
James mendengus, melihat Laura di tarik paksa Grey menuju ruang eksekusi. Selepas kepergian Laura. James melangkah pergi ke kamar, hendak menemui Darla.
"Dear! Ini aku, buka pintunya!" James menghela nafas kasar saat pintu di kunci dari dalam. Tak terdengar sahutan dari dalam sana. James mulai frustrasi, teringat perkataan dokter tempo lalu yang mengatakan ibu hamil mengalami mood swing.
"Dear, percaya lah padaku, aku tidak tahu mengapa wanita gila itu ada di mansion!" serunya lagi berharap Darla dapat membalas ucapannya. James masih setia berdiri di depan pintu seraya mengetuk-etuk kuat pintu kamar.
"Darla!" Satu menit pun berlalu James mendesah kala Darla benar-benar marah padanya.
"Apa yang harus aku lakukan?" tanya James pada diri sendiri. Bingung bagaimana caranya membujuk Darla sekarang.
"Dear! Aku mau mandi, aku harus pergi bertemu seseorang membahas perkerjaan di suatu tempat!" Sebuah ide terlintas cepat dibenak James. Berharap Darla dapat mendengar permintaannya.
Ceklek!
Pintu terbuka seketika. James tersenyum tipis, tanpa banyak kata masuk ke dalam.
Bugh!
Bantal guling terbang ke atas wajah James tiba-tiba membuatnya terkejut. Sepasang mata elang itu melihat Darla dihadapannya tengah memandanginya dengan tajam.
"Pasti kau mau bertemu Laura kan? Mengaku saja! Pergi sana kau! Pergi! Aku tidak memerlukanmu!" seru Darla.
Jika pada umumnya pria yang mendapat perlakuan kasar dari istri akan marah. Tapi berbeda dengan James dia malah tersenyum sumringah. Menebak istrinya tengah cemburu dan berarti Darla sudah mencintai dirinya.
"Baik lah, aku akan menemui Laura," ucap James tersenyum jahil.
Nafas Darla memburu. Tak menyangka James selama ini berselingkuh bersama Laura. Secepat kilat dia mengambil bantal lagi, melempar bantal tepat di atas kepala James.
"Aku membencimu James!" ucap Darla seraya merebahkan diri di atas kasur. Kemudian menutup badan dengan selimut hingga ke muka.
James tersenyum smirk. "Hm, baik lah aku mandi." Kedua tungkai kaki James bergerak menuju kamar mandi.
"Argh! Awas kau James!!!" Darla terduduk di pembaringan setelah mendengar pintu kamar tertutup.
*
*
*
Sepuluh menit kemudian. James keluar dari kamar mandi dengan kondisi tubuh yang masih basah di bagian dada. Tampak buliran air mengalir di dadanya. Dia kebingungan melihat kamar nampak kosong.
"Dear? Di mana kau?" Saat ini James tengah mengelap rambutnya dengan handuk sambil berjalan-jalan di ruangan mencari sang istri.
"Kemana dia? Apa dia keluar?" James melirik daun pintu kamar sekilas.
"Dear! Finally! Kau darimana?" tanya James setelah melihat Darla menyembul dari balik pintu tiba-tiba.
Blush!
Kedua pipi Darla merah merona, melihat dada James yang seksi apalagi dia dapat melihat dengan jelas air menetes di dada James sekarang yang membuat suaminya semakin terlihat menggoda dan mempesona.
Secepat kilat ia menundukkan wajah. Saat ini jantungnya berdetak sangat kencang. Darla baru menyadari jika di dalam hatinya sudah terukir nama James.
"Dear, kau masih marah?" tanya James saat Darla tak mau menatapnya.
Enggan menyahut. Darla malah melangkahkan kaki mendekati James. Seketika dia memeluk James.
'Oh my God! Ada apa dengan diriku!?' Darla bingung ada apa dengan dirinya sebab beberapa detik yang lalu ia ingin memukul James tapi sekarang dia malah mendekap James.
"Pergi kau sana! Aku membencimu!" sahutnya tiba-tiba membuat James bersorak sorai di dalam hati.
"Baik lah aku akan pergi, tapi lepaskan dulu tanganmu," sahut James dengan menyeringai tipis.
Darla tergugu. 'Astaga ada apa dengan ku, hei tangan dan otak berkerjasama lah.'
"Darla, aku harus pergi sebentar lagi." James melihat Darla semakin mengeratkan pelukan.
"Tapi James, sepertinya anakmu menyuruhmu di rumah saja."
'Ada apa dengan mulutku ini?! Argh! Ini pasti gara-gara bayi di dalam perut ku ini, hai anakku yang tampan atau cantik itu berkerjasama lah bersama Mommy please, kita harus memberi Daddymu pelajaran.'
"Benar kah?" James melengkungkan senyuman sedari tadi melihat Darla menelusupkan wajah didadanya.
Darla mengangguk cepat.
'Whats! Mommy akan menghukum mu kalau kau sudah lahir nanti ya!' Darla heran sendiri ketika isi kepala dan keinginan hatinya tak selaras. Seharusnya dia menggeleng bukan mengangguk.
"Tapi ada syaratnya," ucap James tiba-tiba membuat Darla ketar-ketir seketika.