
Berkat Jane kini Laura sudah dilepaskan. Wanita paruh baya itu begitu sedih mendapati Laura dalam keadaan yang menggenaskan. Di sekujur tubuhnya terdapat luka-luka tersayat dan lebam-lebam. Jane semakin membenci Darla karena ulah wanita itu James begitu tega menyiksa Laura.
"Laura, maafkan Mama," ucap Jane melihat ke arah Laura yang saat ini sedang terbaring lemah di atas sofa.
"Ma, aku sudah menelepon tim medis untuk ke sini, sebaiknya Mama bertemu orangtua Laura agar mereka tidak salah paham," kata Michael seraya melirik Laura sekilas.
Jane menoleh, kemudian berkata,"Oke, baiklah, Mama akan menjelaskan pada mereka, malang sekali nasibmu, Laura, ini semua gara-gara Darla!" Seketika raut wajah Jane berubah kala teringat kejadian beberapa jam lalu ketika Darla dan Laura bersitegang.
Michael mengerutkan dahi. "Ma, ini bukan salah Darla. Laura lah yang memulai semuanya, mengapa Mama malah menyalahkan Darla," protesnya seraya menggeleng pelan.
Jane mulai tersulut emosi kala mendengar ucapan anaknya. "Kau membela Darla?!" serunya dengan nafas yang memburu.
"Ma, aku tidak membela Darla, memang itu faktanya, Mama lupa, Laura yang datang-datang ke mansion langsung menampar Darla."
"Kau sama seperti kakakmu! Apa kau juga menyukai Darla ha?!"
"Sorry, aku tidak seperti James, aku menyukai Darla? Haha, hell no, dia itu hanya pembantu di mansion, dia bukan tipeku! Sudah lah, lebih baik Mama menemui orangtua Laura."
Perdebatan mereka terhenti kala terdengar bunyi sirine ambulance di luar sana. Dalam hitungan detik beberapa petugas medis masuk ke mansion dan segera melakukan tugas mereka.
Jane mendengus, tanpa banyak kata mengambil tasnya yang berada di atas meja. Seketika ayunan kakinya terhenti kala melihat James menuruni tangga.
"James, kau mau menemani mama ke rumah sakit mengantar Laura?" tanyanya karena melihat James mengenakan stelan jas berwarna hitam.
James menyeringai tipis, lalu memasukan ke dua tangannya ke saku celana.
"Anda sedang bercanda atau apa? Untuk apa aku mengantar Laura?"
Jane tergugu. "Nak, Laura kan calon istrimu," katanya dengan menyentuh lengan James yang kini sudah berada dihadapannya.
"James!" Jane mulai tersulut emosi ketika melihat sorot mata James menyiratkan tatapan hina.
Tanpa banyak kata James berlalu pergi meninggalkan Jane yang meneriaki namanya berkali-kali.
"Ma! Sudah lah, jangan memanggil-manggilnya, lebih baik Mama ke rumah sakit sekarang!" seru Michael seraya melirik Darla yang baru saja tiba di ruangan.
Melihat kedatangan Darla, Jane mendengus sejenak, kemudian melenggang pergi keluar hendak ke rumah sakit.
Selepas kepergian Jane. Michael bergegas mendekati Darla yang sedang sibuk mengelap meja kaca. "Hei, Darla," panggilnya dengan tersenyum genit.
Darla melirik sekilas kemudian melanjutkan pekerjaannya.
"Kenapa kau sangat seksi, Darla?" tanya Michael dengan seringai tipis terukir diwajahnya.
Enggan menyahut. Darla membalas dengan menggerlingkan mata ke atas.
"Darla, kau jangan terlalu sok jual mahal! Kau hanya lah babu di sini!" Michael meradang ketika Darla kembali mengacuhkan dirinya. Sebab baru pertama kalinya ia diperlakukan seperti ini oleh seorang wanita. Padahal sebelum-belumnya para wanita lah yang akan berbondong-bondong meminta disentuhnya.
"Kalau aku babu, memangnya kenapa?! Kau mau apa ha?!" Seketika Darla menghentikan gerakan tangannya.
Michael berdecih sejenak. "Cih! Kau memang pantas di tampar Laura, karena kau sangat menjengkelkan!"
"Menjengkelkan?" Darla terkekeh kecil, kemudian kembali berkata, "Apakah anda tidak mempunyai cermin di kamar? Ups atau jangan-jangan tidak punya! Sudah lah aku malas berdebat denganmu!" Malas meladeni Michael. Darla berlalu pergi dari hadapan Michael.
Mendengar hal itu, Michael mengepalkan kedua tangannya. Menatap dingin dan tajam punggung Darla sekarang yang menghilang di balik pintu.
'Cih, malam ini aku akan memberi mu pelajaran, Darla!'