
Di sisi lain. Saat ini James dan anak buahnya tengah berada di sebuah terowongan bawah tanah. James sedang bertransaksi dengan kolega bisnisnya.
Seorang pria berkulit hitam yang disinyalir tangan kanan James, menatap tajam pria dihadapannya. Secara bersamaan pula dari samping, pria bertubuh jangkung membawa koper berwarna hitam. Secepat kilat pria itu meletakkan koper di atas meja, kemudian membuka benda berbentuk kotak itu, nampak tumpukan uang dolar yang sangat banyak didalamnya membuat mata si kolega berbinar-binar.
"Senang berbisnis dengan anda, Mister James," sahut pria yang berkepala botak dengan menyeringai tipis.
James tengah duduk tenang di antara para anak buahnya, mengangkat satu alisnya, kemudian berkata,"Hmm, aku harap bisnis ini akan tetap berlanjut untuk ke depannya, kalau kau melanggar kesepakatan yang telah dibuat, aku tidak akan memasok senjata lagi untukmu."
Mendengar hal itu, si kolega tersenyum tipis. "Baik, Mister. Anda tenang saja. Asal bisnis ini saling menguntungkan, kerjasama ini akan tetap selalu berjalan."
James mengangguk pelan, kemudian melirik sekilas tangan kanannya. Mengerti dengan bahasa mata, sang tangan kanan memberikan James sepuntung rokok, kemudian menyalakan pemantik di ujung benda mini tersebut. Seketika asap mengepul mengelilingi tubuh James.
Pria itu tengah menikmati benda yang mengandung nikotin dengan pelan. Ia mendongkakkan kepalanya ke atas kemudian memejamkan matanya sembari menghirup rokok itu.
Hening sesaat!
Hanya terdengar samar-samar bunyi deruan kendaraan roda empat di atas kepala mereka.
"Aku dengar anda sudah menikah?" tanya si kolega tiba-tiba membuat sang tangan James menatap tajam karena telah lancang menanyakan hal pribadi menurutnya.
Mendengar hal itu James membuka kelopak mata, lalu menegakkan kepalanya.
"Apa aku harus menjawabnya." Suara James terdengar dingin membuat si kolega meneguk ludah. Apa lagi melihat sorot mata James yang tajam seperti seekor elang membuatnya semakin ketakutan. Pria berkepala botak itu nampak salah tingkah. Karena dia baru menyadari telah melakukan kesalahan dengan melontarkan pertanyaan pribadi barusan.
"Maaf, Mister..." ucapnya lirih.
"Hmm." James berdeham rendah.
Bunyi ponsel James mengalihkan atensinya seketika. Dengan cepat ia menyambar benda mini itu di saku celananya. James mendengus kasar kala sebuah nama yang sangat ia benci menghubunginya.
"Ada apa?" tanya James to the point kepada Michael di sebrang sana. Setelah mendengar perkataan Michael, James memutuskan sambungan secara sepihak. Kemudian tanpa banyak kata bangkit berdiri.
"A, bereskan sisanya, aku harus kembali ke mansion," pungkas James kepada sang tangan seraya melempar rokok ke bawah.
*
*
*
Melihat kedatangan mobil pemilik mansion. Bodyguard yang bertugas di pintu utama bergegas menghampiri mobil James. Dengan cepat ia membukakan James pintu.
"Bagaimana keadaan mansion?" tanya James sembari melepas kaca hitamnya.
"Semua aman terkendali, Mister. Hanya saja Diego mengacak-acak taman belakang, Mister." Si bodyguard menunduk sedikit tengah menyembunyikan ketakutannya karena ulah Diego bisa membuat mood James berubah.
James enggan menyahut. Malah melangkah pergi masuk ke dalam mansion. Sesampainya di dalam, James mengerutkan dahi, melihat ruang tamu nampak kosong, padahal tadi Michael mengatakan padanya Mamanya membuat keributan dengan maid yang bernama Darla.
"Darla!" Bukan Mamanya yang di panggil, melainkan Darla, istri sekaligus babunya.
"Di mana Mamaku? Kau berkelahi dengan Mamaku?" tanya James penasaran.
"Tidak tahu, mungkin ke kamarnya. Iya, Mamamu yang memulai, lagian siapa suruh Mamamu bersikap seperti itu. Aku sudah meminta maaf tadi perihal sikap ku yang ketus, aku akan sopan jika Mama mu juga sopan dan tidak bersikap semena-mena pada seorang babu seperti ku!" jelas Darla dengan nafas yang memburu.
James menarik nafas panjang. Dia memang mengetahui perangai Mamanya yang terkesan angkuh dan sombong.
"Ikut denganku ke atas." James melirik Diego yang masih bergeming di belakang tubuh Darla. "Diego, bermain lah di taman belakang, hari ini kau ku berikan kebebasan." Sambungnya tiba-tiba membuat Diego mengedipkan pelan matanya. Secepat kilat ia berlari keluar hendak bermain-main seperti tadi ketika ia menunggu Darla.
Begitu sampai di lantai tiga. James menelisik keberadaan Mamanya yang tengah berbicara kepada Michael. Kala mendengar suara hentakan kaki mendekat, Mama James mengalihkan pandangan matanya.
"James!" Mamanya bangkit berdiri lalu memeluk erat putra pertamanya.
"Mengapa kau kemari?" tanya James melayangkan tatapan datar tanpa ekspresi sedikitpun. Walaupun sebenarnya dia juga merindukan Mamanya akan tetapi ketika teringat perlakuan Mamanya, James mengubur semua rasa rindu itu di relung hatinya.
"Mama merindukanmu, James." Ia menuntun James duduk di sofa yang berhadapan dengannya.
"Rindu? Hanya itu?" Alis James terangkat sedikit. "Jangan bohong, cepat katakan apa mau mu?" Sambungnya lagi karena dia sudah mengetahui perangai Mamanya yang tidak akan berkunjung kalau tidak ada kepentingan untuk dirinya sendiri.
Bukannya langsung menjawab Mama James malah menatap tajam ke arah Darla yang sedari tadi berdiri di depan dengan menampilkan raut wajah datar. Darla yang merasa diperhatikan menatap seksama tanpa berkedip sedikitpun.
"Nyonya Jane! Cepat katakan?!" Habis sudah kesabaran James ketika melihat Mamanya tak langsung membalas ucapannya.
Mama James memutus kontak matanya seketika lalu menoleh. "James, bisakah kau memecat wanita gila ini!"
"Jangan mengalihkan topik pembicaraan! Katakan apa yang kau mau?!" Suara James yang menggelegar membuat Jane mengelus dadanya.
"Kak! Bisa kah kau lebih lembut pada Mama?" pinta Michael yang sedari tadi diam seribu bahasa.
"Apa?! Tidak usah kau berakting, Michael! Kenapa juga kau ke sini?!" bentak James membuat Darla kebingungan dengan hubungan keluarga James yang menurutnya aneh, apa lagi dia melihat rasa tidak suka dari pancaran mata James ketika menatap Michael.
"Aku menemani Mama!" kata Michael mulai tersulut emosi.
"Cih! Alasan!" James mendengus kasar lalu melirik Darla yang memandangi Mama dan adiknya secara bergantian. "Darla, duduk lah di situ!" titah James kala melihat kaki wanita itu bergetar pelan. Dia pun penasaran apa yang diperbuat Mamanya kepada Darla tadi, apalagi melihat bekas warna merah di ujung dres Darla.
Darla segera duduk di sofa menatap lurus ke depan, melihat pohon di luar mansion meliuk-liuk terkena terpaan angin. Sungguh, saat ini Darla tak mau berada di situasi yang menengangkan ini. Tapi dia juga penasaran mengapa James, Mama dan adiknya tak akur. Memikirkan hal itu membuat Darla ikutan pusing. Tak mau terlalu ikut campur, Darla berusaha cuek dengan permasalahan keluarga James.
"James, kau tahu sendiri Kan, Mama menginginkan seorang cucu, maka dari itu Mama memiliki kandidat istri yang cocok denganmu!" sahut Jane semangat seraya mengeluarkan beberapa foto wanita di dalam tasnya. Sejujurnya dia juga hampir menyerah karena James selalu menolak mentah-mentah perjodohan yang di lakukan antara dirinya dan teman kolega suaminya. Kali ini wanita paruh baya itu berharap James dapat menerima perjodohan tersebut.
"James, ayo lah Nak, jangan karena satu wanita kau menutup hatimu!" sambungnya lagi seraya menatap James yang nampak memandangi Darla dan Michael.
James enggan menyahut karena sedari tadi merasa panas dan membara melihat Michael duduk di samping Darla. Entah mengapa ia sangat tidak suka melihat Michael mengajak Darla berbicara saat ini.
"James! Kau dengar Mama tidak?! Seandainya saja Esmeralda tidak menikahi bodyguard itu, Mama pasti sudah memiliki cucu yang cerdas dan cantik seperti Esme!" seru Jane membuat James mengalihkan pandangan matanya.
Darla yang mendengar nama Esmeralda di sebut, mengerutkan dahinya.
'Esme? Bodyguard? Hm....'