Mr. Mafia Meet Juragan Jengkol

Mr. Mafia Meet Juragan Jengkol
Perjelas Status



Subuh menjelang pagi. Saat ini James tengah menatap lekat wajah Darla yang tengah tertidur dengan damai. Mata, hidung, alis, bahkan bibir Darla menjadi objek yang dilihat James. Pria itu menganggap Darla adalah wanita yang sangat cantik dan tidak membosankan di pandang. James tak menyangka bisa jatuh cinta kepada Darla. Ia bingung sejak kapan nama Darla terukir dihatinya. Perlahan tapi pasti nama Esmeralda mulai terkikis. Dia sangat penasaran apakah Darla masih mencintai dan mengharapkan Eslin untuk menjadi suaminya kelak.


Cup!


Cup!


James melabuhkan kecupan di kedua pipi Darla kemudian membawa Darla ke dalam dekapannya. James mengecup puncak kepala Darla lalu melirik jam di dinding hotel yang menunjukkan pukul enam pagi. Merasa masih pagi, dia mengatup kedua matanya kemudian mempererat pelukannya.


Tepat pukul delapan pagi. Kala merasakan kehangatan dari tubuh seseorang, Darla sedikit terusik. Ia pun membuka matanya dengan pelan.


Deg.


Darla sedikit terkejut, melihat James menatapnya dalam hingga membuat dirinya nampak salah tingkah.


"Kenapa kau menatapku seperti itu?" tanya Darla. Berusaha tenang walaupun sekarang dadanya berdegup kencang seperti gendang yang sedang di tabuh kencang.


"Memangnya tidak boleh, kau kan istriku?" James tersenyum penuh arti. Bagi James mengamati dan menilai tingkah laku seseorang adalah perkara yang mudah. Apalagi dunianya selalu bertemu orang-orang baru.


"Tapi kan–"


"Shfttt!" James menaruh jari telunjuk di bibir Darla kemudian menarik pinggang Darla agar lebih menempel lagi. Darla tersentak saat kulitnya bersentuhan dengan kulit James. Seperti sengatan listrik Darla terlihat kalang kabut saat merasakan akan ada penyerangan lagi. Apalagi sekarang ia dapat merasakan ular sanca milik James di bawah sana mulai menggeras.


"James, jangan, aku capek." Darla memelas agar James tak kembali mengajaknya bergulat di pagi ini. Sebab tubuhnya saat ini benar-benar remuk.


"Sebentar saja, tidak lama, setelah itu kita pulang, kita harus mengatakan tentang hubungan kita di depan Mama."


Tanpa mendengar balasan Darla. James memagut rakus bibir Darla dan mengulangi percintaan mereka lagi di pagi ini.


Setelah puas menuntaskan hasratnya. James pun mengajak Darla mandi dan sarapan terlebih dahulu di hotel. Menempuh perjalanan sekitar satu jam. Akhirnya James dan Darla tiba di mansion.


Belum juga memasuki mansion. James meradang melihat mobil yang sangat ia kenal terparkir di pelataran mansion. Siapa lagi kalau bukan mobil Laura. Ia sedikit bingung apakah wanita itu sudah pulih. Mengingat kejadian tempo lalu yang dia lakukan kepada Laura cukup parah. Tak mau menerka-nerka James pun bergegas masuk ke dalam. Darla mengerutkan dahi melihat perubahan raut wajah James tapi dia tak mau mengambil pusing. Memilih, mengekori James dari belakang.


"James, ini ada saudara kembar Laura, Nak!" Melihat kedatangan James. Jane beralih menatap James. Kemudian tanpa sengaja matanya bertubrukan langsung dengan mata Darla. Membuat Jane berdecak kesal sejenak.


James berhenti namun tak mengubris perkataan Jane. Ia melayangkan tatapan dingin kepada Jane. Sekarang James tahu apa yang sedang mamanya rencanakan.


"James, duduk lah kemari, Nak. Mama ingin memperkenalkan kalian. Dia yang mengganti kan Laura untuk menjadi calon istrimu!" Jane memberi kode pada saudara kembar Laura untuk berdiri dan memperkenalkan diri.


Dengan sigap wanita berambut dan berwajah persis seperti Laura, melemparkan senyuman kepada James. "Hai, James, nama ku Maura," kata Maura dengan suara malu-malunya.


James mendengus kasar. "Bukan seleraku, apa mama tidak bosan?" tanyanya dengan melirik Darla di samping tubuhnya.


"Astaga, James. Kenapa kau berbicara seperti itu? Maafkan putraku ya Maura, maklum dia belum bisa move on dari mantannya yang dulu."


Maura membalas dengan mengulas senyum sembari menyelipkan rambut ke telinganya.


'Pasti Esme, mantan James, hmm, menarik, dia putus dari James karena apa ya.' Monolog Darla yang mendengar juga perkataan Jane. Bagai orang bodoh dia berdiri tegap di hadapan Jane dan Maura.


"James! Jaga ucapanmu! Mama akan mencarikan jodoh untuk Michael, jika kau menikah duluan darinya," sahut Jane cepat.


James tersenyum sinis. "Asal kau tahu Nyonya Jane yang terhormat, aku sudah menikah!" Satu tangan James terulur menyambar tangan Darla. Lalu dia menggengam erat tangan wanita itu.


"Apa maksudmu, James?!" Jane merasa ada yang tidak beres apalagi melihat James dan Darla seperti sengaja mempertontonkan kemesraan padanya.


"Beberapa hari yang lalu, aku sudah menikah dengan Darla."


"Haha kau pasti sedang berakting, Kan, James?" tanya Jane walaupun dia sebenarnya khawatir jika informasi yang barusan di dengar adalah benar.


"Apakah wajahku terlihat seperti sedang berakting?" tanya James dengan melayangkan tatapan dingin kepada Jane karena perkataannya seperti dianggap candaan bagi Mamanya.


Jane tergugu, tanpa sadar mengepalkan kedua tangannya. Karena tak sudi memiliki menantu seperti Darla yang tak jelas asal-usulnya.


James menyeringai, kemudian beralih menatap Maura. "Hei kau! Pergi dari sini!" perintah James. Maura bingung, ingin berlalu pergi tapi Jane malah menahan tubuhnya.


"Maura tetap menjadi istrimu! Ceraikan saja wanita itu, James! Dia pasti menggodamu kan? Cih dasar pel@cur, hanya bisa menggoda saja, asal kau tahu, James, wanita ini semalam menggoda Michael!" seru Jane dengan nyaring.


James berdecih sejenak. Kemudian berkata,"Apa? Menggoda? Darla tidak pernah menggodaku! Kau percaya Michael digoda Darla? Oh come on, mengapa kau sangat bodoh?! Kau pikir aku tidak memeriksa CCTV?"


Nafas Jane memburu, melihat Darla saat ini tersenyum tipis padanya. Wanita paruh baya itu seketika menyentak kasar tangan Maura kemudian berjalan menghampiri Darla.


"Stop!" Melihat pergerakan tangan Jane. James seketika menangkis serangan Jane ketika dia ingin menampar Darla.


"Lepaskan mama James!" Jane menatap dingin ke arah Darla yang dari tadi terdiam membisu menyaksikan perdebatan di depan matanya. Darla pun bingung mengapa dengan mudah mengiyakan ajakan James untuk memperjelas status hubungan mereka. Padahal Darla tahu jelas jika James tak mencintainya dan hanya menginginkan anak darinya.


Bukannya melepaskan cengkraman tangan Jane, James malah mempererat cekalan tangannya, membuat Jane meringis pelan sejenak.


"James!!!" teriak Jane.


James menyentak kasar tangan Jane, hingga wanita paruh baya itu hampir saja terjatuh. Secepat kilat Maura menahan tubuh Jane. Sungguh kalau bukan paksaan dari kedua orangtuanya, Maura tak mau datang kemari.


"Aunty, baik-baik saja Kan?" tanya Maura.


Alih-alih menjawab pertanyaan dari Maura, Jane melayangkan tatapan tajam pada Darla.


"Dasar pel@cur kau! Sampai kapan pun aku tidak akan merestui hubungan kalian!" katanya dengan berapi-api.


"Jaga ucapanmu, Nyonya Jane. Aku tidak pernah meminta persetujuan darimu, lebih baik kau angkat kaki juga dari rumah ku ini."


Mendengar hal itu, Jane naik pitam, gurat kemarahan tergambar jelas diwajah keriputnya itu.


"Fine!" sahut Jane dengan mengepalkan kedua tangannya.