Mr. Mafia Meet Juragan Jengkol

Mr. Mafia Meet Juragan Jengkol
Di Bawah Sinar Rembulan



Sorot mata James sangat tajam, melihat kedekatan Darla dan Michael di ujung sana, ia sangat tak suka, entahlah, ada rasa yang mengelitik di palung hatinya, kala melihat Michael menyentuh tubuh Darla barusan. Sedari tadi pula tangan James bergeming di posisi semula, tampak dadanya naik dan turun, sedang menahan amarah.


"James!" panggil Laura untuk kesekian kalinya. Wanita itu mendengus pelan kala mengikuti arah mata James yang ternyata tengah memandangi Darla.


"James!!" Laura meradang, merasa James memiliki ketertarikan khusus pada maid itu.


"Jam–"


"Diam!!!" sela James dengan menaikkan suaranya hingga tujuh oktaf membuat Laura bungkam seketika. James menyentak kasar tangan Laura seraya melayangkan tatapan tajam. Membuat wanita itu terhuyung sesaat.


"James!!!" pekik Laura ketika melihat James malah pergi meninggalkannya seorang diri. Secepat kilat ia berlari mengikuti langkah kaki James yang lebar itu. Namun salah seorang bodyguard menghalang pergerakkan kakinya.


"Minggir kau!" murka Laura.


Mendengar keributan di luar. Grey berjalan cepat ke sumber suara, kemudian mengangkat satu alis matanya, tatkala melihat seorang wanita berwajah tak asing menjerit-jerit histeris setelah kepergian James tadi. Pria tua itu dapat menebak James tengah marah.


"Anda di larang menemui Tuan James, Nyonya!"


Laura mengalihkan pandangan matanya. "Kau siapa ha!?" tanyanya dengan nafas memburu.


Grey menunjuk dirinya sendiri. "Saya? Saya adalah orang kepercayaan Tuan James, dan saya sudah menganggap James sebagai anak saya," katanya dengan menampilkan wajar datar tanpa ekspresi.


"Hahaha, lucu sekali, mengapa semua orang di sini merasa tidak tau diri dengan statusnya?! Heh aku tidak peduli siapa kau! Yang jelas kalau aku sudah menjadi istri James, kau akan aku pecat!" teriak Laura membuat Grey hanya bisa membatin di dalam hati.


'Sayangnya Tuan James sudah memiliki istri, walaupun Nona Darla sedikit bar-bar tapi dia sopan padaku. Ckckckc, mengapa Nyonya Jane memilih calon menantu yang sifatnya kurang lebih sama seperti Esmeralda?'


"Dasar kakek-kaket tua renta!"


Laura mendengus kemudian berlalu pergi. Wanita itu hendak menemui Jane yang saat ini berada di lantai dua.


"Mama! Hiks, hiks, hiks, hiks...."


Mendengar isak tangis seseorang. Lantas Jane yang sedang bersantai di kursi pijat memutar kepalanya. Dahi Jane berkerut kuat melihat kedatangan Laura yang nampak kacau. Jane menegakkan tubuhnya seketika.


"Ada apa, dear?" tanya Jane penasaran.


"Mama, pembantu yang menyiram pakaianku tadi, menjambak rambutku tiba-tiba, saat James pergi ke ruangan pribadinya, Ma, dia juga menampar aku tadi." Laura berakting seapik mungkin berharap Jane dapat menghukum Darla. Dia sudah menabuh genderang perang pada Darla semenjak kejadian air minuman tumpah tadi.


Mendengar aduan Laura, Jane naik pitam. Dengan nafas yang memburu, ia menelpon Grey meminta pria paruh baya itu memecat Darla namun Grey menolak mentah-mentah perintahnya karena keputusan di tangan James.


Jane curiga mengapa harus meminta persetujuan dari James. Dengan lugas Grey menjelaskan bahwa Darla adalah salah satu maid yang direkomendasikan sendiri oleh James. Pria itu tentu saja berbohong karena tidak mungkin mengatakan kebenaran sebenarnya. Jane semakin marah dan kesal. Tak patah arang, ia pun pergi ke taman belakang hendak menemui Darla.


"Hei kau!!!"


Jane datang bersama Laura yang mengekorinya dari belakang. Darla yang tengah bermain bersama Diego menolehkan matanya ke sumber suara. Darla mengerutkan dahi, melihat kedatangan kedua wanita berbeda generasi itu dengan sorot mata yang seperti orang kesetanan. Ia dapat menebak ada sesuatu yang tidak beres.


Darla memilih menyibukan diri memanjakan Diego dengan mengelus perut binatang berbulu putih itu.


"Ada apa?" tanyanya tanpa menatap lawan bicaranya.


"Kenapa kau selalu mencari masalah ha?! Apa salah Laura padamu?!! Dasar tidak tau diri! Sikapmu seperti tidak diajari orangtuamu saja! Apa orangtuamu tidak mengajari sopan santun ha?! Atau jangan-jangan Mama mu sikapnya seperti dirimu!" Jane tersenyum sinis seraya melototkan mata.


"Cukup! Aku memang tidak di ajari mereka karena orangtua ku sudah meninggal!" Darla begitu sakit hati kala mendengar Mamanya yang sudah tiada di sebut-sebut.


Alih-alih menaruh rasa iba pada Darla. Jane dan Laura malah tersenyum lebar.


"Haha, astaga, rupanya kau anak yatim piatu, oh pantas saja kau menjadi babu, aku heran mengapa wajahmu mulus! Dari mana kau mendapatkan uang untuk perawatan, oh biar aku tebak jangan-jangan kau menjadi sugar daddy! Hahaha!" sahut Laura karena dia juga iri melihat paras Darla yang menurutnya cantik walaupun tanpa polesan make up sedikitpun.


"Ada apa ini?" Kedatangan James membuat Darla tak membalas ucapan Laura.


Laura berlari cepat menghampiri James, hendak memegangi tangannya, akan tetapi James menghentak kasar tangan Laura. Laura mengerucutkan bibir dengan tajam melihat penolakan James.


"James, my heart, pembantu si@lan ini menjambak rambutku dan menamparku tadi, coba kau lihat wajah ku ini," tutur Laura dengan mata memelas. Darla mengerlingkan mata ke atas mendengar bualan Laura barusan.


*


*


*


Sore menjelang malam. Langit yang cerah berubah perlahan menjadi gelap. Tak seperti biasanya tepat hari ini' sang rembulan bersinar terang di atas sana, menyinari kediaman milik James.


Di sudut-sudut ruang. Darla mondar-mandir di depan jendela. Wanita itu resah dan gelisah karena tadi siang mendapatkan hukuman dari James jikalau dia dikurung selama dua hari di atas menara. Darla menolak dengan melawan dan membela diri. Dia juga menjelaskan bahwa tak pernah menyerang Laura. Tapi James tak peduli dengan penjelasan Darla. Dan memilih menghukum dirinya.


Darla melihat ke luar jendela, mendongakkan kepalanya ke atas, mengamati tata surya yang berbentuk bulat itu sangat terang benderang malam ini. Helaan nafas terdengar pelan dari hidung Darla teringat kedua orangtuanya yang sudah berpulang pada Sang pencipta.


Hampir setiap malam Darla selalu menitihkan air matanya tanpa sengaja, kala teringat kejadian beberapa tahun silam masih membekas dibenaknya.


Sepasang mata bulat itu berkedip pelan memandangi bintang-bintang di atas sana. Darla melamun sejenak meratapi kehidupannya saat ini.


"Mommy, Daddy, Darla rindu, kalian baik-baik saja Kan di sana?" tanyanya dengan tersenyum tipis.


Ehem


Dehaman rendah di belakang tubuhnya berhasil membuat Darla terpaku di tempat. Dengan cepat Darla memutar tubuh.


Deg.


Jantung Darla hampir saja mau copot, melihat James tengah menatapnya dengan tatapan penuh arti. Darla tergugu, ingin bertanya tapi alam bawah sadarnya malah asik memandangi tubuh atletis James sekarang. Saat ini pria itu hanya memakai celana jeans. James melangkah cepat mendekati Darla yang masih terdiam di tempat.


"Darla, Grey mengatakan padaku kita harus sering making love agar penerus bisnisku cepat lahir ke dunia..." ucap James lirih.


Karena suara James yang tak nyaring, membuat Darla kebingungan sekaligus panik. Ia juga memundurkan langkahnya hingga sekarang pinggangnya menghimpit jendela.


" Apa katamu? James, bisa kah kau mundur sedikit." Gugup. Darla mendorong sekaligus menahan James dengan tangan kedua tangannya. Berharap tubuh pria itu tak menempel ke dadanya. Akan tetapi karena tenaga James yang lebih kuat darinya alhasil kulit keduanya saling bersentuhan sekarang, hingga Darla seperti tersengat aliran listrik.


Hening sejenak!


"James, lepaskan aku! Apa maumu ha?!" Darla memohon namun James mengindahkan perkataannya dan malah menarik dagu Darla, menuntun wanita itu agar melihat matanya.


Deg.


Sinar rembulan di atas sana membuat wajah James semakin tampan. Untuk sesaat Darla mengagumi paras James. Sementara itu nafas James memburu ketika melihat bibir ranum Darla yang nampak menggoda. Cukup lama keduanya terpaku dengan saling menatap satu sama lain.


"Jam–hmft!"


Kecupan mendadak berhasil membungkam bibir Darla. James mencium Darla tiba-tiba. Darla melebarkan matanya seketika dengan memberontak, akan tetapi James berhasil memperdayainya dengan mengigit kuat bibir Darla. Begitu ada celah, James melilitkan lidahnya ke lidah Darla tanpa memberinya jeda sedikitpun untuk bernafas.


Sadar atau tidak' Darla memejamkan matanya tatkala James semakin memperdalam ciumannya. Ia bingung dengan respon tubuh dan keinginan hatinya yang tak selaras. Lama-kelamaan Darla terbuai juga dengan permainan James yang sekarang tengah memegang tengkuknya. Kini suara ec@pan terdengar nyaring beriringan dengan suara nafas keduanya yang memburu kuat.


"James..." ucap Darla lirih saat James melepas pagutan. James menempelkan dahinya ke dahi Darla seketika, kemudian menatap lekat ke dalam dua bola matanya.


"Apa?" tanya James pelan.


"Aku membe–" Perkataan Darla menggantung saat terdengar ketukan pintu dari luar.


Tok, tok, tok, tok!


Mendengar hal itu James berdecak kesal sejenak."Siapa!?" tanyanya dari dalam ruangan.


"James, keluar kau! Laura ingin bertemu denganmu! Kalau kau tidak keluar, Mama akan dobrak pintu ini."


'Da@m!!'