. Dia memandang mamanya, sendu.
"Aunty, tenang lah, mari kita ke ruangan lain." Jiwa kemanusian Darla muncul seketika, dia berjalan, mendekati Jane yang terisak pelan sekarang.
Jane mengangguk lemah. Darla segera menuntun Jane menuju lift.
'Apa yang aku lakukan, aku sudah membuat mama menangis, apakah benar James pernah menolongku, tapi mengapa dia selalu dingin padaku?' Michael menatap punggung mamanya menghilang di depan sana.
'Mama pasti berbohong padaku, James orang jahat! Buktinya dia tak pernah menganggapku ada dan tak pernah memanggilku adik.'
*
*
*
Subuh menjelang pagi. Kini Darla masih terlelap di tempat peraduan sambil memeluk James. James tersenyum tipis, melihat Darla begitu manja padanya. Karena dini hari tadi, ia melihat Darla datang ke kamar bersama mamanya. James senang sebab Darla dan Jane sudah mulai dekat sekarang. Namun James penasaran apa yang membuat mamanya berubah.
"Pasti dia kelelahan, semalam kalian menyusahkanmu mamamu ya."
James mengelus perlahan perut istrinya lalu melabuhkan kecupan di kening Darla. Kemudian James melirik jam di atas menunjukkan pukul tujuh pagi. Bergegas dia beranjak lalu membersihkan diri. Sesudah selesai James keluar dari kamar hendak mengambilkan Darla makanan di dapur.
Bugh!
"Iya, aku tidak punya mata! Aku cuma mau mengatakan padamu, aku minta maaf karena ulahku kau di usir papa!" kata Michael ketus lalu memalingkan muka.
"Ha?" James melonggo lalu reflek mengangkat tangan menempelkan tangannya ke kening Michael.
"Orang aneh!" James berdecih kemudian berjalan melewati Michael yang terpaku di tempat, untuk pertama kalinya James menyentuh keningnya seperti seorang kakak yang khawatir pada adiknya.
"Tunggu, kak!" Michael memutar tumit dengan cepat lalu menghampiri James tengah mengerutkan dahi melihat tingkah laku Michael yang aneh.
"Aku benar-benar minta maaf, kak. Tolong maafkan aku agar mama mau berbicara padaku, aku menyesali semua perbuatanku selama ini."
Michael menggaruk kepalanya sesaat. "Itu karena aku iri padamu dan bisakah kau memanggil ku dengan sebutan adik," ucap Michael, pelan seraya menundukkan kepala.
James terkejut, melihat kesungguhan Michael meminta maaf padanya. Tapi yang membuat dia heran sekarang mengapa Michael secara tiba-tiba meminta maaf padanya, ada apakah gerangan, apa yang membuat mamanya tak mau berbicara dengan Michael.
James menghela nafas, teringat perkataan Darla tadi subuh ketika dia meminta padanya agar memaafkan Michael kalau pria itu meminta maaf. James nampak bingung, namun mengiyakan perkataan Darla. Dan benar saja pagi ini, Michael meminta maaf padanya.
"Iya, aku memaafkanmu, tapi untuk memanggilmu adik, aku perlu waktu." Secepat kilat James pergi meninggalkan Michael mendesah berat karena James tak langsung memenuhi permintaannya.
*
*
*
"James, bisa kah kau memasakan aku nasi goreng," ucap Darla di waktu jam makan siang.
Saat ini mereka baru saja duduk di kursi masing-masing seraya menunggu asisten rumah tangga menuangkan minuman ke masing-masing gelas. Mendengar perkataan Darla, semua orang yang berada diruangan memusatkan perhatiannya kepada Darla.
"Dear, apakah harus? Di depan kita banyak makanan," ucap James menarik nafas panjang sambil mengedarkan pandangan di meja yang memperlihatkan makanan-makanan sehat dan enak untuk Darla.
Darla menggeleng seraya memanyunkan bibir. "Kau tidak kasihan dengan anak-anakmu, James."
"Kak, masakan saja untuk Darla lagipula hanya nasi goreng, itu sangat lah mudah!" seru Michael tiba-tiba. Entah mengapa dia sangat menyukai muka masam James saat ini.
"Iya, benar kata Michael, masakan saja untuk menantuku itu," ucap Joseph tersenyum simpul.
James menghela nafas, tanpa sengaja matanya bertubrukkan langsung dengan mamanya.
"Tenang lah nanti mama akan memberitahumu bagaimana caranya memasak nasi goreng." Jane mengelus punggung tangan James.
James terenyuh, hatinya hangat seketika kala mamanya menyentuh tangannya.
'Ada apa ini? Kenapa hari ini mama, Darla dan Michael sangat aneh, apa mereka sedang membangun konspirasi?'