Mr. Mafia Meet Juragan Jengkol

Mr. Mafia Meet Juragan Jengkol
Berjumpa Papa Mertua



Sekarang pasangan suami istri itu sudah berada di pesawat pribadi milik James. Darla menarik nafas pelan ketika melihat James lebih banyak terdiam sedari tadi. Darla menebak James sedang memikirkan papanya yang sakit. Walaupun Darla tak pernah bertemu mertuanya tapi Darla berharap papa James baik-baik saja dan sakit yang di derita tidak lah parah.


Sebelum pesawat take-off, Darla sempat menanyakan mertuanya itu sakit apa kepada Grey. Akan tetapi Grey hanya mengatakan papa James sakit keras dan tidak tahu pasti penyakit apa yang mengerogoti mertuanya.


Darla mendesah pelan karena tak ada seorang pun yang dapat mengatakan dengan jelas penyakit mertuanya. Sepasang mata itu menatap James di samping dengan intens, saat melihat James sesekali memejamkan mata seraya memijit keningnya.


"James, tenang lah, papamu pasti baik-baik saja." Darla memberikan dukungan kepada James saat ini. Wanita itu menyentuh punggung tangan kanan James seketika.


"James," panggil Darla lagi kala James tengah termenung di tempat.


James tersadar. "Ada apa dear?" tanyanya karena tadi tak mendengar perkataan Darla.


Darla menghela nafas. "Papamu pasti baik-baik saja, jangan terlalu dipikirkan."


James merekahkan senyuman seketika kemudian memeluk Darla dengan begitu erat. Dia tak menyangka istrinya yang bar-bar itu dapat membuatnya merasa tenang serta memberikannya kelegaan melalui kata-katanya barusan.


Sementara Darla terlonjak kaget ketika James mendekapnya. Seulas senyum tipis terukir diwajahnya.


*


*


Menempuh perjalanan kurang lebih sebelas jam. Kini Darla dan James sudah tiba di Moskow. Keduanya langsung bergegas menuju mansion milik papa James.


Sesampainya di sana. Darla terkesima, saat melihat mansion megah bergaya modern terpampang indah dihadapannya. Ornamen-ornamen pagar dan eksterior rumah sangat apik untuk dipandang.


Untuk sejenak Darla enggan mengedipkan mata, kala melihat di depan mansion terdapat kolam renang dan labirin yang sangat besar menghiasi pekarangan depan mansion.


"Selamat datang, Tuan dan Nyonya." Seorang pria yang bertugas pintu utama membukakan pintu mobil James.


Sebelum keluar dari kendaraan. James mengenggam erat tangan Darla kemudian berbisik pelan. "Tetaplah di sisiku, ingat ini bukan mansionku," ucapnya seraya mengedarkan pandangan keluar melihat bodyguard papanya berdiri tegap di sudut-sudut mansion. James tengah memperingati karena keduanya sekarang memasuki lubang buaya.


Darla mengangguk pelan kemudian keluar dari mobil bersama James.


"Papa sakit apa?" tanya James kepada salah seorang bodyguard yang sudah cukup lama berkerja di mansion.


"James!"


"Wanita tidak tahu diri! Kenapa dia ikut kemari?!" umpat Jane melayangkan tatapan dingin kepada Darla dari kejauhan.


"Ada apa Ma?" Michael baru saja tiba. Barusan dia tak sengaja mendengar Jane mengumpati seseorang


Jane mendengus. "Kau lihat itu! Wanita itu ikut dengan James, aku yakin pasti dia sudah menyihir James sekarang," serunya berapi-api tanpa menatap lawan bicara. Sedari tadi wanita yang sudah berkeriput diwajahnya itu tak melepaskan pandangan mata dari Darla.


Michael menoleh, sudut bibirnya melengkung membentuk sebuah senyuman kala melihat Darla berjalan di depan sana. Namun dalam sepersekian detik senyumannya sirna ketika melihat James mengandeng tangan Darla tiba-tiba.


'Cih! Raja drama, tenang Mich, kau memiliki banyak kesempatan di sini untuk menyentuh tubuh Darla.'


"Di mana papa? Papa sakit apa?" Semula James merasa sedih mendengar kabar bahwa papanya sakit keras namun sekarang dia dapat merasakan ada sesuatu yang tidak beres.


Jane tergugu sejenak, lalu melemparkan pandangan kepada Michael yang berada di samping tubuhnya sedari tadi.


"Kau sudah tiba." Suara bariton dari dalam ruangan mengalihkan pandangan James dan Darla seketika.


"Masuk!" titah suara itu. Secepat kilat James mengajak Darla masuk ke dalam melewati Jane dan Michael yang masih bergeming di tempat.


"Bukan kah kau sedang sakit?" Saat ini James dan Darla duduk di sofa yang berhadapan langsung dengan papa James ialah Joseph Vardy.


"Apa begini caramu menyapaku?" kata Joseph menatap datar putranya.


James tak langsung menjawab. Ayah dan anak itu saling bersitatap satu sama lain tanpa ekspresi sedikipun. Sedangkan Darla tengah meneliti wajah mertuanya yang serupa dengan James. Yang membedakan hanya lah rambut dan garis kerutan di wajah mereka. Darla begitu canggung ketika melihat interaksi James dan mertuanya seperti musuh apalagi dia sekarang dapat merasakan hawa di ruangan sangat mencekam sekarang.


Sementara Jane dan Michael tak berani membuka suara kala James dan Joseph masih memandang satu sama lain tanpa mengucapkan satu patah katapun.


"Apa dia istrimu?" tanya Joseph tiba-tiba.


"Iya! Dia istriku," jawab James tanpa melepaskan tangan Darla dari tadi.


Joseph melihat penampilan Darla dari kepala hingga ujung kaki. Darla mengerutkan dahi melihat mertuanya menatapnya datar.


"Wanita ini sudah meracuni James, sayang, dia hanya lah pembantu di mansion James," ucap Jane tiba-tiba membuat Darla berdecak kesal.


'Ada masalah apa sih nenek lampir ini denganku.'