Mr. Mafia Meet Juragan Jengkol

Mr. Mafia Meet Juragan Jengkol
Sederajat



Setelah mendengar perkataan Jane barusan. James menatap mamanya dengan tatapan tajam dan dingin, jejak kemarahan terpancar jelas dari matanya. Sementara Joseph enggan menanggapi perkataan istrinya itu.


Sedangkan Darla mengelus pelan tangan James seketika. Hendak menenangkan suaminya itu kala mendengar James menggeram rendah saat ini.


Michael menghembuskan nafas dengan kasar, melihat kedekatan James dan Darla. Apa keduanya saling mencintai? Entah lah, saat ini pikiran Michael berkecamuk, mencoba menerka-nerka, namun, jikalau benar James dan Darla sudah mencintai, dia akan merebut Darla dari James bagaimana pun caranya, sama seperti dia mengambil perhatian dari Jane dan Joseph dulu. Seringai licik muncul diwajahnya seraya memperhatikan Darla dan James tengah melirik satu sama lain sekarang.


"Joseph! Usir wanita ini! Karena dia akan merusak semua rencana kita!" seru Jane lagi membuat Joseph akhirnya membuka suara.


"Diam kau! Aku kepala keluarga di rumah ini! Berani sekali kau meninggikan suara di hadapanku!" teriak Joseph membuat Jane terdiam seribu bahasa, wanita itu menelan ludah berulang kali kala melihat sorot mata suaminya begitu menusuk tajam ke dalam matanya.


"Apa benar yang dikatakan mamamu, kalau istrimu adalah seorang pembantu." Joseph menatap James dan Darla secara bergantian.


James mendengus. Lalu berkata,"Aku yang menjadikannya pembantu, tapi sebenarnya Darla seorang pengusaha makanan."


Darla tersenyum tipis, mendengar penjelasan James. Dia tak menyangka James mau menuruti perintahnya. Sewaktu di pesawat, Darla meminta kepada James, agar tak mengatakan latar belakang pamannya yang seorang mafia dan orang kaya. Darla juga meminta pada James memberitahu keluarganya kalau dia adalah pengusaha makanan.


"Pengusaha makanan? Perusahaan apa?" Raut wajah Joseph masih datar.


James tergugu, bingung, apa dia harus mengatakan kebenaran kalau Darla penjual semur jengkol, salah satu makanan aneh bin ajaib itu, pikir James sesaat.


"Perkenalkan namaku Darla, Uncle. Aku menjual makanan dari rumah ke rumah seperti bisnis homemade, aku tidak memiliki perusahaan khusus, uncle," jelas Darla cepat saat melihat James sedang berpikir.


Mendengar hal itu, Jane dan Michael berdecih sejenak. Mencemooh di dalam hati tentang perkerjaan Darla. Sementara Joseph menyipitkan matanya kala mendengar jawaban menantunya.


"Homemade?" Seringai tipis muncul di wajah Joseph seketika.


"Sudah lah, lebih baik kita pulang saja, Dear." James bangkit dari tempat duduknya seraya menarik tangan Darla.


"Siapa yang menyuruh kau pergi!?" Joseph beranjak, melayangkan tatapan sengit pada James.


James menoleh. "Tidak ada, aku sendiri yang mau pergi, lagipula kau kan sudah mengusir aku, untuk apa aku berlama-lama di sini! Pandai sekali anda membuat drama mengatakan kau sakit, cih! Sebenarnya apa tujuanmu?!"


Darla menggeleng pelan, mengapa kebanyakan orang akan memandang latar belakang, semula Darla masih menghargai dan menghormati Joseph, sebagai mertuanya, namun ketika mendapatkan perlakuan yang tak mengenakan, Darla tak segan lagi.


"Apa begini orang yang berpendidikan, memandang diriku yang rendahan ini! Uang dan takhta, tidak di bawa mati, Tuan! Ketika kita mati tempat peristirahatan terakhir kita sama!" seru Darla berapi-api.


Joseph dan Jane melebarkan mata saat mendengar perkataan Darla barusan. Sementara Michael menatap penuh kagum dengan keberanian Darla.


"Dear." James tak mau membuat wanitanya terluka. Dia semakin menggengam erat jari-jemari Darla.


Darla melirik sekilas, memberikan kode agar James memberikannya waktu untuk berhadapan dengan kedua orangtua James. James mengerti, mau tak mau dia harus menuruti istrinya itu. Walaupun ketakutan melandanya sekarang. Takut jika Joseph akan menyakiti istrinya nanti.


"Sayang! Wanita itu sangat licik! Dia sudah memperdayai James," seru Jane tiba-tiba.


Joseph menoleh. Tanpa banyak kata berjalan cepat, mendekati Jane.


Plak!


"Tutup mulutmu itu! Berani-beraninya kau membuka suara sebelum aku suruh!" Joseph menampar Jane sangat kuat.


Jane mengaduh kesakitan sejenak, lalu mendengus sebal, mendapatkan perlakukan dari Joseph. Sedangkan Michael menahan sabar kala melihat Joseph memukuli mamaya untuk ke sekian kalinya.


Joseph menoleh ke depan. "Benar apa yang dikatakan dirimu, maka dari itu akan mempertimbangkan apa kau layak menjadi menantuku atau tidak."


Jane ingin protes namun secepat kilat Michael melarang mamanya untuk berbicara. Agar ia tak di pukul lagi.


James dan Darla melemparkan pandangan satu sama lain seketika.


"Masakan aku makanan yang paling enak, jika enak dan sesuai dengan lidah ku, aku akan menerimamu sebagai menantuku." Sambung Joseph cepat membuat James panik seketika. Pasalnya papanya itu memiliki selera makan yang unik dan terkesan pilih-pilih.


'Waduh apa ya? Tidak mungkin semur jengkol kan?'