Mr. Mafia Meet Juragan Jengkol

Mr. Mafia Meet Juragan Jengkol
Babu James



Darla berjalan cepat menuju kamarnya. Entah mengapa perkataan James membuatnya dadanya begitu sakit. Dengan langkah gontai Darla menapaki tangga demi tangga mansion James. Saat ini ia ingin sekali berteriak, melampiaskan semua kekesalan yang berada di dalam hatinya. Darla semakin mempercepat langkah kakinya namun karena tak melihat ke depan. Seorang maid yang hendak naik ke atas ditabrak Darla.


"Awh!!" pekik maid itu hingga terjatuh ke lantai.


Darla menghentikan langkah seraya mengangkat wajahnya. Begitu terkejut, mendapati maid itu kesakitan karena ulahnya. Darla bergegas menghampiri maid berambut blonde tersebut.


"Maaf, aku tidak sengaja, kau tidak apa-apa Kan?" tanya Darla ingin memastikan.


Maid itu bangkit berdiri kemudian melayangkan tatapan tajam pada Darla.


"Makanya kalau jalan pakai mata?!"


Mendengar perkataan Maid itu. Darla menghela nafas kasar. "Aku sungguh minta maaf," katanya tulus.


"Ada apa ini?" tanya James. Beberapa detik yang lalu James hendak ke lantai dua ingin ke ruangan pribadinya. Namun ia sedikit terusik saat mendengar bunyi keributan di tangga.


Melihat kedatangan James, Maid itu merubah raut wajahnya seketika kemudian membungkukkan badannya sedikit.


"Maaf Tuan, karena telah membuat keributan. Maid baru ini tadi menabrak tubuh saya. Beruntung saya tidak terluka." Suara maid itu terdengar mendayu. Darla yang mendengarkan mengerutkan dahinya. Sebab wanita berambut blonde di depannya seakan merayu James.


"Hm. Ya sudah, lanjutkan pekerjaanmu, dan kau Darla, ikuti aku! Kau harus di hukum!"


Maid tersenyum sinis. Sedangkan Darla merengut kesal karena harus berhadapan lagi dengan James. Padahal Darla tak mau bertemu James. Kala mengingat kejadian di dalam kamar ketika pria itu merendahkan dan meremehkannya. Dengan terpaksa Darla menuruti perkataan James. Kemudian mengekorinya dari belakang.


"Kenapa kau selalu ceroboh?" tanya James tanpa menatap lawan bicara.


Kini James dan Darla berjalan menuju ruangan pribadinya. Di belakang Darla menundukkan kepala. Rasa pening menyerangnya seketika. Mungkin karena tak mengisi tenaga dia sampai pusing dan lemas.


"Kau dengar aku tidak?!" James mulai tersulut emosi ketika Darla tak langsung membalas ucapannya. Ia membalikkan badannya.


Dugh!


Darla yang tengah melamun tanpa sengaja menabrak dada bidang James. Ia mengangkat wajahnya, kemudian menatap yang James tengah melihatnya dengan tajam. Detik selanjutnya pria berwajah sanggar itu mendorong kasar tubuh Darla membuat wanita itu terhuyung ke belakang sesaat.


"Shhh..." ucap Darla lirih seraya menyentuh keningnya yang semakin sakit.


"Dasar lemah!" sahut James tanpa memperdulikan wajah Darla yang sekarang nampak pucat.


Lagi dan lagi Darla enggan menyahut. Memilih diam karena rasa sakit yang menderanya semakin bertambah.


"Awas saja kau pingsan, aku tidak mau mengangkat tubuhmu itu!" seru James membuat Darla menarik nafas pelan. Darla malas berdebat dengan James.


Selang beberapa menit. Darla telah tiba di ruangan pribadi milik James. Ia nampak kebingungan kala James hanya menatap datar ke arahnya tanpa berucap satu patah katapun.


Hening sesaat!


James bergeming di posisi semula tanpa berniat membuka suaranya.


"Rapikan buku-buku ku yang ada di sana!" kata James memecah keheningan malam.


Sedari tadi James diam-diam mengamati tingkah laku Darla. Semula ia ingin memarahi Darla akan tetapi diurungkannya kala melihat bibir Darla semakin bertambah pucat. Meskipun Darla sedang sakit hal itu tak membuat James menaruh rasa iba dihatinya. Yang ada James malah terlihat senang dengan ketidakberdayaan Darla.


"Aku tunggu satu jam dari sekarang!" James berucap seraya menyenderkan kepala ke kursi kebesarannya. Ia mengerutkan dahi ketika Darla tanpa susah payah dapat menyelesaikan tugasnya dengan baik.


"Sudah selesai." Akhirnya Darla sudah menyelesaikan pekerjannya. Nampak peluh keringat membasahi keningnya. Melihat hal itu James malah tersenyum tipis.


"Oke, keluar kau! Pergi ke dapur. Makan lah! Mulai besok lakukan tugas sesuai peraturan yang ada." James menunjuk ke arah pintu memberikan kode agar Darla segera meninggalkan ruangan sekarang.


Darla bergegas keluar dari ruangan, kemudian berjalan ke ruangan dapur hendak mengisi kampung tengahnya. Begitu sesampai di dapur, ia menelisik ruangan yang nampak sepi. Sepertinya para asisten sedang beristirahat malam. Dengan cepat Darla mencari-cari makanan di lemari kitchen set. Kedua matanya berbinar melihat ayam goreng dihadapannya. Tanpa ba bi bu, Darla mengambil nasi dan ayam goreng lalu menyantapnya dengan lahap.


Setelah selesai makan malam. Darla kembali ke kamarnya hendak mandi dan beristirahat.


*


*


Kini Darla sudah selesai membersihkan diri. Beruntung baju yang tersedia di dalam lemari sangat pas ditubuhnya. Darla mulai merebahkan diri di tempat tidur.


"Mom, Dad, apakah ada kebahagian untukku?" Darla tengah menatap langit-langit kamar. Bertanya pada kedua orangtuanya yang sudah lama pergi meninggalkannya. Seketika ia menitihkan air matanya, sungguh Darla tak mampu lagi membendung rasa rindunya kepada Mommy dan Daddy-nya. Kepergian orangtuanya membuat Darla kekurangan kasih sayang dan perhatian. Lantas Eslin memberikan perhatian kepadanya. Dia pun tak mengira bisa jatuh cinta kepada pria yang sudah menganggapnya sebagai anaknya.


Darla merenungi nasib ke depannya. Apa benar ini jalan kehidupannya. Tinggal satu rumah dan terikat bersama seorang pria yang tak dicintainya sama sekali. Ia terisak pelan, mencoba menerima semua kenyataan yang telah terjadi.


"Eslin, aku akan berusaha melupakanmu...."


Sebuah kalimat terlontar begitu saja dari bibir Darla. Setelah sekian lama ia akhirnya menyerah dengan cintanya tak dapat dia perjuangkan lagi. Ia sudah tersadar bahwa perkataan James tadi ada benarnya. Jika dibandingkan dengan Esmeralda. Dia jelas kalah, apalagi Esmeralda adalah keluarga terpandang dan memiliki gelar pendidikan yang melebihi dirinya.


"Baik-baik Eslin, aku akan tidak akan menganggumu lagi," sambung Darla lagi sembari mengusap jejak tangisnya.


"Sudah lah Darla. Sekarang kau fokus untuk menjalani hidupmu di dalam penjara mafia gila ini!" cerocos Darla tengah membayangkan wajah James yang angkuh.


"Seharusnya aku tidak perlu memberikan Eslin minuman. Lihat dirimu sekarang Darla! Kau terperangkap di mansion ini!" Darla meracau sendiri di dalam kamarnya.


Darla masih bergeming di posisi semula seraya merentangkan tangannya di kasur. Detik selanjutnya. Ruangan sunyi dan senyap. Matanya terasa amat berat dengan perlahan kelopak matanya mulai mengatup.


"Mom, Dad, I miss u..." Sebelum matanya menutup Darla bergumam pelan.


***


Esok harinya. Darla yang sudah terbiasa bangun pagi. Tengah bersiap-siap untuk menjalankan aktivitasnya di mansion sebagai asisten James. Walaupun James mengatakan statusnya adalah istrinya, akan tetapi menurut Darla tak ada bedanya sebab James hanya menganggap dirinya babu. Setelah puas memperhatikan penampilannya, Darla bergegas keluar ruangan.


Dengan langkah riang Darla menuju dapur hendak membuat sarapan, teringat jika boleh makan sebelum James terbangun pukul enam pagi.


Byur!!!


Belum sampai Darla di ruang dapur, seseorang menyiram kepalanyanya dengan air berwarna hitam pekat. Hal itu membuat Darla begitu terkejut.


"Apa yang kalian lakukan?!" tanya Darla kepada dua maid dihadapannya yang tengah melayangkan tatapan dingin padanya.