
"Kau wanita yang sangat seksi," ucap Orlando tiba-tiba membuat Darla seketika melayangkan tatapan jijik pada pria dihadapannya itu.
"Iya! Aku memang sangat seksi, sampai-sampai anjing liar pun meneteskan air liurnya ketika melihat ku!" Darla menyeringai tipis, ia sengaja mempermainkan perasaan Orlando, ingin mengetahui reaksi lawannya saat ini.
Orlando mengeraskan rahangnya seketika, menahan gejolak amarah didalam hatinya kala Darla secara tidak langsung menyindirnya, dengan nafas yang memburu dan tangan terkepal kuat, secepat kilat Orlando kembali mendekati Darla.
'Bingo!' Monolog Darla di dalam hati saat Orlando malah mulai terpancing dengan umpannya. Bukannya takut Darla bersikap tenang, mengamati gerakan lawannya saat ini. Kini Orlando menarik tangan Darla. Hendak memukul wanita itu namun dengan gesit Darla melayangkan pukulan di wajah Orlando.
Bugh!
"Awh!" pekik Orlando dengan memundurkan langkah kakinya. Pria itu tersentak kaget karena gerakan Darla tak bisa terdeteksi alias cepat.
Darla menyeringai tipis, melihat darah mengalir di hidung Orlando sekarang. "Cih! Dasar pria lemah!" serunya dengan lantang.
Merasa harga dirinya di injak-injak oleh seorang wanita. Orlando kembali menyerang wanita itu. Kali ini Orlando tak menganggap Darla' seorang wanita melainkan pria yang sepadan dengan lawan mainnya.
Orlando hendak memukul dada Darla, namun dengan gesit Darla menangkis serangan Orlando hingga posisi pria itu sekarang di pagar pembatas. Sedangkan Darla mengarah ke dalam ruangan. Melihat ada celah, Darla berlari masuk ke kamar.
Melihat pergerakan Darla, Orlando mengejar Darla.
Grep!
Orlando berhasil meraih pergelangan tangan kanan Darla. Ia mencekik leher Darla dari belakang.
"Si@l!" umpat Darla seraya memegang tangan Orlando yang sekarang bertengker dilehernya. Darla menyundul kuat wajah Orlando menggunakan kepala belakangnya seketika.
"Argh!!!" jerit Orlando dengan memegang wajahnya sesaat. Secara bersamaan pula Darla memutur tubuhnya, lalu memundurkan kakinya ke belakang, menatap lurus pada Orlando.
Orlando mengaduh kesakitan sejenak saat merasakan sakit mendera di bagian hidung dan rahangnya. Ekor matanya melihat Darla sekarang tengah memasang kuda-kuda.
'Wanita ini sangat berbahaya! Gerakannya sangat cepat! Di mana James menemukan wanita ini?'' Batin Orlando sembari menyeka darah di hidung.
Karena tak mau dikalahkan oleh seorang wanita. Orlando segera berjalan cepat mendekati Darla. Namun ketakutan Orlando sepertinya akan terwujud. Saat ini Darla menarik tangan Orlando kemudian membanting tubuh pria itu ke atas lantai.
Bruk!!!
"Arghhhhhhh!!!" teriak Orlando untuk kesekian kalinya ketika Darla mengangkat tubuhnya dengan enteng dan menjegalnya di lantai keramik itu, hingga porselen berwarna putih gading itu retak sedikit.
"Fuc* you!" umpat Orlando saat merasakan punggung belakangnya remuk sekarang. Pria itu terlentang di atas lantai.
"Hahaha! Dasar lemah!" sahut Darla dengan berkacak pinggang. Menatap tajam kepada Orlando di bawah sana.
Brak!!!
"Tuan!"
Ketika mendengar bunyi kegaduhan dari dalam ruangan tadi. Beberapa bodyguard bergegas membuka paksa pintu kamar Darla akan tetapi karena desain pintu tersebut sangat kuat dan kokoh, mereka sedikit kesusahan membukanya, alhasil kumpulan bodyguard terpaksa mendobrak pintu menggunakan besi panjang dan besar. Sesampainya di dalam kamar mereka terkejut, mendapati Orlando tergeletak di atas lantai dengan keadaan mukanya terdapat luka lebam. Secepat kilat mereka menondongkan pistol ke arah Darla.
Darla mengangkat kedua tangannya ke atas seketika. Memutar bola mata dengan malas kala melihat Orlando dipapah salah seorang bodyguard sekarang.
"Tuan, anda tidak apa-apa?" Julian baru saja tiba setelah mendapatkan informasi dari dua maid meminta pertolongan ke bawah tadi.
Orlando mendengus sesaat, kemudian beralih menatap Darla. "Sekap dia!" serunya dengan menunjuk Darla.
Darla melayangkan senyum sinis saat mendengar perkataan Orlando barusan.
*
*
*
Ruang Bawah Tanah.
Saat ini Darla berada duduk di atas kursi dengan tangan terikat ke belakang. Sedari tadi Darla tak melawan ataupun memberontak ketika dia di giring ke ruang bawah tanah milik Orlando. Bau pekat menyeruak ke hidung Darla ketika masuk ke dalam ruangan yang minim cahaya dan kumuh itu.
"Masih untung Tuan tidak menyiksamu Nona?!" ucap Julian.
Alih-alih ketakutan. Darla malah tersenyum tipis. "Itu berarti Tuan mu pengecut!" serunya.
Mendengar hal itu Julian tersulut emosi, kedua tanganya terkepal kuat.
Plak!!!
Julian menampar Darla hingga darah menetes di sudut bibirnya. Darla menjilati jejak darah di bibirnya kemudian beralih menatap Julian.
"Dasar laki-laki pengecut!"
"Kau!" Julian mengangkat tangannya ke udara lagi.
"Julian!!!" panggil Orlando seketika dia baru saja tiba di ruangan. Mendengar suara Orlando, Julian menghentikan gerakan tangannya.
"Sudah, kembali lah ke atas! Ada yang harus kita bicarakan sekarang!" sahut Orlando cepat.
Tanpa banyak kata. Julian mengangguk, ia berjalan menuju ambang pintu, sebelum keluar ruangan, ia melayangkan tatapan dingin pada Darla.
"Nona, ini lah akibatnya jika kau melawanku!"sahut Orlando selepas kepergian Julian.
Darla menyeringai tipis. "Aku tidak perduli!"
Orlando menggeleng-gelengkan kepalanya sesaat, melihat sikap Darla yang sangat keras kepala ternyata. Malas berdebat, Orlando berlalu pergi meninggalkan Darla di dalam ruangan bersama dua orang bodyguard berdiri tegap di sudut-sudut ruangan.
'Aku harus melarikan diri!' Darla melihat dua pria bersetelan jas serba hitam, memandanginya dengan seksama.