
James dan Darla mengalihkan pandangan ke sumber suara. Gurat kebingungan tergambar jelas di wajah mereka. Keduanya saling melemparkan pandangan satu sama lain sejenak.
"Cepat pak, tangkap wanita itu!" Jane menunjuk ke arah Darla sambil melayangkan tatapan dingin dan tajam padanya. Kedua polisi itu berbicara sesaat pada perawat yang sedang mengecek tanda-tanda vital Joseph, meminta izin untuk membawa Darla.
"Apa-apaan ini?! Kau gila atau apa?!" bentak James seketika membuat Jane terkejut.
"Tentu saja memasukkan wanita itu ke dalam penjara, James. Karena dia sudah meracuni papamu, mama mu ini tidak gila, James!" seru Jane berapi-api.
"Apa kau punya bukti?!!" Suara James memenuhi seluruh penjuru ruangan membuat perawat langsung menegur James.
"Maaf, Tuan dan Nyonya, selesaikan permasalahan kalian di luar, pasien harus beristirahat," kata perawat tegas.
Jane mendengus mendengar perkataan perawat, sementara James menghela nafas berat karena mamanya selalu main hakim sendiri. Ingin rasanya ia menampar mamanya sekarang namun melihat situasi yang tak kondusif, James mengurungkan niatnya.
"Lebih baik kalian pulang!" seru James. "Dan kau, Nyonya Jane, bukan kah sudah aku katakan tadi, jangan membuat masalah denganku! Apa kau lupa?" James mendekat, menatap mamanya dengan tajam.
"Tentu saja mama tidak lupa, James, tapi mama tidak perduli, gara-gara makan masakan Darla tadi siang papamu sakit." Jane melirik Darla sekilas.
"Jangan asal menuduh, bukan kah papa memang sudah tua, lagipula kau tidak punya bukti," tutur James cepat seraya memberikan kode pada polisi agar keluar dari ruangan sekarang jua.
"Hei, tunggu, mau ke mana kalian!" Jane berang sebab rencananya untuk memasukan ke penjara Darla gagal total. Kedua polisi itu enggan menuruti permintaan Jane ketika James melayangkan tatapan tajam barusan.
Jane mendengus sejenak kemudian memutar tubuhnya. "Ini semua gara-gara kau!" Secepat kilat Jane berjalan, mendekati Darla lalu mengangkat tangannya ke udara.
Plak!!!
Bukan Darla yang mengaduh kesakitan tapi Jane. Wanita yang rambutnya sudah memutih itu terlonjak ketika tangan kekar di atas ranjang menamparnya tiba-tiba. Siapa lagi kalau bukan Joseph, beberapa detik lalu, ia terusik saat mendengar suara Jane yang begitu nyaring, memekakan telinganya. Reflek dia langsung duduk di ranjang kala merasa Jane akan melakukan sesuatu yang buruk pada Darla. Sedari tadi Darla berdiri disampingnya.
Sementara James dan Darla melebarkan matanya, melihat Joseph terbangun cepat.
"Joseph, mengapa kau menamparku!?" Nafas Jane memburu, rasa sakit bercampur malu terpatri diwajahnya saat ini. Apalagi perawat yang melihat dia di tampar oleh suaminya, menutup mulutnya tanpa sadar. Tak mau berada di situasi aneh, selesai menaruh alat-alat medis di nampan khusus, sang perawat bergegas keluar dari ruangan.
"Kau memang pantas di tampar! Mengapa kau mau menampar Darla ha!?"
Lagi, lagi, Darla terkejut saat mendengar namanya di sebut mertuanya dengan jelas tanpa embel-embel 'wanita itu'. Sementara James heran mengapa papanya tiba-tiba menyebut nama Darla.
"Karena dia sudah meracunimu, Joseph! Membuat kau sampai sakit seperti ini! Dia pantas di tampar, wanita tidak tahu diri seperti dirinya tidak pantas menjadi menantuku!" jawab Jane.
Dahi Joseph berkerut hingga tiga lipatan. Keheranan, mengapa istrinya mengatakan dia di racun. Padahal kenyataannya tadi siang tanpa sepengetahuan penghuni mansion. Joseph mengendap-endap ke dapur, makan lagi semur jengkol buatan Darla sampai kalap. Menurutnya masakan Darla sangat lezat dan menggugah selera. Dia tak menyangka menantunya itu pandai memasak. Namun Joseph tak tahu makanan tersebut membuatnya buang air besar terus-terusan. Hingga ia bolak-balik wc belasan kali dan berakhir lemas di malam hari tadi.
"Sepertinya kau salah paham, Jane." Joseph menggaruk kepalanya sesaat, lalu melirik Darla dan James sejenak.
"Apa maksudmu?" Jane merasa ada yang tidak beres ketika melihat Joseph terlihat salah tingkah sekarang.
"Sebenarnya aku kebanyakan makan masakan Darla tadi siang, dia tidak meracuniku Jane, mulai detik ini jangan pernah kau menfitnah ataupun memukul menantuku itu!" jelas Joseph singkat membuat Darla melambung tinggi ke atas langit saat ini.
'Menantuku? Ah akhirnya berkat semur jengkol, mertua laki-lakiku berpihak padaku, haha rasakan itu nenek lampir!' Darla melemparkan senyum kemenangan kepada Jane seketika.