
"Benar kah?" James sangat senang, akhirnya mendapatkan kabar baik dari Dominic.
Dominic mengangguk cepat.
"Tunggu apa lagi, ayo kita pergi," sahut James dengan memutar tumit kakinya hendak berganti pakaian ke kamar.
"Tuan, tunggu sebentar," panggil Dominic membuat James menghentikan gerakan kakinya.
Sebelah alis mata James terangkat sedikit. "Iya ada apa?"
"Sebaiknya kita atur strategi dulu Tuan. Di wilayah Orlando banyak ranjau dan beberapa jebakan yang ia pasang di sekeliling mansion," ucap Dominic. Ia tak mau misi penyelamatan Darla malah membuat James jatuh ke sarang Orlando. Dia sudah mengetahui sepak terjang Orlando di dunia hitam.
James tertegun sejenak, tengah memikirkan perkataan Dominic yang ada benarnya juga. Apalagi ia tahu jika Orlando bukan lah orang yang akan mudah terjebak dalam permainannya. James menarik nafas panjang, kemudian menepuk pundak Dominic.
"Kau benar, malam ini kita atur strategi dulu, apa kau sudah mendapatkan informasi keadaan Darla?" tanya James penasaran.
Dominic menghela nafas. "Belum Tuan, anda tenang saja. Nona Darla baik-baik saja," sahutnya berusaha menenangkan James.
James enggan menyahut, malah menatap Diego di ujung sana sedang memandangi mereka. Binatang berbulu putih itu mendekati James perlahan, lalu menempelkan tubuhnya ke kaki James.
"Bersabar lah Diego, Darla sudah ditemukan," sahut James seraya mengelus punggung atas Diego. Seakan mengerti Diego menatap langsung bola mata James.
"Rarrwrrrr." Diego menggeram rendah lalu melangkah pergi meninggalkan James dan Dominic. Selepas kepergian Diego, Dominic beralih menatap James.
"Tuan aku ada ide, bagaimana kalau Diego kita bawa masuk ke dalam hutan, aku yakin dia bisa mendeteksi adanya ranjau di sekitar. Aku sudah mempersiapkan lima anjing pelacak juga." Saran Dominic.
James nampak menimbang-nimbang perkataan Dominic. "Aku akan memikirkannya nanti, sekarang kita harus ke markas," ucapnya dengan melirik jam di dinding.
Dominic mengangguk pelan. James pun bergegas pergi ke lantai atas, hendak berganti pakaian. Selagi menganti pakaiannya, dia mengirimkan pesan kepada Leon bahwa Darla sudah ditemukan.
Selesai berganti pakaian, James bergegas ke lantai bawah. Langkah kaki James terhenti saat melihat Michael berada di mansion.
"Kenapa kau kemari?" tanya James dengan menunjukkan mimik muka tak suka pada Michael.
"Aku ke sini ingin bertemu Darla, apa kau keberatan?" Michael menatap sinis Dominic dan James. Pria itu tak gentar ingin memiliki Darla ketika dia kemarin mendapatkan informasi dari seseorang jika Darla dan James menikah karena James hanya menginginkan anak saja darinya.
Enggan menyahut. James melengos pergi dari hadapan Michael.
"Hei! Di mana Darla?!" tanya Michael menatap punggung James menghilang di balik pintu.
"D@mn! Mengapa orang-orang di rumah ini semuanya menyebalkan!" umpatnya dengan melayangkan tinju ke udara. Ekor matanya tak sengaja melihat Grey sedang berjalan menuju ruangan tengah. Bergegas ia menghampiri Grey, ingin menanyakan keberadaan Darla.
"Grey!"
Michael memandangi Grey dengan melayangkan tatapan sinis. Grey menoleh, kemudian membungkukkan kepalanya sedikit.
"Di mana Darla?" tanya Michael cepat membuat Grey mengerutkan dahi sedikit.
"Ada perlu apa anda dengan Darla?" Grey balik bertanya sebab merasa sorot mata Michael teramat berbeda ketika menyebut nama Darla.
"Kau tidak perlu tahu! Sekarang cepat katakan padaku di mana Darla!?" Michael murka karena Grey bersikap semena-mena, menurutnya.
"Saya tidak tahu." Grey males meladeni Michael. Pria tua itu bergegas pergi, meninggalkan Michael yang berteriak-teriak histeris memanggil namanya.
*
*
*
Darla mengerucutkan bibir dengan tajam, teringat kejadian kemarin siang ketika Orlando memintanya untuk memijit tubuhnya. Darla tentu saja tak mau, karena tak mampu mencium bau badan Orlando yang menyengat menurutnya.
Orlando sangat kesal saat Darla melawan dan tak menuruti perintahnya, ia pun memberi perintah pada Darla untuk mengepel semua lantai di mansion jika tak menuruti perintah. Orlando mengira Darla akan takut setelah digertak akan tetapi tak sesuai dengan ekspetasinya, Darla malah memilih mengepel lantai daripada memijitnya. Orlando semakin meradang dengan sikap Darla.
"Nona!" panggilan dari luar pintu membuat Darla menoleh ke daun pintu.
"Apa lagi sih!" Darla terpaksa bangkit berdiri, kemudian berjalan mendekati pintu berganda emas itu.
"Apa?!" tanya Darla ketus. Berhadapan dengan para maid membuat emosi Darla tak stabil akhir-akhir ini. Apalagi para maid selalu mengekorinya kemana pun dia pergi.
Para maid yang ditugaskan Orlando, sekarang sudah terbiasa dengan sikap Darla yang ketus. Meskipun begitu mereka menilai Darla wanita apa adanya, mereka malah menyukai tabiat Darla yang bar-bar itu.
"Nona, boleh kah kami masuk, Tuan Orlando menyu–"
"Stop! Apa kalian tidak bosan menguntitku terus ha?! Katakan pada bos kalian yang mesum itu! Kalau aku bukan anak kecil! Enyah lah dari hadapanku!" sahut Darla dengan menutup pintu dengan kuat.
Brak!!!
Para maid terlonjak kaget karena Darla membanting pintu hampir mengenai ujung hidung mereka. Keduanya mengelus perlahan dadanya.
"Bagaimana ini, nanti Tuan Orlando akan marah pada kita?" sahut maid berwajah oval.
Maid bertubuh tambun itu, mengangkat bahunya sedikit, menandakan ia pun tak tahu apa yang harus ia perbuat.
"Sudah lah lebih baik kita menunggunya di sini." Maid bertubuh tambun, menarik tangan temannya untuk berdiri di depan pintu kamar Darla.
Darla memberengut kesal karena ulah para maid tadi membuat moodnya hancur seketika. Dia berjalan cepat menuju balkon, berdiri di dekat pembatas pagar.
"Aku penasaran, apa James mencariku? Maksud ku apa dia tahu kalau aku di culik?"
Darla memandangi pagar mansion yang sangat tinggi itu. Dia sangat penasaran, apa James peduli padanya, Darla mencubit pipinya sendiri, karena berpikir James tidak akan mencarinya. Dia bingung dengan perasaanya terhadap James saat ini. Memikirkan James membuatnya merindukan pria itu tiba-tiba.
"Apa James sedang bersama Laura atau Maura sekarang?" Pikiran negatif Darla menyeruak ke dalam benaknya. Dia tengah membayangkan James tengah bermesraan bersama Laura atau Maura.
"Argh! Awas saja kalau dia selingkuh! Akan aku cincang-cincang dia!" umpat Darla tanpa sadar.
Dia membekap mulutnya sendiri. Ketika menyadari bahwa dia mulai cemburu.
"Ada apa denganku?" Darla melirik daun pintu kamarnya berharap tak ada orang yang mendengar perkataannya barusan.
Brak!!!
Dentuman kuat dari pintu mengagetkan Darla. Secepat kilat Darla memutar kepalanya, melihat Orlando masuk ke dalam kamar dengan menatap dingin dan tajam padanya.
"Aku sudah terlalu sering memanjakanmu Nona Darla, ini saatnya kau bertekuk lutut dihadapanku!" sahut Orlando dengan menunjuk Darla. Tampak seringai licik muncul di wajah Orlando. Dia melangkah perlahan menghampiri Darla.
"Apa maumu?" Nyali Darla seketika menciut melihat Orlando marah padanya sekarang. Ia mulai cemas kala hentakan bunyi langkah kaki Orlando terdengar cepat sekarang.
...----------------...