Mr. Mafia Meet Juragan Jengkol

Mr. Mafia Meet Juragan Jengkol
Tendangan Kungfu Darla



Hai guys, kemarin selama tiga hari, author demam tinggi dan batuk-batuk, ini baru bisa nulis seala kadarnya aja. Kalau ada typo atau apa kasih tau ya. Jangan lupa selesai baca tekan tombol like ya. Biar author makin semangat nulis dan updatenya.


Selamat membaca


...----------------...


Waktu menunjukkan pukul empat sore. Suasana di mansion James terlihat sunyi dan senyap. Sepertinya sang empunya mansion belum juga pulang. Begitupula Jane yang masih sibuk di rumah sakit menemani Laura. Berbeda dengan Michael, sedari tadi pria itu menatap penuh nafsu ke arah Darla yang sekarang sedang memandikan Diego di taman belakang.


Kini Diego memiliki tempat khusus untuk ia mandi. Binatang berbulu putih itu sangat senang karena diperlakukan bak raja. Terlebih lagi dengan kehadiran Darla di mansion membuatnya tak merasa kesepian lagi. Tanpa sengaja Diego mendongakkan kepalanya ke atas, melihat Michael tengah memandangi Darla. Binatang bermata tajam itu menggeram rendah ke arah Michael, melayangkan tatapan permusuhan.


Darla yang sedang sibuk mengelus-elus punggung Diego. Mengerutkan dahi kala mendengar suara Diego mengaum-aum.


"Kenapa Diego?" tanya Darla seraya mengikuti arah mata Diego yang mengarah ke atas sana. Gurat kebingungan nampak jelas diwajahnya saat tak mendapati seseorang atau objek yang di lihat Diego tak ada.


"Hm aneh." Darla bergumam kecil. Kemudian kembali meneruskan kegiatannya.


Sementara itu di lantai dua. Saat ini Michael bersembunyi di balik pilar ketika Darla hampir saja memergokinya. Satu tangannya terulur kemudian mengelus dadanya sejenak.


"Fiuh, binatang bed3bah! Diego harus aku amankan agar dia tak menganggu aksi ku nanti malam!"


"Hm, aku harus mengetahui apakah James akan pulang nanti malam atau tidak." Sambungnya lagi.


Setelah kejadian tadi pagi. Michael menyadari bahwa James juga memiliki ketertarikan khusus kepada Darla. Dia yakin sekali ketika melihat perlakuan James kepada Darla yang sangat berbeda dari kebanyakan majikan dan bawahannya.


Dengan cepat Michael mengambil ponsel mininya yang tersampir di saku jas. Kemudian mengetik pesan singkat kepada James. Tak butuh waktu yang lama sebuah notifikasi muncul di layar ponselnya. Seketika senyuman Michael merekah saat membaca pesan dari James. Yang mengatakan bahwa pria itu tidak akan pulang malam ini.


'Gotcha! Malam ini kau menjadi milik ku Darla!'


Sore menjelang malam. Darla baru saja menyelesaikan pekerjaannya. Dia memberengut kesal karena lagi dan lagi harus berdebat bersama salah seorang maid di mansion. Darla menangis? Darla mengalah? Oh tidak, yang ada maid itu kejang-kejang karena ucapan dan sikap Darla yang bar-bar membuat maid auto kicep.


Sebelum ke kamar. Darla melangkah pergi ke taman belakang. Ingin memeriksa Diego, apakah binatang itu sudah tidur atau belum. Darla tersenyum tipis ketika melihat Diego sudah tertidur pulas dengan memeluk boneka kesayangannya. Setelah melihat Diego. Darla bergegas ke kamarnya.


Darla menutup pintu kamar dengan pelan kemudian mengunci pintu itu dari dalam.


Selesai membersihkan diri dan memakai pakaian tidur. Darla merebahkan dirinnya di atas kasur seraya mengotak-atik ponsel, chit-chat bersama karyawannya. Menanyakan bagaimana penjualan semur jengkol hari ini.


Darla terlihat senang kala mendapatkan kabar bahwa penjualan berjalan lancar dan mereka juga mendapatkan keuntungan yang bertambah setiap harinya. Darla menelan ludah saat baru menyadari sudah lama tak mencicipi semur jengkol.


Darla pun meminta karyawannya mengirimkan paketan semur jengkol ke alamat mansion James. Akan tetapi Darla begitu nelangsa ketika tak mendapati pesan balasan dari si kembar triplet, Lunna dan Romeo. Semalam Darla menanyakan kabar mereka satu-persatu. Tapi sepertinya sepupu-sepupunya itu tak mempedulikan dirinya lagi.


"Ah sudah lah, lebih baik aku tidur saja," kata Darla seraya meletakkan ponsel di atas nakas. Kemudian bergegas turun dari ranjang hendak mematikan saklar lampu.


***


Langit semakin gelap gulita menandakan sudah hampir tengah malam. Darla yang sedang berada di ruang mimpi. Tak menyadari jika saat ini seseorang tengah memutar gagang pintu kamarnya. Pria berperawakan tinggi dan besar masuk ke dalam kamarnya dengan mengendap-endap.


'Untung saja kuncinya tidak dia taruh digagang, haha kenapa kau sangat bodoh, Darla.'


Tak lain dan tak bukan, pria itu adalah Michael. Beberapa jam yang lalu ia mencuri kunci duplikat kamar Darla di ruangan khusus milik Grey. Dalam kegelapan dan hanya dipenuhi cahaya dari sela-sela jendela dan ventilasi atas. Michael menaiki tempat tidur Darla. Dengan cepat ia menarik selimut Darla. Hendak mencengkal tangan Darla.


"Argh!" teriak Michael kala mendapati sentuhan kuat di dadanya. Hingga ia terjungkal dari tempat tidur. Detik selanjutnya suara kamar Darla dipenuhi jeritan kesakitan.


Ketika mendengar suara teriakan yang masuk ke kamarnya adalah Michael. Darla menyerang Michael dengan membabi buta. Secepat kilat ia melayangkan pukulan di tubuh Michael. Dari pipi, dada, perut dan terakhir....


"Argh!!! Darla!!!" Michael berteriak histeris saat Darla menendang aset pentingnya di bawah. Seketika ia merosot ke bawah perlahan-lahan hingga kedua lututnya menumpu di lantai.


"Haha! Rasakan jurus kungfu ku ini!" seru Darla dengan melompat tinggi lalu menyentak kepala Michael hingga pria itu terlentang di lantai. Darla duduk di atas kepala Michael seketika.


Put!!!


Gas beracun milik Darla membuat Michael terbatuk-batuk sehingga pria itu pun kesusahan bernafas sejenak.


"Untung saja aku tidak makan jengkol, kalau aku makan jengkol, mungkin kau sudah pingsan!"