
Beberapa hari kemudian. Darla sudah terlihat membaik. Akhirnya dokter memperbolehkan Darla pulang ke rumah.
James senang melihat Darla sudah sembuh sekarang. Pria bernetra abu-abu itu mengecup kening Darla berkali-kali di perjalanan ke mansion. Dia sangat bahagia kehadiran Darla membuat hidupnya lebih berwarna. James menelusupkan wajahnya ke ceruk leher Darla, menghirup aroma tubuh Darla yang membuatnya di mabuk kepayang.
Sementara Darla terdiam, pasrah dengan perlakuan James sejak kemarin. Semenjak James memasak untuk dirinya, James selalu mencumbunya tanpa mengenal waktu dan tempat. Seperti saat ini, Darla tersenyum malu, melihat Dominic di kursi kemudi memperhatikan mereka dari tadi.
"James, hentikan, kau tidak malu dengan anak buahmu!" seru Darla dikala James mencium gemes pipinya.
James melirik Darla. Kemudian berbisik di telinga. "Biarkan saja anggap dia tak ada di sini." Secepat kilat James melingkarkan tangan diperut dan memeluk istrinya dari belakang.
"Ck! James! Malu tahu! Di rumah saja!" Darla memanyunkan bibir seraya melipat tangan di dada.
Cup!
Kecupan kuat mendarat tepat di pipi sebelah kanan Darla. Darla terkejut mendapat serangan mendadak, kedua matanya mengerling ke atas, melirik James dengan tatapan tajam.
Bukannya marah melihat tingkah istrinya, James malah tersenyum tipis. "Kau semakin cantik dear, kalau sedang marah," ucapnya lalu menaruh dagu di pundak Darla.
Darla mendengus kemudian memalingkan mukanya ke samping. Bingung dengan perasaannya saat ini, bukan kah seharusnya Darla marah tatkala mengetahui James hanya ingin memiliki anak darinya namun Darla teringat tempo lalu James menikahi dirinya karena memang mau mendapatkan keturunan saja.
*
*
*
Menempuh kurang lebih tiga puluh menit lamanya, Darla dan James telah tiba di mansion. Tampak beberapa penjaga berdiri di masing-masing posisi manakala melihat mobil James memasuki pekarangan mansion.
Grey berdiri tegap di depan pintu menyambut kedatangan pasangan suami istri itu. Seulas senyum tipis terpatri diwajahnya melihat kemesraan James dan Darla di depan sana saling berpegangan satu sama lain. Namun senyumnya sirna seketika saat mengingat di mansion ada seseorang yang sangat tak dia suka berada di lantai dua sedang menunggu kedatangan James pula.
"Selamat datang Tuan." Grey menunduk sedikit.
James menoleh, kemudian berkata,"Hem, Grey mulai hari ini Darla tidur di kamarku, sekarang panggil dia Nyonya, beritahu kepada seluruh maid dan penjaga di mansion dan siapkan makanan sehat untuknya, karena Darla sedang hamil."
Grey tersenyum sumringah mendapat berita baik dari Tuannya itu. Dia sangat tak sabaran menanti kedatangan anak James. Sudah lama ia menunggu kehadiran suara tawa anak kecil di mansion James yang sepi ini.
"Baik Tuan. Selamat untuk Tuan dan Nyonya." Grey melemparkan pandangan kepada Darla dan James secara bergantian.
Darla membalas dengan mengangguk saja.
"James aku mau istirahat ke atas." Darla berjalan cepat menaiki anak tangga.
"Tunggu dear! Jangan ke atas!" James berseru seraya mengejar Darla.
Tanpa menghentikan langkah kaki, Darla berkata,"Memangnya kenapa? Kamarmu ada di atas kan."
"James!" Dari arah depan seorang wanita yang sangat Darla kenal memeluk James tiba-tiba.
James terkejut secepat kilat ia mendorong Laura hingga jatuh tersungkur ke lantai. Sedangkan Darla tertegun sejenak. Dadanya bergemuruh seketika.
Laura bangkit. "James, aku merindukanmu!" serunya seraya mendekati James.
"Argh! Si@lan! Lepaskan tanganmu j@lang!" teriak Laura ketika Darla menarik rambutnya tiba-tiba.
"Kau yang j@lang! Wanita sepertimu harus diberantas!" Darla menjambak rambut Laura dengan sangat kuat.
"Haaa James tolong aku!" Laura menjambak rambut Darla pula.
James panik bukan main, secepat kilat ia memisahkan Darla dan Laura. Tak mau Darla terluka karena ulah Laura, apalagi sekarang Darla tengah mengandung buah hatinya.
"James! Kau berbohong padaku! Kenyataannya kau benar-benar berselingkuh dengan Laura Kan?" murka Darla, menatap sengit James.
James tergugu. "Tidak, Dear! Percayalah padaku aku tidak tahu kalau ada Laura di sini, Grey baru saja memberitahuku tadi," sanggahnya cepat.
"Pembohong! Aku membencimu!" Darla memutar tumit namun sebelum melenggang pergi. Dia menampar kuat Laura yang sibuk merapikan rambut sedari tadi.
Plak!!!
"Awh!" Laura meringis sejenak seraya mengepalkan kedua tangan, menatap tajam Darla.
"Apa?! Ambil saja James!" Darla melengos pergi meninggalkan James dan Laura.
"James kau mau kemana?" Laura menahan tangan James saat pria tersebut hendak mengejar Darla.
James menyentak kasar tangan Laura. "Grey!!! Bawa wanita ini ke ruangan eksekusi lalu kirim dia ke benua antartika!" raungnya membuat Laura panik.