
James panik melihat pintu di sisi kiri Darla dihantam seseorang. Secepat kilat ia menyuruh Darla menggeser tubuhnya. Sang supir tak sadarkan diri karena body samping mobil mengenai tubuhnya, nampak darah mengalir dari pelipisnya. Grey terbatuk-batuk sesaat, melepas sabuk pengamannya dengan cepat. Lalu menuntun stir kemudi mobil agar tak keluar jalur.
"Grey! Ambil alih kemudi!" titah James dengan mengeluarkan pistol dari balik jasnya.
"Sedang saya usahakan Tuan!" Tak mau membuang banyak waktu. Ia menggeser tubuh sang supir lalu memindahkan tubuh sang supir ke kursinya dengan mudah. Ia pun bergegas duduk dan mengambil alih mobil. Grey melajukan kecepatan di atas rata-rata kala melihat tiga buah mobil dari belakang mengejar mobil mereka sekarang.
Dor! Dor!
Secepat kilat Grey membanting setir ke kanan, menghindari tembakan tersebut. Berkat kemampuan dan kecekatan Grey, baik ia, James dan Darla tak terluka sama sekali.
"James! Mereka siapa?!" tanya Darla penasaran sekaligus panik. Karena kendaraan di belakang ingin menyelip mobil mereka.
Brak!
Dentuman di body belakang kendaraan milik James terdengar nyaring membuat Darla seketika menutup telinganya.
"Bedebah! Mereka sudah berani mengibarkan bendera perang!" murka James, lalu mengeluarkan sedikit tangannya di jendela, mengarahkan pistol ke mobil merk jeep berwarna putih di sebelah kanan.
Dor!!!
Timah peluru melesat tajam mengenai bagian depan mobil. Tiba-tiba dari arah berlawanan.
Dor!
"James!!" jerit Darla saat tubuh James hampir saja dihingapi peluru.
"Tenang lah Darla, aku tidak apa-apa, maafkan aku, gara-gara aku, kau jadi kesusahan!" kata James.
"Iya, tak apa-apa, tapi mereka siapa?!" tanya Darla dengan melihat ke belakang sana. Kendaraan lainnya masih membuntuti mereka. Padahal Grey membawa mobil sudah seperti seorang pembalap.
"Mereka musuhku!" James kembali menodongkan pistol ke belakang sana dengan melontarkan timah panas bertubi-tubi ke mobil lawan. Darla enggan menyahut sepertinya paham dengan situasi sekarang.
"Grey! Kita ke jalan Corner!" titah James lagi dengan menarik tangan Darla, agar berlindung ditubuhnya.
Grey mengangguk cepat. "Baik, Tuan."
Saat ini suara deruan mobil saling mengejar-ejar di jalanan perkotaan terdengar nyaring. Kendaraan milik James melesat laju hingga membuat mobil polisi yang bertugas di sisi jalan mengikuti mereka. Sekarang suara sirine mobil polisi ikut menemani aksi dua kubu mafia tersebut.
Boom!!!
Seketika suara ledakan terdengar menggelegar di jalanan. James meradang sebab sang musuh sepertinya menjadikan Darla target. Secepat kilat ia membuka jasnya lalu menaruh pakaiannya itu di pundak Darla.
"Darla, jangan jauh-jauh dari ku, oke?" James melabuhkan kecupan singkat di kening Darla.
"Memangnya aku anak kecil, ada-ada saja kau ini!" seru Darla dengan menutup pipinya sekarang yang terasa panas karena tadi mendapatkan ciuman didahinya.
James enggan menyahut, malah menatap dalam bola mata Darla. Entah mengapa perasaannya semakin tak karuan. Secepat kilat ia membungkukkan badan, mengambil bazoka di bawah kursi mobil.
"Wow! James, itu kan bazoka, kau tidak gila kan? Kita sedang di pusat kota James!" Darla melihat senjata yang besar dan panjang dihadapannya. Ia tak habis pikir, mengapa James tak segan-segan memakai senjata berbahaya tersebut, yang bisa melenyapkan nyawa orang.
(Penampakan Bazoka - Sumber Google)
"Ini demi mu Darla, mereka menjadikan mu target! Orlando bukan lah orang sembarangan, dia akan melakukan segala macam cara untuk mendapatkan apa yang dia inginkan!" James segera mendobrak paksa pintu di sebelahnya hingga hancur. Secepat kilat ia menaruh bazoka di bahu.
"Orlando? Mengapa namanya tidak asing ya," gumam Darla pelan seraya melihat James tengah sibuk menodongkan bazoka ke mobil musuh.
Sementara itu. Di sebuah mobil berwarna hitam. Seorang pria menyeringai tipis, melihat James sedang mengarahkan bazoka ke mobil anak buahnya.
"Haha! Kau sangat bodoh, James! Kau pikir, kau saja yang memiliki senjata itu."
Yaps pria itu adalah Orlando Smith, salah satu musuh terbesar James Vardy, beberapa hari yang lalu ia sudah menyerang James di markas besarnya, akan tetapi karena kalah jumlah, ia pun kalah. Karena dendam di masa lalu, membuat Orlando selalu mencari gara-gara pada James.
Dahulu kala James dan ia pernah berkerjasama dalam perdagangan barang-barang ilegal berupa narkoba dan senjata api berbahaya di benua Amerika. Akan tetapi karena ketamakan Orlando, James mengakhiri kerjasama tersebut. Apalagi anak buah Orlando pernah menghabisi anak buah James. Membuat James pun menghabisi seluruh anak buah Orlando.
Kurang lebih dua tahun ini, dia mencari kelemahan James. Akan tetapi James terlalu cerdik dan memiliki anak buah yang kuat, ia pun tak bisa menembus pertahanan markas James.
Boom!!! Bledar!!!
Suara bazoka melengking nyaring, menghancurkan salah satu kendaraan anak buah Orlando. Orlando berang, kemudian menggerakkan tuas gigi mobil dengan cepat.
"Julian, sekarang kau tuntun mobil bedebah itu! Ke arah selatan! Aku menginginkan wanita itu!" titah Orlando kepada seseorang di ujung sana melalui wirelles bluetooth.
"Baik Tuan!"sahut seseorang cepat.
Di sisi lain. James tersenyum tipis karena berhasil menghancurkan mobil musuh. Dia pun kembali melontarkan peluru ke dua mobil lainnya. Ekor matanya tak sengaja melihat Orlando tersenyum sinis padanya.
"B@jingan itu!!!" James melototkan matanya sejenak.
"Tuan, Dominic dan anak-anak dalam perjalanan kemari!" Grey melirik James kaca spion di bagian tengah. Beberapa detik yang lalu ia menghubungi Dominic.
James menoleh. "Bagus! Sekarang cepat kita ke jalan twenty sixty!"
Grey mengangguk.
"James, aku mual," sahut Darla tiba-tiba dengan merapikan rambut panjangnya yang berterbangan ke segala arah akibat angin dari luar mobil. Bagaimana tidak, mobil James sekarang tak memiliki pintu di sisi kanan. Ia merasa pusing karena terpaan angin tersebut.
James terlihat panik, kemudian menyentuh kedua pipi Darla yang terasa panas.
"Darla, bertahan lah sebentar lagi, kita sampai," sahutnya dengan mendekap tubuh Darla.
"Grey, percepat laju mobil!!!" teriak James kepada Grey. Gurat kekhawatiran tergambar jelas diwajahnya saat ini. Belum lagi wajah Darla tampak pucat sekarang.
"Kau tadi makan apa?" tanya James menyelidik.
Darla enggan menyahut, malah menelusupkan wajahnya ke dada James, kemudian memeluk erat tubuh sang suami.
'Kenapa aku bodoh sekali, pasti Esme menaruh sesuatu di minuman ku tadi.' Batin Darla teringat jika ia meneguk minuman di pesta tadi.
'Apa James akan percaya padaku kalau aku mengatakan Esme ingin mencelakaiku." Darla diterpa dilema, mengira James sama seperti Eslin.
"Dear, mengapa diam?" James berbisik di telinga Darla. Berharap wanitanya mau berbicara.
Darla melonggarkan pelukan, kemudian mendongakkan kepalanya, menatap dalam pria yang membuat jantungnya selalu berdebar akhir-akhir ini. "Kau memanggil aku dear?" tanyanya.
James menangkup kedua pipi Darla, menatapnya begitu dalam. "Tentu saja, kau kan istriku."
Brak!!!
Entah datang dari arah mana. Sebuah mobil lain menghantam mobil James lagi, membuat kendaraan roda empat milik James berguling-guling di jembatan kini.
"Darla..." panggil James dengan memegang kepalanya yang terasa sakit. Melihat ke samping, Darla terkulai' tak berdaya dengan darah terpampang jelas di dahinya. James melebarkan mata seketika.
"Darla!" James hendak menyentuh tubuh Darla akan tetapi kakinya tiba-tiba di tarik seseorang dari luar.
Bugh!!!
Seorang pria berwajah Asia menendang perut James bertubi-tubi. James meringis pelan, seketika menyemburkan darah dari mulutnya.
"Hahaha!"
James melototkan mata, melihat Orlando mengangkat tubuh Darla ala bridal style. Nafasnya memburu, menahan gejolak amarah.
"Bedebah!!! Turunkan istriku!!!" jerit James dengan memegang perut sisi kanannya yang terkena pecahan kaca jendela.
"Haha, sebentar lagi dia menjadi budak *3** ku! Bermimpi lah!" sahut Orlando dengan memutar tubuhnya,berjalan cepat menuju mobil.
James hendak beranjak, akan tetapi anak buah Orlando menekan perutnya.
"Si@lan kau!! Lepaskan istriku!!!" jerit James membuat Grey yang berada di kursi depan membuka kelopak matanya seketika.