Mr. Mafia Meet Juragan Jengkol

Mr. Mafia Meet Juragan Jengkol
Bertemu Diego



"Tuan!" Begitu mendengar teriakan James dari dalam kamar. Grey yang baru saja sampai di depan pintu segera masuk tanpa mengetuk pintu kamar. Ia begitu terperangah melihat pakaian Darla dan James nampak berantakan dan mendapati dedek gemes James sepertinya di tendang barusan. Hal itu dapat dia lihat dari tangan James yang bertengker di bawah perutnya sedari tadi.


James melirik Grey sekilas seraya menahan rasa sakit yang mendera ularnya. Dia berusaha menjaga imagenya di depan Grey dengan menarik nafas panjang kemudian menghembuskan dengan pelan.


Sementara itu, Darla beranjak, kemudian merapikan pakaiannya sesaat. Dia tersenyum tipis kepada James yang tengah berdecak kesal.


"Bagaimana sakit Kan?" tanya Darla dengan menampilkan wajah smirk.


"Kau keterlaluan! Baik lah, kau yang meminta aku untuk menghukum mu!" seru James seraya melirik Grey. Mengerti dengan bahasa isyarat, Grey keluar dari kamar hendak ke suatu tempat.


"Hukum saja! Aku tidak takut!" teriak Darla walau sebenarnya ia takut mendengar ancaman James. Akan tetapi Darla menutupi ketakutannya dengan berkacak pinggang dihadapan James yang masih melindungi aset pentingnya.


"Aku penasaran, apa burungmu itu masih bisa digunakan sekarang?" tanya Darla membuat James merasa tersindir sebagai seorang pria.


"Apa kau mau mencobanya?" Kini James sudah tidak merasakan sakit lagi. Dia pun mendekati Darla seketika.


"Cih, sampai dunia kiamat pun aku tak mau merasakan ular pitonmu itu lebih baik kau test saja bersama wanita-wanita yang pernah kau katakan kemarin," kata Darla dengan tersenyum mengejek.


"Tuan!" Kedatangan Grey membuat James dan Darla menghentikan perdebatannya. Mendengar panggilan Grey, James menoleh.


"Iya," James berkata seraya mengambil sepuntung rokok di atas nakas.


"Semua sudah siap, Tuan, tinggal ke ruangan eksekusi, sepertinya Diego belum sarapan Tuan."


Grey melihat Darla dengan intens. Ingin mengetahui keberanian Darla jika sudah berhadapan dengan Diego, peliharaan James yang berbahaya dan mematikan itu. Grey penasaran mengapa Tuannya sampai-sampai memintanya membuka ruangan Diego setelah dua bulan tak James kunjungi. Grey keheranan semenjak bertemu dengan Darla. James lebih banyak berbicara.


Darla keheranan melihat Grey memandanginya dengan seksama. Lantas ia pun acuh tak acuh, hendak berlalu pergi dari kamar James.


"Darla! Siapa yang menyuruhmu keluar, ikuti aku sekarang, kita akan bertemu Diego. Kau mempunyai tugas baru." James melirik Grey sekilas kemudian meminta Grey untuk menuntun Darla, mengikuti perintahnya.


Grey mengangguk patuh.


"Nona, ikuti perintah James. Anda punya tugas baru, nanti anda akan makan setelah menyelesaikan pekerjaan ini," kata Grey kepada Darla.


Darla tergugu, merasakan ada yang tidak beres. Dia curiga jika James dan Grey merencanakan sesuatu untuk dirinya. Tak mau menerka-nerka Darla pun mengikuti perintah James.


'Apa lagi yang James rencanakan? Dia pikir aku takut!? Kau salah memilih lawan James!' Darla menggerutu di dalam hati sambil mengekori James dan Grey dari belakang.


Di sepanjang langkah. Darla mengernyitkan dahi, melihat para maid dan bodyguard nampak iba memandanginya.


'Mereka kenapa sih?!" Darla sangat tak suka tatapan yang dilayangkan maid dan beberapa bodyguard.


"Hei, lihat dia akan bertemu Diego."


"Iya, apa dia tidak takut?"


"Salah dia sendiri, Tuan James tidak akan menyuruhnya bertemu Diego jika dia tidak membuat masalah."


Ucap para maid dengan curi-curi pandang ke arah James dan Darla secara bergantian.


"Shffttt.. Diam!" Grey berseru lantang membuat maid yang bergibah tadi seketika terdiam.


'Memangnya Diego itu siapa?'Darla berbicara pada diri sendiri. Sejujurnya dia penasaran mengapa perkataan para maid membuatnya cemas.


"Ikuti aku dari belakang!" James mengangkat telunjuknya ke udara, memberi isyarat kepada Grey agar berganti posisi. Secepat kilat Grey menarik tangan Darla agar menempati posisinya.


Darla yang tengah melamun, tanpa sadar menggerakan badannya. Kemudian memeluk tubuhnya kala merasakan angin di lorong terasa dingin.


"Kita mau ke mana James?" tanya Darla ketika melihat James menekan tombol di pintu berganda besi.


"Jangan banyak bertanya?! Kita akan bertemu teman baikku." James mendekatkan wajahnya ke alat yang terletak di sisi pintu sebelah kanan. Seketika sinar dari alat itu mendeteksi retina mata James.


"Welcome Mister James." Terdengar suara dari balik pintu. Secara bersamaan pula pintu terbuka otomatis dari dalam.


Kepala Darla celingak-celinguk penasaran mengapa ada ruangan yang nampak berbeda dari ruangan lainnya.


"Silahkan masuk, Nona." Grey mempersilahkan Darla memasuki ruangan yang gelap itu. Tanpa banyak kata Darla menuruti perintah Grey, mengikuti langkah kaki James.


"Ruangan apa ini?" tanya Darla seraya mendongakkan kepalanya ke atas, mengamati ornamen-ornamen yang terdapat di dinding ruangan. Secara bersamaan pula bau aneh menyeruak ke indera penciumannya seketika.


"Ruangan Diego!" jawab James lalu mengambil rokok yang terselip ditelinganya.


"Diego itu siapa?" Darla tengah melihat James menyalakan pemantiknya dan menghadapkan ujung rokok ke api.


"Temanku, hari ini kau memiliki tugas memberikan dia makan." James menghembuskan asap ke udara membuat Darla memundurkan langkahnya karena tak mampu menghirup asap rokok.


"James, apa Diego sejenis binatang buas?" Darla menebak jika peliharaan James. Hal itu juga diperkuat bau anyir di ruangan tersebut.


Mendengar perkataan Darla, James dan Grey sedikit terkejut. James enggan menyahut, malah mengerutkan dahi melihat kandang Diego di ujung sana nampak kosong.


"Grey, kemana Diego?!" tanya James karena Diego tak nampak di pelupuk matanya.


Bukan hanya James yang keheranan. Grey juga terlihat kebingungan mendapati Diego tak berada di tempat. Padahal beberapa menit yang lalu, Diego masih duduk dengan tenang di dalam kandang.


"Cari Diego sampai ketemu, dan kau Darla bantu Grey menemukannya," kata James seraya mematikan rokok dengan menginjak cepat rokok itu.


"Tidak mau! Lagi pula itu bukan tugasku!" Darla berkata ketus membuat James mulai tersulut emosi.


Melihat muka James memerah, tanpa banyak kata Grey menarik paksa tangan Darla dan mengajaknya mencari Diego. Dengan terpaksa Darla menuruti perkataan James.


James menatap dingin punggung Darla di depan sana tengah menelisik keberadaan Diego. Pria itu menyeringai tipis, kemudian berjalan menuju sofa yang terdapat di ruangan.


"Diego itu binatang apa, Grey?" tanya Darla penasaran.


Grey melirik Darla sekilas. "Anda akan tahu sendiri nanti," katanya lalu kembali melihat ke depan.


Darla membalas perkataan Grey dengan memutar bola matanya ke atas, karena bertanya kepada Grey pun percuma. Lantas ia pun melanjutkan pencariannya dengan melihat ke segala arah. Seketika mata Darla melebar melihat jejak darah menempel di dinding ruangan.


Tiba-tiba dari arah kanan, seekor binatang berbulu putih dan besar berlari kencang ke arah Darla seraya mengaum nyaring. Secepat kilat Darla memutar kepalanya.


Deg.


Darla terkejut sekaligus terpaku di tempat melihat harimau berwarna putih mendekatinya.


"Diego!"