
Sedari tadi Darla masih sibuk mengelap badannya. Dia bersungut-sungut kecil, teringat ekspresi maid tadi. Seakan memusuhi dan membencinya padahal dia tak pernah mencari masalah dengan siapapun di mansion. Darla menghela nafas tatkala jendela ruangan James terbuka dari luar. Dengan cepat ia berjalan menuju jendela ingin menutup jendela tersebut.
"Apa yang kau lakukan?!" Muka James merah padam melihat Darla yang ceroboh karena tak menyadari di luar ruangan sana para bodyguard tengah berkumpul dan berjaga-jaga.
Mendengar suara James. Darla menjerit histeris karena baru menyadari keberadaan James.
"Ahhhhhhhhhh! Kenapa kau ada di sini, bodoh?!! Keluar!!!" teriak Darla seraya bersembunyi di balik sofa.
"Kau yang bodoh?! Mengapa kau tidak melihat di sana ada bodyguard sedang memantau mansion, kau ingin dilihat mereka ha?!" tanya James dengan menutup cepat jendela ruangan lalu mencari keberadaan Darla yang saat ini sedang sibuk mencari kain untuk menutupi tubuh polosnya itu. Darla panik bukan main. Menerka-nerka, sejak kapan James berada di sini.
"Darla! Keluar kau!"
Mendengar panggilan. Darla menyembulkan kepalanya di belakang sofa.
"Kau gila atau apa ha?! Kau yang keluar sana!" Darla mengusir James sebab pakaiannya berada di dekat James saat ini. Tidak mungkin pula dia menyuruh James mengambil pakaian dalam miliknya.
"Tidak bisa! Kau harus keluar sekarang." Sepertinya James tidak sadar jika Darla tak memakai baju sama sekali. Pria itu malah mengepalkan tangannya membayangkan para bodyguard memandangi tubuh Darla barusan.
"Oh my God! James, aku –"
"Keluar sekarang atau Diego tidak aku suruh keluar dari kandang!" potong James cepat membuat Darla tanpa pikir panjang bangkit berdiri.
Deg, deg, deg, deg!
Jantung James cenat-cenut melihat dua bola semangka putih mulus terpampang nyata dihadapannya. Ular kadut milik James semakin tegak dan mengeras di bawah sana. Secepat kilat ia memalingkan muka ke samping.
"Darla, cepat pakai bajumu, kau harus mengajari Diego agar dia tak menyerang orang-orangku di mansion," pungkas James sembari keluar dari ruangan.
"Dasar pria aneh!" Selepas kepergian James. Darla mendelikkan matanya sejenak. Detik selanjutnya. "Ahhhhhh! James tadi melihat tubuhku!!!" pekiknya kala teringat jika sekarang ia tak memakai baju sama sekali.
"Dasar pria mesum! Pria gila! Pria psyo!! Argh!!!!" jerit Darla lagi hingga menembus dinding ke luar ruangan menyebabkan James yang berada di luar pintu menutup telinganya.
Dari arah selatan. Grey baru saja tiba melihat James berdiri dengan menyenderkan kepala di pintu.
Grey menunduk sedikit. "Tuan, ada seseorang yang ingin menemui anda."
James menghela nafas kemudian menegakkan tubuhnya. "Siapa?" tanyanya penasaran.
"Nyonya Drizela, Tuan."
James mendengus kasar karena harus berhadapan dengan salah satu teman bisnisnya yang serakah ini. Sebenarnya ia tak mempermasalahkan bisnis antar dirinya dan Drizela tapi dia tak menyukai sikap Drizela yang begitu agresif menurutnya. James tak enak hati karena suami Drizela sangat ia kenal. Walaupun dia tipe pria yang suka tidur dengan para wanita. James masih memilih-milih dan tak mau sembarangan berhubungan badan.
"Tuan." Grey menegur James yang tengah melamun sedari tadi.
"Iya, lima menit lagi aku akan ke sana."
"Baik, Tuan. Saya permisi dulu." Grey berjalan menuju lift hendak ke ruangan lain.
James mengangguk kemudian menempelkan telinga ke ambang pintu ingin mendengar suara Darla yang rupanya masih mengumpati dirinya dari tadi.
"Wanita ini selalu menyusahkanku," kata James kemudian berlalu pergi.
*
*
*
"Hai, James. Long time no see." Seorang wanita berambut pendek dan berwarna hitam bangkit berdiri, ketika melihat kedatangan James. Wanita itu menebarkan senyuman genitnya dengan menyelipkan anak rambutnya ke telinga.
"Hmm," balas James lalu langsung duduk di sofa yang berhadapan dengan Drizela.
"Kau semakin tampan James." Drizela hendak mendekati James.
"Oh my God! Kau sangat seksi, James. Oh come on, kenapa kau naif sekali. Aku hanya mau main bersama mu, aku dengar kau suka bercinta satu malam, aku bisa memuaskanmu James," sahut wanita yang umurnya sudah memasuki kepala empat itu.
James berdecih sejenak, kemudian mendengus kasar. "Apa suamimu tau tentang kebusukanmu ini?"
Bukannya menjawab pertanyaan James. Drizela malah menghampiri James dengan cepat. Membuat James terkejut sekaligus terpaku di tempat melihat keberanian Drizella. Secepat kilat wanita itu mengusap paha James lalu mengigit telinga kanan James.
"Wow, wow lihat ini!"
"Rawr!!"
Darla dan Diego baru saja tiba di ruangan bawah hendak ke taman belakang. Keduanya menatap jijik ke arah Drizela dan James secara bergantian.
Sedangkan James mendorong kasar dada Drizela. Sementara itu, Drizela ketakutan melihat Diego menatap tajam ke arahnya.
"Argh! James binatang apa itu? Cepat usir!" Drizela bangkit berdiri hendak bersembunyi di balik badan James. Akan tetapi James menyentak kasar tangan Drizela hingga wanita itu terjembab ke atas sofa.
"Seharusnya kau yang pergi dari sini!" James murka karena Drizela sudah di luar batas. Tanpa banyak kata Drizela keluar dari mansion ketika melihat Diego mengaum-aum kearahnya.
"Kau benar-benar pria mesum!" cerocos Darla selepas kepergian Drizela.
James menoleh, lalu berkata,"Kau bilang apa barusan?!"
"Pria mesum!" Darla terkikik senang seraya berlari dari hadapan James. Bak anak itik Diego mengikuti langkah kaki Darla.
Melihat tingkah laku Darla tanpa sadar James tersenyum tipis.
"Tuan, tersenyum." Untuk pertama kalinya Grey melihat James tersenyum tulus. Seketika James merubah raut wajahnya.
"Apa?! Grey, carikan aku satu wanita untuk menemaniku nanti malam." James berlalu pergi dari hadapan Grey yang mengira James akan berubah.
Malam menyapa. Suasana di mansion nampak sunyi dan senyap. Darla dan Diego masih asik bermain di taman bunga. Darla mengajari Diego agar tak menyerang manusia dan bersikap baik. Bagaikan sebuah sihir. Diego nampak mangut-mangut, mendengarkan penjelasan Darla.
Di sisi lain. James tengah menunggu kedatangan wanita bayaran untuk dijadikan pelampiasan nafsunya. Semenjak kejadian tadi siang, ia tak bisa melepaskan bayangan tubuh Darla yang menggoda dan mengiurkan itu. Jujur saja, walaupun Darla tak memakai baju seksi. Wanita itu sangat cantik dan menarik di mata James. Akan tetapi sifat dan sikap bar-bar Darla membuat James berdecak kesal setiap saat.
Selagi menunggu James menyesap kopi hitam di atas balkon seraya memperhatikan Darla dan Diego yang kini bermain di rumah kaca. Rembulan di atas sana menyinari seluruh mansion James. Dari atas pula dia dapat melihat rambut Darla berterbangan kala angin sepoi-sepoi menerpa rambutnya. Darla dan Diego berlarian ke sana kemari tanpa tahu jika keduanya tengah diperhatikan sang empunya mansion.
James meneguk lagi kopi hitam itu, kemudian meletakan cangkir di atas meja. Lalu melirik jam di atas nakas yang menunjukkan pukul sembilan malam.
Ceklek!
Bunyi pintu mengalihkan atensi James. Seorang wanita berpakaian kurang bahan yang berwarna merah maroon menyembul dari balik pintu. Wajah cantik dan bentuk tubuhnya yang aduhai membuat James berdecak kagum sesaat. Bibir sensualnya yang berwarna merah, senada dengan dres mininya membuat James tak tahan ingin mencicipinya segera.
James bangkit berdiri, berjalan perlahan menghampiri tempat tidur. Ia menyeringai tipis, melihat wanita itu sudah meloloskan pakaian atas dan hanya menyisakan kain berbentuk segitiga.
"Lakukan tugasmu!" James duduk di tepi ranjang sembari menuntun wanita itu berjongkok dihadapannya.
Wanita tersenyum lalu melepaskan ikat pinggang James. Kemudian dengan cepat menurunkan retsleting celana James. Seketika ular sanca milik James menyembul keluar membuat wanita itu menjilati bibirnya.
James menyeringai tipis, lalu mengarahkan kepala wanita itu dan berkata,"Puaskan aku malam ini!"
Wanita itu mengangguk, tanpa banyak kata memegang dan menjilati dedek gemes James seperti es krim. Secara bersamaan pula suara er@ngan rendah James terdengar. Pria itu tengah menikmati sentuhan lidah tornado milik wanita bayaran.
Selang lima menit. Wanita itu keheranan melihat ular sanca milik James tak tegak alias tidak on. James mulai tersulut emosi ketika wanita itu tak berhasil menghidupkan keperkasaannya. Yang ada ular sancanya malah meletoy. Hilang sudah mood James. Tiba-tiba dia menyentak kasar kepala wanita itu.
"Shfff..." ucap wanita itu dengan lirih. Dia terkejut sekaligus ketakutan melihat James marah padanya.
"Keluar kau! Bayaranmu hanya setengah saja! Grey akan membayarmu nanti! Pergi kau sekarang!!!"
Selepas kepergian sang wanita bayaran. James heran melihat ular sancanya itu tak dapat hidup seperti biasa. Ia menjambak kasar rambutnya. Gerakannya terhenti kala mendengar suara tawa Darla menggelegar di bawah sana. James menutup resletingnya dan berjalan menuju balkon, melihat Darla tersenyum kepada Diego. Aneh bin ajaib. Ular sanca James menegang seketika.
"Shiiit! Apa yang terjadi denganku?!"